
"Kak Ken, ini ... ini apa maksudnya?" tanya Naya.
Jujur, dia bahagia akhirnya borgol yang Laura berikan terlepas juga. Akan tetapi tak dipungkiri ada perasaan khawatir menyusup disela rasa bahagia itu. Terlebih lagi saat melihat ekspresi Ken saat ini.
Ken membenarkan posisi. Dia duduk bahkan hampir di ujung sofa dengan menggenggam tangan Naya. "Sebelum Bu Laura datang lebih baik Nona Naya pergi dari sini."
"Kak Ken ...."
"Lebih baik Nona sekarang bersiap." Ken tampak panik, dia melihat arloji di tangan lantas melanjutkan kata, "Nona punya waktu setengah hari untuk pergi dari sini. Dan ini ...."
Ken mengeluarkan amplop coklat yang terlihat agak tebal. Di atasnya ada kartu ATM berwarna hijau. "Dan ini ... ini isinya uang. Pakailah untuk Nona bersembunyi. Jika habis gunakan saja uang yang ada di ATM ini. Password-nya adalah tanggal lahir Nona. Saya sengaja pakai nama orang lain. Jadi tidak akan mudah dilacak."
"Kak Ken ...."
Mata Naya mulai berkaca-kaca. Dia memang ingin terlepas dari cengkeraman Laura, tapi jika tiba-tiba seperti ini rasanya tidak siap. Terlebih lagi saat melihat Ken. Pria itu terlalu baik meski terkadang menyebalkan di saat bersamaan.
"Kak Ken, sebenarnya ada apa ini? Kenapa tiba-tiba?" cecar Naya.
"Sebenarnya hari ini adalah hari terakhir saya bersama Nona. Selepas ini Bu Laura yang akan mengambil alih mengurus Nona," terang Ken.
Naya bergeming, shock. Bola matanya bergerak liar, tak lama mulai berkaca-kaca. Entah kenapa dia menjadi sedih, sangat sedih.
"Sebenarnya Bu Laura hari ini berniat untuk menjual Nona pada seorang pengusaha."
Pemaparan singkat Ken sukses membuat mata Naya membulat.
"M-menjual? A-apa maksudnya?" ulang Naya terbata. Dia ingin memastikan bahwa yang dimaksud Ken bukanlah hal buruk.
__ADS_1
"Tolong jelasin, Kak. Biar aku ngerti. Jual? Jual apa maksudnya?" Naya menjeda kata, dia telaah ekspresi Ken dengan seksama. "A-apa m-maksud Kak Ken kalau aku bakalan ...."
Naya tak mampu melanjutkan kata. Dia ngeri menjabarkan hal apa yang ada dalam kepala. Lamat dia menatap Ken, seolah-olah ingin meminta sanggahan.
Sayangnya Ken justru mengangguk. Gerakan kepala yang tak berarti itu sukses membuat Naya menitikkan air mata.
"Sebenarnya perusahaan dalam posisi sulit. Bisa dibilang hampir bangkrut. Dan Bu Laura berencana menjual Nona untuk menyelamatkan perusahaan."
Naya bergeming dengan air mata yang meluruh makin banyak. Dia menyadari kalau Laura bukanlah orang baik, akan tetapi tak pernah terpikirkan kalau Laura akan menjual dan memperlakukan dirinya seolah-olah adalah barang. Hati mendadak nyeri mengetahui kenyataan itu. Dia dimanfaatkan. Oh Tuhan ....
Ken yang merasa bersalah membasahi bibir dengan saliva, lantas berkata, "Jadi menurut saya lebih baik Nona lekas pergi dari sini. Pakai uang ini untuk sembunyi."
Ken kembali mendorong amplop cokelat ke arah Naya. "Tapi maaf saya tidak bisa mendampingi Nona. Saya akan mengatur semuanya di sini. Jadi saya minta Nona bergegaslah. Kemasi barang-barang Nona sebelum dia datang," papar Ken lagi. Terdengar penuh kecemasan.
