Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Hukuman.


__ADS_3

Dup!


Jantung Naya seakan-akan berhenti berdetak. Di dalam selimut matanya terbelalak. Bagaimana tidak, Mike sudah berada di belakang dan memeluk dengan erat. Tak hanya memeluk dengan tangan, Mike juga memeluk dengan kaki seakan dirinya adalah guling limited edition. Berharga.


'Gimana ini? Apa aku pura-pura tidur aja? Gak gerak sama sekali. Tapi gimana bisa? Gak enak banget ini. Sumpah. Nenek ... tolongin ....'


Naya membatin terus. Di dalam selimut dia membatu—tak bergerak sama sekali—sembari menata hati dan menguatkan diri menahan panas dan pengap. Sungguh, dia tidak punya keberanian bahkan untuk menggeliat. Dia takut Mike benar-benar akan memakannya kali ini.


Lima menit


Sepuluh menit.


Setengah jam.


Hening.


Merasa tak ada pergerakan dari Mike, Naya pun memberanikan diri menyembulkan kepalanya. Benar saja, Mike sudah terlelap.


"Akhirnya ...."


Menghela napas lega, Naya dengan perlahan mencoba melepaskan tangan Mike dari perutnya dan berhasil. Saking gugup dia bahkan bernapas hanya beberapa kali.


Kini dia sudah duduk dengan nyaman dan sedang berusaha mengangkat kaki Mike dari kakinya. Bulu-bulu panjang agak jarang di betis Mike menyapa mata, tapi Naya tidak memedulikan. Dia sudah biasa melihat itu karena Mike pernah beberapa kali menyelinap masuk dan tidur di sebelahnya dengan hanya mengenakan bokser saja.


Pelan, sungguh pelan, Naya mengangkat kaki Mike. Akan tetapi usaha itu berhenti seketika ketika dirinya mendengar suara dehaman dari belakang.


"Kamu mau ke mana?"


Mata Naya melotot, perlahan dia palingkan kepala dan melihat Mike sudah menatapnya dengan sorot mata dingin.


"T-tuan, maaf. A-aku mau ...."


Belum juga Naya selesai menyelesaikan lisan Mike telah menarik bahunya hingga terpaksa mendarat lagi kasur.

__ADS_1


Hening. Mike kembali mengalungkan lengannya ke perut Naya dengan santai, lantas mendaratkan bibirnya punggung gadis itu.


"T-tuan ....."


"Tenanglah, aku gak bakalan ingkar janji. Jadi lanjutkan saja tidurmu," sahut Mike tanpa peduli Naya yang menggeliat tidak nyaman.


"Tapi aku gak biasa tidur kayak gini," jawab Naya, bibirnya bergetar sedikit. Takut Mike akan marah.


Namun, respon Mike justru tak terduga. Dia semakin mengeratkan pelukan. "Harus bisa, kalau kamu gak terbiasa aku bakalan lakuin ini setiap malam agar kamu terbiasa."


Naya berjengket. Dia ingin menolak tapi urung. Dia tahu Mike tidak suka penolakan.


"T-tuan kenapa tidur di sini?"


"Kenapa? Ini kan rumahku," balas Mike. Dia masih terpejam.


"Maksud aku kenapa masuknya jam segini?"


Mike membuka mata. Dia topang kepalanya dengan siku dan melihat wajah Naya. Dari posisi yang tidak pasti begitu dia dapat menangkap ekspresi Naya yang jelas tengah gugup. Namun, lagi-lagi itu yang membuatnya senang. Dia dekatkan kepalanya ke telinga Naya sembari berkata, "Apa kamu cemburu aku menghabiskan setengah malam dengan perempuan lain?"


"Apa kamu menungguku dari tadi?" lanjut Mike dengan berbisik.


Gegas Naya menggeleng. "Bukan. Bukan begitu. Aku tadi udah tidur tapi ...."


"Ho ... berani berbohong? Apa kamu lupa kalau kamar ini ada CCTV-nya? Aku selalu memantaumu Naya."


Naya terbeku, lidahnya kelu.


Miris memang. Semenjak masuk ke kehidupan Mike dia memang sudah tidak ada harga diri lagi, bahkan privasi saja tidak punya. Mike dengan tenang memasang beberapa kamera pengintai di kamarnya. Bahkan toilet pun tidak bisa lolos dari benda pengamat itu.


Hening, Naya yang gugup menahan ludah. Dia bahkan tanpa sadar menggigit bibirnya.


"Berani kamu ya, setelah bohong sekarang kamu malah menggodaku?"

__ADS_1


Naya terbelalak, sedetik kemudian menggelengkan kepalanya lagi. Dia bahkan semakin berkeringat dingin saat tangan Mike sudah menyentuh bibirnya.


"Ini. Ini buktinya. Kamu terus menggigit bibir. Bagaimana kalau aku bantu, pasti lebih enak."


Naya yang gemetaran refleks menutup mulut. Tentu saja gerak itu membuat Mike terbahak. Dia peluk lagi Naya dari belakang.


"Tenanglah. Demi janjiku sama kamu aku melampiaskannya pada orang lain. Jadi kamu jangan takut. Aku gak akan ingkar janji."


Mendengar itu entah kenapa Naya tidak tahu harus apa. Haruskah bersyukur karena Mike tidak mengambil keperawanannya malam ini, ataukah sedih karena jelas-jelas Mike melampiaskannya pada perempuan lain?


Hening lagi, Naya menghela napas panjang sembari memeluk erat selimut.


"Kenapa mukamu kaku begitu, kamu cemburu?" tanya Mike tiba-tiba.


Spontan Naya menggelengkan kepala. Lagi, gelagat itu memancing senyuman di bibir Mike. Pria itu bahkan mengecup pucuk kepala Naya.


"Aku peringatkan, kamu harus selalu ingat dengan kenyataan. Kamu hanya budak yang aku beli. Mau aku tidur dengan siapa kamu gak boleh berkomentar. Paham."


Naya mengangguk. Meski tidak berteriak tapi Naya tau arti kalimat itu. Singkat, padat tapi penuh penekanan. Mike telah kembali ke sosok awal—pria dingin.


"Lagian aku hanya memerlukan tempat untuk melepas hasrat biar gak pusing. Aku hanya butuh sekss biar rileks."


Naya terdiam. Dia benar-benar tidak paham arah pikiran Mike.


"Kalau itu kebutuhan kenapa gak nikah aja?"


Sontak Naya menutup mulut. Dia baru sadar kalau telah melampaui batas. Perlahan dia membalik diri dan melihat wajah Mike yang sudah kembali masam. Seringai khas pria brengsek pun sudah tercetak jelas di sana.


"Sepertinya aku sudah terlalu memanjakan kamu. Sekarang kamu banyak omong, ya."


Naya menggeleng horor. "T-tuan, tolong jangan ...."


Naya mengiba, matanya mulai berkaca-kaca. Namun Mike yang sudah diselimuti kekesalan tetap menyeringai licik. Dia cekal tangan Naya dan mengarahkannya ke atas kepala.

__ADS_1


"Kenapa? Takut? Jangan takut. Aku hanya akan memberikan hukuman kecil."


__ADS_2