Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Berubah.


__ADS_3

"Dan satu lagi. Ada rahasia yang harus kamu dengar. Ini soal asisten kepercayaan kamu. Si Ken. Apa kamu mau tau kabarnya sekarang?"


Mendengar itu, Naya yang berada di dalam lemari menajamkan pendengaran. Demi apa pun, dia sangat ingin tahu di mana Ken dan bagaimana kabarnya. Tangan bahkan sudah gemetar, tak sabar menunggu lanjutan.


"Ken, laki-laki kesayangan dan kepercayaan kamu itu sudah mati. Aku yang membunuhnya. Jadi tolong jangan salahkan aku. Salahkan dia karena terlalu peduli sama kamu dan terlalu ikut campur."


Naya kembali menutup mulut. Air matanya menetes tanpa permisi. Dia bekap mulut sendiri agar tak terdengar suara tangisan. Sungguh, tak ada yang bisa dia gambarkan bagaimana hancur hatinya kali ini.


"Itu semua karena kamu, Burhan. Sekarang gak ada lagi yang peduli sama kamu. Baik Ken atau anakmu, mereka gak bakalan ada dekat kamu. Jadi nikmatilah kesendirian kamu mulai saat. ini. Jika gak bisa, lebih baik mati saja," lanjutnya lalu pergi.


Ya Tuhan ...


Air mata Naya makin meluruh banyak. Dia hanya bisa menahan semua. Ingin sekali menghancurkan Laura. Laura bukan manusia.


Perlahan Naya keluar dari lemari, mendekat lalu menatap Burhan yang kembali meneteskan air mata. Dia genggam tangan lelaki tua itu lalu menempelkan ke dahi.


"Apa kamu sedih? Apa kamu menyesal? Lalu apa yang mau kamu lakukan sekarang? Apa dengan menyesal bisa bikin hidup aku lebih baik? Apa dengan menyesal bisa bikin Kak Ken hidup lagi? Apa dengan menangis bisa memperbaikinya semuanya?" cecar Naya dia sesenggukan makin dalam.


Rasanya tak bisa berbuat apa-apa, tak mengerti juga harus bagaimana. Namun yang pasti dia ingin sekali menghancurkan Laura. Laura sumber masalahnya, Laura yang menyebabkan Ken tiada.


Terisak makin hebat, Naya merasakan hatinya nyeri. Orang yang disayang telah mati. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menangis. Mendadak dia menyesal. Menyesal kenapa tidak pergi seperti saran Ken dulu, kenapa masih saja berlagak pahlawan—mengedepankan hati nurani—padahal hidup sendiri penuh kesusahan.


Naya makin sesenggukan sebelum akhirnya sebuah tangan menyentak kesadaran.


"Nona, Tuan Muda menunggu Nona," ucap Mala. Dia prihatin tapi tetap tidak punya kuasa. Dia tuntun Naya agar berdiri.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri, Mbak. Mbak tolong panggil dokter untuk memeriksa dia," ucap Naya sembari melihat Burhan. Setelah itu pergi begitu saja.


Di kamar inap tempat dia dirawat ternyata Mike benar-benar sudah menunggu. Pria itu duduk dengan kaki menyilang dengan sorot mata tajam.


Naya yang tidak punya tenaga untuk berdebat akhirnya nyelonong tanpa menyapa. Dia terduduk di ranjang dengan posisi membelakangi Mike.


Tiba-tiba saja ada yang mengalungkan lengan di perutnya. Naya tersentak, tapi memilih abai karena tahu siapa yang memeluk, tidak lain tidak bukan adalah Mike. Percuma juga jika menolak.


"Kenapa mukamu sedih? Katakan siapa yang berani membuat wajah nyonya Mike jadi begini, hmm ...."


Naya seketika melepaskan pelukan, lalu menatap Mike begitu serius. "Apa kamu beneran mau kita nikah?"


Alis Mike naik turun. Meski bingung dia mengiyakan.


"Baiklah. Aku terima. Tapi ada syaratnya," lanjut Naya. Ekspresinya berubah semakin serius.


"Aku ingin kamu hancurkan Laura. Hancurkan sampai dia berada di titik paling menyedihkan sampai rela bunuh diri."


Genggaman tangan Mike seketik mengendur. Lamat dia menatap Naya sembari berpikir, apakah ini sungguhan? Apakah gadis yang ada di depan kali ini adalah Naya? Naya, si gadis penakut dan pengecut. Cengeng dan tidak punya ambisi.


"Kenapa? Apa gak bisa?" lanjut Naya.


Sedetik.


Dua detik.

__ADS_1


Tiga detik.


Mike terbahak-bahak. Dia bertepuk tangan. Matanya yang memang sipit hampir tak terlihat. Dia lantas peluk Naya dari belakang.


"Gak ada yang gak bisa Mike lakukan. Itu hal kecil Naya. Sudah lama aku menunggu kamu meminta ini. Sekarang kamu berubah. Kamu benar-benar berubah. Apa kamu yakin dengan permintaan ini?"


Naya mengangguk. "Tentu. Aku mau lihat dia hancur."


"Tapi kalau dia hancur, otomatis ayah kamu juga."


"Aku gak peduli."


"Lalu bagaimana dengan perusahaan. Pasti bakalan banyak pengangguran. Apa kamu tega?"


Kini Naya yang berada berhadapan dengan Mike seketika mendaratkan lumatann ringan. Mike terbeku, tapi belum juga sempat membalas Naya terlebih dulu menarik diri.


"Aku gak peduli dengan itu. Perusahaan itu mau bangkrut, atau berpindah tangan pun aku gak mau ambil peduli. Yang aku ingin, Laura hancur. Bisa?"


Mike kembali terbahak. Dia gerakkan tangannya hingga Jordan yang berdiri di belakang—dekat pintu—menghampiri.


"Jordan, kamu dengar apa kata dia, 'kan?" tanya Mike tanpa melihat Jordan yang berdiri di belakangnya.


"Iya, Tuan Muda."


"Kalau begitu susunlah rencana dan eksekusi segera. Aku gak mau bikin nona ini sedih. Jadi lakukan dengan baik dan sesuai pesanan.

__ADS_1


"Baik, Tuan Muda. Kalau begitu saya pamit."


"Baiklah. Urus semuanya. Tapi sebelum pergi suruh beberapa orang jaga di pintu depan. Jangan perbolehkan siapa pun masuk termasuk dokter. Kami masih ingin berdiskusi."


__ADS_2