Sementara Naya, bukannya mengiyakan dia justru menundukkan kepala. Membiarkan kesedihan mengalir dan menganak sungai. Setetes demi setetes membasahi lantai.
"Seberapa buruk kondisi perusahaan?" tanya Naya tanpa mau menatap Ken. Suaranya terdengar bergetar.
Naya menarik napas. Tabuhan dalam dada mulai melemah. Dia sungguh tak tahu harus berkata apa lagi menyikapi situasi yang mendadak pelik.
Mengangkat kepala dan menatap Ken nanar, Naya pun bertanya, "Siapa namanya?"
Ken tak menyahut. Dia menatap Naya begitu serius. "Nona ...."
"Siapa namanya?" ulang Naya, penuh penekanan.
Ken menghela napas panjang. "Namanya Mike Felix Abraham. Seorang pengusaha sukses di bidang real estate dan properti. Anak tunggal."
__ADS_1
Gantian kini Naya yang menarik napas. Bahkan lebih panjang dari sebelumnya. Dia hapus jejak kesedihan dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Berapa usianya?" tanya Naya lagi.
Ken tercenung. Dia tak percaya Naya malah ingin membahas Mike alih-alih kabur. Naya yang terlanjur kalut mengulang pertanyaan yang sama dengan nada sedikit tinggi.
"Usianya 33 tahun," balas Ken akhirnya. Tak dipungkiri dia sedikit terkejut dengan respon Naya.
"Jadi, Tante Laura ngejual aku buat dijadikan istri si Mike ini?" tanya Naya. Dia ingin memastikan.
Diluar prediksi, Ken justru menunduk lesu. Terdengar helaan napas yang begitu lirih mengikuti gerakan kepalanya.
Sementara Naya yang melihat gelagat dan mendengar ******* Ken sudah mendapat gambaran dan tentu saja hasilnya pasti buruk.
"Jadi aku dijual bukan untuk dijadikan istri?" Air mata Naya menganak sungai lagi.
Ken menggangguk. "Mike tidak berniat menikah."
Naya sudah menduga, tapi mendengar itu secara langsung berefek juga ke tubuhnya. Hati semakin mencelos, dia tersandar lemah di sofa. Tenaga serta kemarahan seketika menguap, yang tersisa hanyalah keputusasaan.
"Bu Laura menjual Nona pada Mike. Tidak untuk dijadikan istri tapi hanya jadi mainan. Seberapa lama dan seperti apa itu terserah Mike. Jika dia bosan dia berhak melepaskan Nona. Tapi jika dia tidak bosan dan menyukai Nona, sampai kapan pun Nona tidak akan bisa lepas dari dia."
Naya yang sudah tersandar lemah di sofa langsung terpejam. Melihat itu Ken jadi kasihan, dia dorong amplop cokelat semakin dekat pada Naya.
"Pergilah, Nona. Sisanya akan saya urus. Maaf, maaf kalau selama ini saya tidak membicarakannya. Saya tahu saya pengecut, tapi saya punya pemikiran sendiri. Saya berpikir menumbalkan satu orang tidak masalah asal ribuan karyawan di perusahaan terselamatkan dan tetap bisa makan. Tapi semakin ke sini saya semakin tidak enak hati. Saya salah. Tolong maafkan saya. Maafkan kekhilafan saya. Maafkan kelancangan saya yang berpikir cara Bu Laura adalah jalan satu-satunya," jelas Ken. Penuh penyesalan dalam setiap kata yang terlontar. Dia pegang kedua bahu Naya dan membantunya berdiri. "Jadi cepatlah pergi. Selamatkan diri Nona."
"Lalu gimana dengan Kak Ken? Apa Kak Ken bisa ngadepin dia?"
__ADS_1
Ken terdiam. Dia tahu Laura dan sepak terjangnya, tapi ....
Melihat keraguan di mata Ken Naya mulai menyadari sesuatu. Dia turunkan kedua belah tangan Ken dari pundaknya dan pergi masuk ke kamar tanpa berkata.