
"Jordan, cepat pulang! Ya, malam ini juga. Ada yang harus kamu lakukan sekarang!"
Mike mengusap wajah yang gusar dengan sebelah tangan. Dia tutup telepon dan kembali duduk di kursi tunggu. Pandangannya hanya tertuju pada ruang operasi yang tertutup.
Meraung kesal, Mike berdiri dan meninju dinding hingga keluar darah segar dari empat buku jari. Dia merasa marah tapi takut di saat bersamaan. Kondisi Naya benar-benar mengerikan saat tadi dia datang. Ada beberapa pecahan kaca yang menancap di punggung sebelah kiri.
"Siapa pun kamu, aku pasti bakalan bikin perhitungan. Kalau wanitaku sampai kenapa-kenapa, bersiaplah keluargamu juga gak bakalan lepas dari ini," gumamnya geram sembari menatap dinding yang sudah ada jejak darahnya.
"Tuan Muda," panggil seseorang dari arah samping.
Mike menoleh. Dia mendapati salah satu bodyguard berdiri di sana, lantas menyerahkan ponsel. "Ini rekaman CCTV yang Tuan Muda minta," lanjut orang itu lagi.
Tanpa bertanya lebih jauh, Mike pun menyambar ponsel itu. Darahnya mendidih. Dia bertekad akan benar-benar akan memusnahkan orang yang mengganggu hidupnya.
***
Beberapa jam sebelumnya.
Naya tersentak saat melihat Mike tiba-tiba melepaskan pelukan, padahal baru saja dia terlena. Bertatapan dengan Mike kali ini membuatnya nyaman, ah ... benarkah demikian?
Entahlah, intinya tidak ada paksaan, tidak ada ancaman dan tidak ada sorot mata kesal dan mengintimidasi. Dia melihat Mike lebih manusiawi malam ini.
Setelah Mike pergi Naya pun memutuskan kembali duduk. Matanya melihat langit-langit ruangan yang dihiasi lampu kelap-kelip. "Kak Ken ... aku harap di mana pun kamu berada kumohon baik-baiklah. Kamu laki-laki baik. Aku berharap kamu selalu sehat."
Tiba-tiba pintu yang tertutup terdengar berderit. Naya menoleh dan terperanjat saat melihat pria tinggi bertopi dan bermasker mendekat.
Alih-alih takut, Naya justru mendekat dan berdiri di depan pria itu. "Kak Ken. Kak Ken ke mana aja? Kak Ken hilang ke mana? Kenapa gak pernah sekali pun ngabarin aku? Aku khawatir."
Naya hapus air matanya lalu tersenyum. "Aku kira Kak Ken kenapa-kenapa. Syukurlah sekarang Kak Ken baik-baik aja."
__ADS_1
Aneh, bukannya menjawab, pria itu—Herry—menatap Naya tajam. Naya pun merasakan sesuatu hal buruk akan terjadi. Sontak dia memundurkan langkah menjauhi pria itu.
"Siapa kamu? Kamu bukan Kak Ken," ujar Naya. Dia terlihat waspada menatap orang asing tersebut. Dia bahkan tak sengaja menyenggol gelas hingga pecah dan berserakan di lantai.
Tanpa diduga Herry mengeluarkan sesuatu dari saku jaket. Mata Naya membelalak dibuatnya.
"P-pisau?" lirihnya. Dia mematung.
"Kenapa? Takut?" Herry berkata sembari membuka masker, mukanya yang tampan tampak penuh kemarahan menatap Naya, lantas secara cepat menusukkan pisau.
Naya meringis karena ujung pisau mengenai lengan. Darah segar bahkan bercucuran. Lukanya lumayan besar dan dalam.
Gegas Naya berputar melewati meja—hendak menuju pintu—tapi terjeda karena Herry menghentikan dengan menjambak rambutnya.
"Auh, sakit! Lepas! Lepas!" rintih Naya. Namun Herry justru mengabaikan. Dia menyeringai dan membenturkan kepala Naya ke meja.
Naya tak berdaya. Dia merosot ke lantai yang ada pecahan beling. Rasanya sakit di bagian kulit dan kepala. Dia bahkan bisa merasakan ada cairan keluar dan mengalir dari lengan dan mengenai pipi. Sekarang pandangannya semakin kabur.
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
Kini tidak hanya mata, telinga dan indra yang lainnya juga tak bisa beroperasi normal. Naya hanya bisa mengerjap pasrah, samar-samar melihat sepatu pria itu mendekat, lantas semuanya menjadi gelap.
Teruntuk Herry. Dia menyeringai dan menjambak rambut Naya hingga mendongak. "Kasian. Kamu terlalu lemah. Maaf, aku hanya mau Laras bahagia. Dan kamu menghalangi kebahagian dia."
Mata Herry berbinar melihat pisau. "Tenang Nona, kali ini hak akan ada yang berani menghalangi kebahagian Nona," gumamnya sembari tersenyum licik.
__ADS_1
Sayangnya saat Herry berancang-ancang akan menusukkan pisau ke leher Naya, tiba-tiba pintu terbuka. Gegas dia menutup kembali masker dan berlari melewati seorang pengunjung yang ada di pintu. Sebenarnya orang itu tengah mabuk berat. Dia hanya melongo melihat Naya yang tergeletak, lantas pergi begitu saja.
***
Melihat adegan demi adegan penyiksaan yang diterima Naya membuat Mike murka. Dia lempar ponsel itu ke lantai lantas kembali berdiri. Dia cengkeram kuat kerah jas sang bodyguard. "Cari si brengsek ini sampai ketemu. Lalu bunuh dia!"
"Mike."
Panggilan seseorang dari belakang mengagetkan Mike. Dia sontak menoleh dan mendapati seorang pria berseragam putih membuka masker. Gegas Mike menghampirinya.
"Bian, bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja, 'kan?" cecar Mike.
Bian terdiam sedetik, dia mengamati penampilan Mike. Teman yang terkenal kaku dan kejam sekarang tampak begitu berantakan—pakaian penuh noda dan aroma khas darah menyeruak dari sana.
"Dia baik-baik saja. Lukanya menang dalam tapi bisa sembuh. Tapi ....''
Bian menjeda kata hingga Mike yang sudah kadung kesal mencengkeram kerah kemeja Bian.
"Tapi apa? Katakan yang jelas!" bentak Mike. Matanya melotot dengan rahang yang mengeras.
"Lepasin dulu," dengkus Bian.
Mike pun melepaskan, tapi matanya menyipit tajam menunggu jawaban.
"Sepertinya dia hamil. Aku udah minta dokter kandungan buat memastikan. Jadi kita tunggu saja kepastiannya."
Bak tersengat listrik, Mike terdiam beberapa detik. Matanya bahkan tak berkedip sama sekali.
"D-dia h-hamil?" ulang Mike terbata. Dia tiba-tiba merosot duduk lemah di kursi lalu menyugar rambut sendiri dengan kasar. Setelah itu menunduk diam.
__ADS_1
"Lalu apa rencanamu? Bukannya kamu gak pernah mau menikah dan menjalin hubungan serius dengan perempuan mana pun? Lalu bagaimana nasib gadis itu? Apa kamu akan memaksanya menggugurkan kandungan?"
***