
"Bos ada yang datang?" ucap Juno kala melihat seorang pria muda keluar dari Pajero mewah berwarna silver. Dia yang berada di belakang kemudi melirik Mario yang ada di kursi penumpang. Jujur, dia menjadi sedikit gugup. Bagaimanapun dia tahu konsekuensi jika ketahuan melakukan penculikan. Kegugupan itu pun semakin kentara saat melihat Naya yang terus meronta meski mulut sudah dibekap kain.
"Bodoh! Apa yang kamu lihat. Cepat turun dan singkirkan dia. Jangan sampai dia ngeliat gadis ini," balas Mario dengan nada menggeram. Kini dia melihat Naya yang terus bergerak-gerak. Kristian bahkan seperti kewalahan memegangi.
Mario yang kesal dengan cepat mengeluarkan sebilah pisau lipat berwarna cokelat dari dalam saku. "Dan kamu, bisa tenang gak sih? Atau kamu mau benda ini nusuk leher kamu?"
Seketika Naya langsung mematung. Bagaimana bisa melawan jika ada benda tajam hanya berjarak satu senti saja dari leher. Namun, meski begitu dia sangat berharap pria yang ada di luar mau membantunya.
Sementara itu, Juno yang mengerti maksud Mario langsung turun dari mobil. Dia dekati sang pria asing yang telah mengetuk kaca mobil beberapa detik yang lalu.
"Ada apa, ya?" tanya Juno. Dia berusaha tenang dan bersikap biasa saja.
"Maaf ganggu, saya cuma mau nanya apa kamu punya korek? Saya mau ngerokok tapi koreknya ketinggalan," jawab orang itu dengan nada sopan.
"Korek?" ulang Juno. Dia berdengkus tapi dalam kekesalan tak dipungkiri dia juga mengucap syukur. Dia kira pria itu menyadari apa yang mereka lakukan.
Tanpa pikir panjang Juno pun merogoh saku celana dan menyerahkan korek api gas miliknya. "Nih, pakailah."
__ADS_1
Dengan senyum di bibir pria itu pun menyambut, menyulut ujung rokok dengan api, lantas mengisapnya begitu dalam. Tak berapa lama keluarlah kumpulan asap yang mengepul keluar dari hidung serta mulut.
"Makasih ya, kenalin aku Sean," ucap pria itu seraya memberikan benda milik Juno.
"Ya, enggak masalah. Aku Juno."
Anehnya, setelah itu bukannya pergi Sean justru bersandar tenang di salah satu bagian pagar rumah yang sudah tidak terurus.
"Kalau begitu saya permisi? Saya punya urusan." Juno berkata dengan nada sedikit berbeda. Terdengar jelas sedang tidak senang.
Alih-alih menjawab, Sean malah terkekeh. "Oh iya, kalau boleh tau mau kalian apakan gadis itu?"
"Kamu ngomongin apaan, sih? Gadis? Gadis apa yang kamu maksud?" sangkal Juno.
Mendengar itu Sean terkekeh makin nyaring. Dia lantas menatap Juno hingga membuat pria itu semakin salah tingkah.
"Tenanglah. Saya 'kan cuman nanya," balas Sean lagi tanpa ekspresi.
__ADS_1
Tentu saja gelagat itu makin membuat Juno kebingungan. Dahinya mengernyit apalagi saat melihat Sean membuka dompet dan mengeluarkan selembar kertas kecil berwarna putih.
"Apa ini?" tanya Juno.
"Ambil saja. Siapa tau berguna," balas Sean.
Tanpa pikir panjang Juno pun meraih benda itu. Seketika matanya membulat, terpampang jelas nama Sean serta jabatan—Sean Adipradana seorang pengacara.
"K-kamu ...." Juno terbata. Pria bertato itu semakin ngeri. Nanar dia menatap Sean, tapi anehnya Sean tetap dengan santai mengisap rokok.
"Lepaskan gadis itu," pinta Sean tiba-tiba.
"Kamu jangan gila. Apa maksud kamu? Saya gak paham. Dari tadi kamu bahas gadis? Gadis apaan? Mana gadisnya?"
"Jangan mengelak. Apa kamu mau masuk penjara karena percobaan penculikan?" sergah Sean. Sorot matanya tajam.
Juno terdiam. Dia makin gugup.
__ADS_1
"Di sana." Sean menunjuk mobilnya. "Di sana ada kamera dashboard yang bisa jadi bukti kejahatan kalian tadi."