
Mike melepaskan pelukan. Dia pegang dagu Naya agar mendongak melihatnya. "Apa kamu yakin? Apa aku bisa pegang janji kamu ini?"
Naya mengangguk. Meski tidak yakin akan nasibnya setelah ini, tapi yang jelas dia ingin melindungi Jordan dan Mala.
'Sudahlah, lagian aku juga udah gak punya harga diri lagi. Gak ada jalan untuk balik.' Naya membatin. Dia memejamkan mata sembari berteriak lantang menyebut nama Ken dalam hatinya. Air matanya menetes lagi. Mike yang melihat itu jadi hilang selera dan melepaskan tangan dari dagu Naya.
Membalik badan, Mike pun mengambil kemeja hendak memakainya. "Apa kamu mikirin laki-laki itu? Kayaknya dia memang berarti. Jangan salahkan aku kalau dia ...."
Lisan Mike tak selesai karena Naya memeluk erat dari belakang. Mike bisa merasakan gadis itu membenamkan wajah di punggungnya. Rasanya ada yang dingin. Dia sadar kalau Naya sedang menangis.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Naya!" bentak Mike. Dia lepas pelukan Naya dan kembali melayangkan tatapan nyalang. "Kamu masih ...."
Lagi, lisan Mike tidka terselesaikan karena Naya mengambil langkah terlebih dulu. Bibir mereka saling bertemu.
"Kau!" Mike menggeram. Nanar matanya saat melihat Naya.
"Aku gak akan bertemu dia lagi. Kali ini aku janji," ujar Naya, lantas perlahan menurunkan ritsleting gaun.
***
Tibalah hari dimana Mike dan Naya pulang ke Indonesia. Mereka sudah disambut oleh Jordan dan Dina di bandara.
"Bagaimana perjalanan Anda, Tuan?" tanya Jordan sembari meraih koper Mike dan Naya.
"Luar biasa," sahut Mike. Senyumnya tersungging indah saat melirik Naya yang berada di sebelahnya.
Sementara Dina, dia melirik sinis ke Naya. Dia iri dan kesal. Selain diajak keluar negeri kini Naya juga terlihat cantik dan menawan dengan perhiasan berlian yang melingkar di leher dan lengan. Belum lagi gaun dan mantel mewah yang Naya kenakan. Jiwa iri Dina mulai meronta-ronta. Dia rangkul lengan Mike tiba-tiba sembari mengukir senyum manja.
__ADS_1
"Aku kesepian karena gak ada Tuan di rumah," ujarnya dengan membuat wajah jadi seimut mungkin.
Akan tetapi Mike tidak terpengaruh, dia melepas tangan Dina dari lengannya. "Jaga sikapmu. Kita di muka umum," ujar Mike. Wajahnya menunjukkan ketidaksenangan.
Namun, Dina seperti membuang rasa malu. Dia tetap menempel di dekat Mike. "Apa ada oleh-oleh untukku?" tanyanya lagi.
Mike yang sudah di bukakan pintu oleh Jordan jadi membalik diri. Dia melihat Dina dengan sorot mata dingin. "Gak ada oleh-oleh. Kalau kamu mau Jordan bisa membelinya. Butuh apa pun bilang saja sama dia. Jangan ganggu saya dengan rengekan kamu itu. Paham."
Mike langsung masuk mobil di susul Naya. Sementara Jordan juga sudah duduk di belakang kemudi. Teruntuk Dina, dia berdengkus sebal sebelum akhirnya masuk ke mobil. Sayangnya lagi-lagi Mike dengan tenang berkata, "Kamu duduk di depan saja. Di sini gak ada tempat buat kamu."
Sembari menelan rasa malu, Dina pun duduk di depan dengan wajah ditekuk sedemikian rupa. Dia makin kesal pada Naya.
'Sialan, gadis itu pasti ngehina aku dalam hati. Awas aja kamu. Pasti nanti aku bales,' batinnya.
