
"Kamu punya mulut, 'kan? Kenapa gak pernah ngomong? Apa aku kurang baik? Aku selalu menanti perubahan sikap kamu. Ke mana sikap gadis berani yang ada di kafe dulu? Mau sampai kapan aku melihat kamu pasrah begini? Apa perlu aku pakai kekerasan baru kamu ngerti?" cecar Mike. Nada suaranya sudah tak lagi bersahabat.
Gegas Naya menggeleng. Dia tidak ingin membuat Mike makin marah.
"Maaf, aku gak akan seperti itu lagi. Aku akan berubah," jawab Naya pasrah.
"Bagus. Ini baru kesayangan Mike. Nanti pergilah ke spa. Persiapkan diri untuk nanti malam karena kita harus pergi ke suatu tempat."
"Baiklah."
Mike tersenyum. Dia mendaratkan kecupan ringan di bibir Naya. Sekarang jarak wajah antar keduanya begitu dekat.
"Apa aku pernah bilang kalau kamu sekarang semakin cantik?"
Mike sengaja melirihkan suara, dia lalu berdiri tegak dan menyeringai. Anehnya saat hendak melangkah pergi tiba-tiba Naya menghentikan. Mike sampai speechless tak percaya, alisnya bahkan naik sebelah.
"Kenapa? Apa mau minta lebih?" goda Mike sembari melirik sebentar tangannya yang sudah digenggam Naya.
Gegas Naya menggeleng, dan lagi-lagi gelagat itu membuat Mike makin gemas. Dia kembali membungkuk dan mengapit pipi Naya dengan dua belah tangan. "Katakan, ada apa?" tanyanya, tatapan itu begitu teduh.
"Apa sebelum ke spa aku boleh ke rumah sakit?"
"Ke rumah sakit? Mike menyelidiki raut muka Naya, lantas kembali berkata, "Apa kamu mau menjenguknya?"
Ragu-ragu Naya mengangguk. Meski belum bisa memaafkan ayah kandungnya, tetap saja dia ingin melihat meski sebentar.
Mike tampak terdiam. Lamat dia menatap Naya yang mendongak melihatnya.
"Aku hanya sebentar dan gak bakalan macam-macam," ujar Naya lagi.
"Baik, pergilah. Jangan lama-lama."
__ADS_1
Naya mengangguk bahagia. Mike yang melihat itu semakin speechless. Naya bagai dewi di matanya. Hanya saja terlalu penakut.
'Sumpah demi apa pun aku gak bakalan pernah lepasin kamu. Kamu milikku, Naya. Aku akan buat kamu kuat. Kamu wanitaku, gak akan aku biarkan siapa pun menindasmu.' Mike bermonolog. Dia menyeringai lalu pergi dari sana.
***
"Nona Dina, ini sarapannya," ujar seorang pelayan paruh baya. Dia meletakkan semangkuk bubur hangat di nakas dengan perlahan. Tiba-tiba saja tanpa di duga Dina menjerit nyaring dan membanting mangkuk itu hingga pecah dan tumpah.
"Nona Dina!" hardik Mala yang ada di belakang pelayan itu. Dia mendekat ke sisi ranjang dan melihat Dina yang seperti orang gila. "Apalagi kali ini? Nona sudah melakukan ini tiga kali. Apa Nona tidak lapar?"
Tegas, penuturan Mala membuat Dina yang kacau—rambut berantakan dan mata sembab—mendongak.
"Apa ada yang mau Nona makan? Kalau iya tolong sebutkan," lanjut Mala sopan tapi jelas raut muka memancarkan kekesalan.
"Aku gak mau makan! Aku mau dia! Ke mana dia? Kenapa sekali pun gak pernah masuk ke sini? Apa dia gak liat aku parah begini karena mantannya?" cecar Dina. Dia tampak menggeram.
"Tuan muda Mike sudah ke kantor. Dia sibuk dan tidak sempat ke sini. Jadi tolong kerja samanya. Makanlah ...."
"Aku gak bisa biarin ini, Mbak. Bagaimana mungkin dia mengabaikan aku padahal aku udah kasih segalanya? Aku mau dia peduliin aku. Kasih aku waktunya barang sebentar. Kasih aku kasih sayangnya."
Mala menghela napas menahan kesal. Baru kali ini bertemu perempuan tidak punya malu seperti Dina. Padahal hanya simpanan, tapi gayanya sudah seperti nyonya rumah.
Mengembuskan napas makin panjang, Mala pun berkata pada Dina yang makin terlihat kacau. "Saya akan minta pelayan untuk membuat bubur yang baru. Kalau begitu Nona Dina lebih baik istirahat. Saya pamit."
Sepeninggal Mala, Dina kembali histeris. Wajah yang lebam dan tulang yang ngilu tak lantas membuatnya merasakan sakit. Saat ini hatinya yang paling sakit. Mike sama sekali tidak melihatnya. Hanya dokter dan para pembantu yang berlalu-lalang mengurusnya di kamar itu.
Mendadak pikiran yang kacau flashback ke beberapa waktu yang lalu. Waktu Naya dirawat di rumah sakit. Dia ingat betul betapa pedulinya Mike pada gadis itu.
"Ngak, ini gak bisa dibiarin. Aku harus ketemu dia. Aku harus ingetin dia kalau hanya akulah wanitanya. Hanya aku yang pantes dekat dia dan bukannya Naya. Ya, aku harus ke sana."
Meski tertatih Dina pun akhirnya bisa berdiri. Dia ganti baju dan membulatkan tekad ke kantor Mike.
__ADS_1
Tibalah di tempat tujuan—Abraham Group. Dina yang memakai masker, topi hitam dan baju lengan panjang mendongak melihat betapa menjulangnya gedung itu. Keindahan yang membuatnya nekat ingin mendapatkan Mike.
"Aku harus bisa jadiin dia milikku. Aku gak boleh kalah dari gadis ingusan itu," gumam Dina. Dia menyeringai.
Namun, senyum jahat itu sirna saat sebuah notifikasi pesan tertangkap netra. Alisnya bahkan mengernyit hebat saat melihat pesan dari nomor baru. Di sana juga tertera sebuah alamat.
[Datang ke sini ini. Ini rumah yang saya hadiahkan buat kamu. Pergilah lebih dulu. Nanti saya menyusul. Dari kekasihmu, Mike.]
Dina refleks menjerit, dia berjingkrak-jingkrak lantas menahan taksi.
***
Nah loh, Mike beneran kasih Dina rumah?
Visual Dina.
Jordan.
Mala.
Laras.
Dah lunas ya visualnya. heheh.
__ADS_1
btw like Jangan lupa. Ketemu besok lagi.