Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Keluarga baru.


__ADS_3

Ken meraung kesal. Dia pukul terus setir mobil berkali-kali. Urat di kepala sampai terlihat nyata dan berdenyut. Dia benar-benar frustrasi.


"Aku harus ketemu Naya. Aku harus ...." Ken menjada kata. Dia tarik rambutnya dengan keras. Dia baru menyadari kalau ternyata selain menjadi saudara satu ibu dengan Naya, dia dan Mike ternyata dan adalah sepupu.


"Arh ... sial!"


Ken mengumpat makin nyaring. Dia saat sedang kacau begitu tiba-tiba saja masuk dua orang laki-laki berbadan tambun ke dalam mobilnya. Satu laki-laki duduk di sebelah dan satu lagi di belakang.


"Siapa kalian? Mau a—"


Belum juga selesai perkataan Ken, seseorang yang duduk di belakang membekap mulutnya dengan saputangan. Ken meronta sekuat tenaga, dia mencoba melepaskan tangan yang membekap mulutnya. Namun aneh, detik demi detik tenaga seperti menguap. Dia juga merasa kepala pening seakan-akan dihantam sebuah batu. Tak hanya itu, semua indra lumpuh seketika. Ken mengerjap, pandangan mulai tidak fokus hingga akhirnya ... gelap.


****


Di sebuah gudang terbengkalai tampak Broto dan beberapa antek-anteknya menuju ke sebuah ruangan. Ruangan kosong yang hanya ada Ken dan beberapa orang anak buah yang berdiri siaga menjaga.


"Bangunkan dia! Siram dengan air!" ucap Broto tegas. Dia yang bersetelan rapi duduk di kursi yang disediakan oleh sang bodyguard.


Ken yang tadinya pingsan refleks megap-megap kesulitan menarik napas. Air dingin satu ember telah mengguyur seluruh badan. Nyalang dia menatap orang yang ada di depan.


"Lepas! Apa mau kalian?" teriak Ken sembari meronta. Namun, sayangnya percuma saja karena kaki dan tangan sudah terikat di belakang kursi.


"Tenanglah ... tenanglah, Aston. Kenapa takut begitu?" sahut Broto. Dia menyeringai dan menyalakan rokok.


"Apa kamu tidak tahu kalau saya itu adalah ayah kandung kamu?" lanjut Broto lagi setelah mengembuskan asap dari mulut.


Ken terkekeh ironi. "Ayah? Yang benar saja? Saya yatim piatu!"


Broto berdecak lalu menggeleng dengan senyum meremehkan. "Kamu benar-benar anak didiknya Burhan. Keras kepala dan tidak bersyukur!"

__ADS_1


"Dan kamu juga tidak berhak mengatakan itu! Karena kamu juga sama! Kalian sama-sama brengsek. Dan kamu, kamu lebih parah. Bagaimana bisa kamu melakukan ini dengan anak kamu sendiri?" balas Ken dengan emosi menggebu-gebu. Dia sudah tahu perangai Broto, tapi tetap saja tidak percaya kalau ini yang dia dapatkan dari pria tua itu. Bukankah katanya mereka adalah ayah dan anak?


"Anak?" Broto terbahak nyaring. "Yang benar saja, saya tidak mau punya anak dari perempuan murahan seperti Eva! Dan kamu, kamu sama seperti dia! Tidak berguna! Kalian hanya sampah!"


Ken menggeram, dia meronta makin hebat. Sayangnya tak bisa apa-apa. Sungguh, ingin rasanya dia hajar Broto itu.


"Saya tidak pernah tau kalau Anda seperti ini Tuan Broto. Bagaimana bisa kamu menyebut istrimu sendiri seperti itu?"


"Istri? Ayolah ... jangan bercanda. Wanita saya bukan hanya dia. Tapi saya akui hanya dia yang tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih. Bagaimana bisa dia bermain hati pada Burhan? Cih!"


"Karena Anda tidak punya hati!"


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Ken. Seakan tak puas, Broto dengan beringas menambah satu kali lagi hingga keluarlah darah segar dari ujung bibir Ken.


Ken terkekeh, nyalang dia menatap Broto lalu meludah mengeluarkan darah tanpa canggung sedikit pun. Hampir saja mengenai sepatu Broto. Broto yang kesal kembali melayangkan pukulan di tempat yang sama.


"Dasar kurang ajar!" hardik Broto.


"Wajar, karena saya hanya menghormati orang tua yang lulus kualifikasi. Dan itu jelas bukan Anda!"


Lagi, tamparan mendarat di tempat yang sama. Ken terjatuh, wajahnya memang sudah memar menjadi lebih merah dari sebelumnya. Namun, dia tidak ingin merintih. Hatinya benar-benar mendidih.



"Kalian, bunuh dia! Saya tidak perlu anak. Saya tidak perlu keturunan karena mereka hanya merepotkan. Habisi dia!'' seru Broto dengan lantang.


Aneh, satu pun orang yang ada di sana tak ada yang beranjak dari tempat. Broto yang keheranan kembali mengulang perintah. Lagi-lagi tak ada yang merespon.

__ADS_1


"Heh kalian! Saya bayar kalian untuk melakukan apa yang saya perintahkan. Apa kalian tuli?" teriak Broto lagi hingga suara derap kaki menyita perhatian. Dia putar badan dan tampaklah Mike sedang berjalan mendekat dengan bertepuk tangan.


"Hebat ... hebat! Om memang hebat," ucap Mike. Dia menyeringai.


Sementara Broto, dia mulai limbung karena panik, apalagi saat banyak orang yang mengikuti Mike. Sungguh, dia mulai gemetaran.


"Mike?"


"Ya, ini aku Om. Kenapa? Gak suka kalau keponakan terbaikmu ini masih hidup? Atau ... kamu takut kelakuan kamu ini nanti dilihat orang lain? Tenang saja Om. Mereka gak akan melihatnya nanti karena mereka sedang menyaksikannya sekarang. Ini live, disiarkan langsung ke ruang konferensi kantor kita. Bagaimana, aku pintar, 'kan?"


"Apa?" Broto hampir kehilangan tenaga. Dia rampas kamera yang kebetulan ada di dekatnya berdiri, lantas membantingnya begitu kuat.


"Tenang Om. Kameranya gak cuma satu," papar Mike.


Broto melihat sekitar dan ternyata memang ada banyak yang merekam.


"Kau ...."


"Jordan," potong Mike. "Tolong tuntun Om Broto ke tempatnya. Pastikan dia selamat sampai kantor polisi."


Jordan mengangguk paham. "Baik, Tuan Muda."


Jordan mendekat. Namun, Broto dengan cepat menangkis tangan Jordan. Dia semakin panik saat banyak orang yang mengepung. Dia pegang tengkuknya yang serasa tegang dan tidak menyadari kalau ada sebuah batu bata yang ada di belakang. Broto yang hendak lari pun tersandung dan pingsan karena kepala membentur dinding.


Melihat itu Mike hanya tersenyum meremehkan. "Ck! Merepotkan. Angkat pak tua tidak tau diri itu!"


Sekarang Mike mendekati Ken yang terduduk di lantai, lantas mengulurkan tangan. "Selamat datang di keluarga Abraham, Aston."


__ADS_1


__ADS_2