Diperjalanan. Tidak ada yang bersuara. Dina yang awalnya gencar mencari perhatian jadi tak berkutik lagi saat mendapat penolakan tegas dari Mike. Dia hanya melihat perlakuan Mike pada Naya yang membuat darahnya berdesir hebat. Bagaimana tidak, Mike memangku Naya padahal tangannya serta mata hanya terfokus pada tablet.
Wajah Mike berubah drastis. Dia berdengkus sebal lantas menjawab, "Baiklah. Biarkan saja dia. Kami sebentar lagi sampai."
Mike melirik Naya sebentar lalu melihat pucuk kepala Jordan. "Berhenti Jordan," titahnya datar.
Tanpa bertanya lebih lanjut Jordan pun menghentikan mobil yang dikendarainya.
"Siniin dompet kamu," ucap Mike sembari menengadahkan tangan ke arah Naya.
Naya yang tidak mengerti tetap menurut dan menyerahkan tas tangan bermerek miliknya.
Mike mengernyit setelah melihat isinya. Hanya ada KTP di sana. Dia baru ingat tidak pernah memberi uang tunai untuk gadis itu. Mendadak dia merasa bersalah.
__ADS_1
"Ini, gunakan uang ini sesukamu," lanjut Mike sembari memasukkan uang seratus ribuan yang tak terhitung jumlahnya ke tas kecil itu. "Nanti Jordan akan bikin kartu debit khusus untuk kamu. Jadi sementara ini pakai tunai saja."
Naya mengangguk, dia dalam diam dapat menangkap sorot mata Dina dari kaca tengah mobil. Namun dia tidak peduli. Toh di sana status mereka itu sama saja, sama-sama mainan Mike.
Mike melihat arloji. "Sekarang baru jam empat. Jadi sekarang lebih baik kamu keluar."
Mata Naya langsung membulat. Sama halnya seperti Jordan. Pria Itu bahkan memutar kepala. "Tapi Tuan Muda ...."
"Gak masalah, Jordan. Aku tau apa yang kamu takutkan. Tapi itu gak bakalan kejadian," sahut Mike. Dia menyeringai dan menarik pinggang Naya hingga tubuh mereka kembali menempel.
"Kamu gak akan berani kabur, 'kan? Ingat, vidio kita ada di sini," bisik Mike sembari memperlihatkan ponselnya pada Naya.
Naya menahan ludah. Matanya makin nanar saja tapi tidak punya keberanian untuk berkata apalagi menolak.
"Jadi keluarlah. Pulang ke rumah nanti jam enam. Ingat, jam enam. Gak boleh lewat. Jadi kamu bisa ke mana saja selama dua jam ini. Ngerti."
Naya mengangguk. Mike pun mengusap pucuk kepala gadis itu sembari berkata, "Gadis baik. Sekarang turunlah. Dan kamu Dina, ayo duduk ke sini."
Dina dengan semangat mengiyakan. Dia berpapasan dengan Naya yang juga baru keluar mobil. Dia menyeringai ke arah Naya.
"Apa aku bilang, dia tetep butuh aku dan bukannya kamu. Jadi jangan terlalu berharap, ngerti kamu," bisik Dina, dia tersenyum jemawa, lalu dengan santainya menabrakkan bahu mereka.
Diam. Naya perhatikan mobil mewah Mike hilang dari pandangan. Tak lama kemudian dia menunduk lesu. Jalanan ini cukup sepi, tapi bukan itu yang membuatnya sedih, melainkan sudah tidak punya tujuan hidup lagi. Dirinya benar-benar sudah menjadi boneka yang lambat laun kehilangan semangat untuk hidup dan perlahan kehilangan senyuman bahkan suara.
"Hebat Naya. Sekarang kamu udah bisa keluar. Kamu juga punya banyak duit. Ayo semangat. Jangan terlalu sedih," gumamnya pelan sembari menyusuri bahu jalan.
Namun, tiba-tiba sebuah mobil yang agak familiar berhenti di depannya.
__ADS_1
"Naya, kamu ngapain sendirian di sini?"