Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Binal.


__ADS_3

"Tunggu Nona! Tunggu! Anda tidak bisa masuk tanpa membuat janji terlebih dulu!"


"Aku gak perlu itu! Apa kamu gak tau siapa aku?"


"Tapi tetap saja Anda tidak boleh masuk."


Terdengarlah suara keributan di balik pintu hingga Mike yang awalnya fokus mengecek beberapa berkas jadi terganggu. Dia tutup laptopnya lalu menatap daun pintu.


Bamb!


Pintu terbanting dan tampaklah orang yang tidak asing tengah menyeringai melihatnya. Orang itu bahkan dengan kasar mendorong Adit—sekretaris Mike—hingga terjatuh ke lantai.


Mike menatap tajam. Dia sandarkan punggung ke kursi kebanggaan dan menatap si tamu tak diundang tanpa berkedip.


"Maaf, Pak Direktur, dia memaksa masuk," ucap Adit.


Mike merespon dengan senyum kecil. Dia libaskan tangan—kode agar Adit pergi. Tentu saja Adit langsung undur diri dan membiarkan Mike seruangan dengan si tamu yang tak lain adalah Laras.


"Wah, kantor kamu luas juga, ya. Mewah," celoteh Laras. Dia memindai ruangan itu dengan mata berbinar. Tangannya juga membelai beberapa barang yang ada di sana, dari rak buku, lukisan, bahkan stik golf pun dia belai secara sensual.

__ADS_1


Mendekat perlahan, Laras yang tak berkedip saat mata mereka bersitatap langsung saja duduk di pangkuan Mike. Posisi mereka begitu dekat. Bahkan hampir tak ada jarak. Laras menyapu wajah tampan nan tegas Mike dengan sorot mata binal. Dia juga membelai dagu Mike yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Sekarang kamu banyak berubah, Mike. Kamu bahkan bisa membuat perusahaan ini jauh lebih besar. Kamu tau, dulu aku pernah di sana," ujar Laras seraya menunjuk sofa panjang yang ada di sana. "Tapi bukan duduk melainkan berlutut di lantai. Apa kamu tau kata-kata apa yang orang tua kamu katakan?"


Laras menjeda kata. Dia kalungkan lengannya ke leher Mike lalu mendekatkan wajah. Dia juga meniup tengkuk Mike sebelum akhirnya berkata, "Kamu cuma punya dua pilihan, Laras. Tanda tangani ini atau kamu dan keluargamu siap jadi gelandangan."


Mike bergeming. Dia sama sekali tak terpengaruh saat Laras menceritakan itu. Ajaibnya laras juga tak menangis. Sebaliknya, gadis itu beranjak dari pangkuan dan berdiri di belakang dengan tangan yang mulai merayap mengusap dada Mike yang terbalut jas hitam.


"Kamu pasti berusaha keras biar perusahaan ini maju. Aku salut sama kamu. Sekarang aku jadi pengen kamu. Aku makin terobsesi sama kamu," bisiknya ke telinga Mike lagi.


Namun lagi-lagi Mike tak merespon. Dia tetap melihat gelagat Laras yang kembali mengelilingi meja kerjanya, lalu tanpa permisi menekan salah satu remote yang ada di meja.


"Wow, di sini juga ada ruang pribadi. Apa aku boleh ke sana?" tanya Laras.


Mike kembali tak merespon. Dia hanya menatap Laras tanpa berkedip. Dia tenang, sangat tenang saat melihat Laras sudah terbaring di ranjang besar miliknya. Mike memindai Laras yang mengenakan pakaian serba pendek.


"Mike, apa kamu gak mau ke sini?" celoteh Laras lagi. Dia menyeringai, lalu menopang kepalanya dengan siku. Sesaat kemudian menggerakkan jari telunjuknya—kode agar Mike mendekat. "Kemarilah Mike ...."


Mike pun mendekat. Tangannya masuk ke dalam saku celana. Matanya begitu tenang memindai pergerakan Laras yang bisa dibilang sangat sensual. Tingkah binal itu membuatnya tersenyum sinis.

__ADS_1


"Untuk apa kamu ke sini?" ucap Mike akhirnya. "Apa kamu setuju dengan persyaratan yang aku katakan kemarin?"


Laras terpejam, menggeleng dua kali lantas menciptakan senyum yang jelas sangat mengerikan. Dia lalu berdiri dan mendorong Mike hingga terlentang di ranjang.


Mike sempat kaget. Namun memilih diam dan membiarkan wanita itu mengungkungnya.


Sekarang mata mereka saling beradu. Mike dengan sorot mata tenang sementara Laras terlihat buas. Dia bahkan tanpa canggung melepas dasi Mike.


"Kasih aku kesempatan, Mike. Aku bakalan manjain kamu kayak dulu. Setelah itu terserah kamu mau apa. Yang jelas aku mau kita bermain sekarang, gimana?"


Mike menyeringai. Dengan sekali sentakan dia sudah bisa menguasai Laras. Kini Laras yang berada di bawah kungkungannya.


"Sudah aku bilang, aku bukan lagi Mike yang bucin dengan anak pembantu. Walaupun kamu udah cantik, punya kuasa atau apa pun, aku tetap gak bakalan balik sama kamu. Kamu tau kenapa?" tanya Mike. Dia menyeringai.


"Karena aku udah nemu berlian. Dan dia lebih berharga dari kamu. Jadi pergilah jauh-jauh, Laras. Jalani hidupmu. Aku melepaskan kamu bukan karena sayang. Aku anggap ini kompensasi karena masa lalu kita. Jadi aku minta jangan cari perkara. Aku bukan laki-laki dermawan yang seperti artikel bilang. Aku Mike, gak ada yang boleh mengusik ketenanganku. Paham," lanjut Mike. Dia mengatakan itu dengan lirih tapi jelas penuh penekanan.


Mike pun beranjak dari ranjang seraya merapikan pakaian. Dia lihat Laras yang masih memperlihatkan smirk. "Pergilah. Aku masih banyak urusan."


Alih-alih mengiyakan, Laras justru terbahak. Dia berdiri di belakang Mike yang sudah berada di ambang pintu. "Apa kamu yakin wanita itu masih berfungsi? Apa kamu yakin wanita itu masih bisa disebut berlian?"

__ADS_1


__ADS_2