Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Burung dan bonsai.


__ADS_3

"Aku gak salah. Aku mengatakan kebenaran!" tampik Dina. Dia melotot tajam.


"Kau!"


Sungguh, Bella kembali mati kata. Dia langsung berteriak lantang dan mengutuk Dina berkali-kali.


Sementara Mike, kekesalannya sudah sampai puncak. Dia dekati lagi Bella dan menjambak rambut gadis itu "Kau ... kau benar-benar licik, Bella ...."


"Enggak Mike. Itu fitnah, fitnah. Dia berbohong ...."


Cengkeraman Mike makin kuat, erangan Bella pun makin terdengar pilu. Nanar Mike menatap mata Bella yang terpejam menahan sakit.


"Kamu tau aku, Bella. Kamu tau betul aku paling gak suka yang namanya dibohongi. Paling anti dengan yang namanya penghianat. Jadi, terima konsekuensinya," ujar Mike geram lantas melepaskan cengkeraman.


"Enggak Mike, jangan begini ... tolong percaya aku. Ini semua rencana pembantu itu."


Mike terdiam, terlihat angkuh. Tatapannya juga menghujam. Dia melihat Dina tak kalah sengit lalu mendekati Jordan dan berbisik padanya.


"Baik, Tuan. Saya paham," sahut Jordan.


Lekat Mike melihat Jeff dan Bella, lalu tanpa berkata meninggalkan mereka.


****


Esok harinya.


Tibalah waktu untuk Naya keluar dari rumah sakit. Dia duduk tenang di ranjang dengan pandangan tertuju lurus ke depan. Dia melihat awan dari balik jendela dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.

__ADS_1


"Mbak Mala, apa bedanya aku sama burung dalam sangkar?" tanya Naya tiba-tiba.


Tentu saja Mala yang tengah membereskan pakaian seketika berhenti bergerak, lantas lekat menatap Naya yang masih melihat keluar jendela.


"Aku ngerasa sama aja kayak burung dalam sangkar," timpal Naya lagi. "Aku mau bebas, Mbak. Aku mau nikmatin sisa umurku dengan senang-senang. Mbak tau, sejak kecil aku selalu membatasi diri. Dari uang jajan sampai cita-cita, dan sekarang ...."


Naya tertunduk lesu. Mala yang melihat itu mengembuskan napas panjang. Dia mendekati Naya, berdiri disebelahnya dan ikut melihat langit yang memang tengah cerah.


"Menurut saya Nona Naya bukan burung," sahut Mala sekenanya.


"Lalu?" Naya bertanya lagi tanpa menoleh Mala sedikit pun. Hatinya tengah tak menentu. Disaat ingin mati tapi tidak bisa. Sedangkan hidup pun rasanya tidak ada guna. Apa ini yang namanya mati segan hidup tak mau?


Hening ... senyap, keduanya duduk saling bersebelahan dengan pikiran masing-masing.


"Mbak, apa mungkin suatu hari nanti aku bisa bebas?" tanya Naya lagi.


"Aku mau lepas, Mbak. Aku gak mau dikurung dalam sangkar seumur hidup."


"Nona, Nona Naya bukan burung. Bagi saya Nona itu seperti bonsai."


"Bonsai?" ulang Naya, kini dia tak bisa tidak menoleh Mala. Lekat dia menatap Mala yang berpenampilan seperti bisa. Rambut disanggul dengan pakaian rapi serba hitam.


Naya mengerjap. Wajah tegas dan tenang Mala menyambutnya. Mala, adalah sosok kedua Jordan. Ramah, tapi jarang tersenyum.


"Iya, bonsai. Nona tau di rumah utama begitu banyak bonsai, kan? Tuan Muda sangat menyukai bonsai sejak kecil. Apa Nona percaya, bonsai yang ada di kebun belakang adalah bonsai miliknya sejak dia berusia lima tahun? Dia sendiri yang merawatnya."


Senyap, Naya tak berniat menjawab. Mau itu hobi atau kesukaan Mike dia tidak ingin ambil peduli. Satu yang dia tau, mau itu bonsai atau burung dalam sangkar tetap saja sama, sama-sama terkekang.

__ADS_1


"Lalu apa bedanya burung sama bonsai?" desah Naya. Dia murung seketika.


"Jelas beda. Mungkin Nona merasa tanaman yang dibonsai terlihat kesakitan. Keliatan gak adil, 'kan? Pohon yang harusnya tumbuh besar dan tinggi tiba-tiba dibatasi. Baik dari daun batang hingga tanahnya. Tapi Nona tidak paham tentang filosofi bonsai. Lagipula gak semua yang bebas itu baik, bahagia. Dan gak semua yang dikekang itu menderita," papar Mala.


"Ingat, burung diluaran gak selalu aman. Selalu ada pemburu, ada pemangsa dan lain-lain," sambung Mala.


Hening, Naya terdiam. Dia tidak tahu arah ucapan Mala. Namun, dia merasa Mala sedang menghiburnya.


"Oh iya, gak lama lagi ulang tahun Nona, 'kan?"


Naya tersentak. Matanya membulat tapi terpaksa tersenyum.


"Tuan Muda sudah merencanakan pesta besar untuk itu. Semoga Nona suka. Tapi untuk sementara mungkin dia gak bisa pulang. Dia ada perjalan bisnis ke Bali dan diperkirakan akan pulang sehari sebelum ulang tahun Nona. Kira-kira apa ada hadiah apa yang Nona mau?"


"Hmm itu ...."


Mendadak Naya mati kata. Dia mengerjap dengan tabuhan dalam dada yang menggila. Bukan memikirkan hadiah atau pesta. Dia hanya memikirkan nasib ketika hari itu tiba. Saat itu artinya dia harus siap menyerahkan mahkota berharga pada Mike tanpa adanya ikatan.


Menelan ludah. Naya lihat Mala yang masih menatap langit. "Mbak, Pak Jordan ke mana?" tanyanya. "Bukannya tadi ada di sini?"


"Jordan sedang mengurus administrasi. Jadi lebih baik sekarang kita bersiap," sahut Mala. Dia sudah berdiri dan kembali mengemas segala sesuatu.


Hening lagi. Naya hanya memperhatikan Mala yang sibuk berlalu-lalang di depan sembari berpikir keras bagaimana cara pergi dari sana.  Dia ingin sekali bertemu Ken.


Beruntung, dunia seperti mendukung. Mala tiba-tiba menghentikan pergerakan dan masuk ke dalam toilet.


"Kabur, ya aku harus pergi dari sini. Aku mau liat Kak Ken dari kejauhan untuk terakhir kali."

__ADS_1


__ADS_2