Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Jangan


__ADS_3

Naya manggut-manggut dan kembali nikmati makanan sebelum akhirnya sebuah cekalan dari samping sukses membuat gadis itu berdiri. Tampak seorang wanita dewasa berpenampilan glamor—gaun mewah berbalut mantel bulu—tengah menatapnya nyalang.


"Jadi kamu ****** kecil yang sudah ngancurin hubungan aku sama Ken?" tudingnya dengan mempererat cengkeraman. Naya sampai meringis kesakitan. Ken yang melihatnya tak membiarkan. Dia bantu Naya lepas dari genggaman yang tentu saja menyakitkan.


"Jaga bicaramu, Starla! Dia nggak ada sangkut-pautnya. Kita putus itu karena kita udah gak cocok lagi."


"T-tapi bagaimana bisa mendadak begini?"


Gadis yang bernama Starla itu menatap Naya yang berdiri ketakutan di belakang Ken.


Geram. Dia ingin menghajar Naya tapi terhalang Ken yang kembali menahan tangannya. "Sudah aku katakan. Dia ini nggak ada hubungannya dengan kita!" tegas Ken. Penuh penekanan.


"Lalu bagaimana kamu bisa dekat dengan dia?"


"Ini pekerjaan."


"Pekerjaan?" Starla tergelak meremehkan. Matanya menyipit memandang Ken. "Ayolah, Ken. Kerjaan apa yang menuntut kamu untuk makan berduaan begini?''

__ADS_1


Ken terdiam. Tidak mungkin dia menyebutkan kalau Naya adalah anak pengusaha yang sedang koma.


Melihat Ken yang tak menjawab pertanyaan semakin membuat Starla kesal. Dia kembali ingin menarik Naya tapi tetap dihalang oleh Ken.


"Pergi Starla," suruh Ken penuh penekanan.


"Pergi? Kenapa aku harus pergi. Kita selama ini baik-baik aja. Aku yakin ****** kecil itu udah sukses godain kamu. Iya, 'kan?"


Ken tampak mengetatkan rahang. Gegas dia merogoh ponsel dan memperlihatkan layar. Seketika wajah garang Starla berubah secara signifikan. Seakan-akan tidak ada lagi darah di sana. Pucat pasi dan Naya dapat melihat perubahan itu.


"Sekarang kamu tau 'kan alasan kita putus?" tanya Ken.


Tanpa ekspresi Ken menepis tangan Starla. "Aku punya banyak bukti, Starla. Dari awal aku udah curiga. Kamu memang berselingkuh. Jadi sekarang lebih baik kamu pergi sebelum kamu lebih malu lagi."


Naya yang ada di belakang Ken memberanikan diri. Dari samping dia bisa melihat wajah Ken. Meski tanpa ekspresi dia tahu kalau Ken tengah marah dan khawatir di saat bersamaan.


Starla menghapus air matanya, lantas menatap marah pada Naya. Tanpa berkata dia langsung berlalu membawa rasa malu. Dia harus menerima kenyataan kalau diputuskan padahal hubungannya dengan Ken baru hitungan minggu.

__ADS_1


'Dasar penyihir kecil. Aku gak terima dihina kayak begini. Tunggu aja. Kalau aku gak bisa dapetin Ken. Itu artinya kamu juga gak bisa. Awas kamu,' batinnya.


Sementara Ken yang sudah tak lagi melihat punggung Starla mulai membalik diri. Dia pegang pergelangan tangan Naya dan mendapati ada bekas memar dan darah segar.


Menghela napas panjang, Ken pun langsung menunduk segan. "Maafkan saya.''


"Nggak. Kak Ken gak salah, kok," balas Naya. Meski kulit perih karena terkena kuku Starla dia tetap tak bisa menyalahkan Ken. Ini hanyalah sebuah kesalahpahaman.


Tanpa Naya duga Ken justru membalut lukanya dengan sapu tangan. Sebuah tindakan yang entah kenapa membuat Naya merasa jantung  mulai berulah—bertabuh makin kencang. Dia tarik tangannya tapi Ken tak memperbolehkan.


"Sementara pakai ini dulu. Nanti di rumah kita obati," ucap Ken.


Naya hanya mengangguk sembari menunduk. Keduanya pun berjalan beriringan keluar dari mall. Namun, karena tempat parkir agak jauh, Ken meminta Naya untuk menunggunya.


Naya setuju, dia berdiri tenang sendirian sebelum empat pria datang. Pria-pria itu mengelilingi seraya memasang senyum ambigu.


Naya mulai gemetar, dia berniat lari tapi tangan keburu dicekal salah satu pria. "Mau ke mana, Cantik?" tanyanya. Tiga pria lain terkekeh.

__ADS_1


Naya menarik tangan. Dia memundurkan langkah. Matanya awas menatap empat pria itu secara bergantian.


"Kalian siapa? Apa mau kalian?"


__ADS_2