Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Jawab!


__ADS_3

"Selamat pagi ...."


Sapaan serentak beberapa orang yang berbaris di depan pintu membuat Naya hampir saja terjatuh. Nanar dia melihat orang-orang yang menunduk segan. Tak berapa lama seorang pria paruh baya yang dia lihat semalam, mendekat.


"Selamat pagi Nona Naya. Perkenalkan, saya Jordan. Saya asisten pribadinya Tuan Mike."


Naya yang rada shock hanya menganggukkan kepala.


"Tolong ikut saya, Nona. Tuan Muda sudah menunggu Anda di meja makan."


Lagi, Naya hanya bisa mengangguk. Dia ikuti langkah Jordan dan barisan wanita berseragam juga mengikutinya. Jujur, dia bingung jika harus berhadapan dengan Mike. Dia sungguh tidak tau tujuan Mike. Semalam, pria itu memaksanya mengganti baju di depan matanya, lantas pergi tanpa bilang apa-apa.


Tibalah di meja makan. Di sana sudah ada Mike yang tengah mengunyah makanan. Dia terlihat begitu serius menatap layar ponsel yang ada di tangan kiri. Aneh, pria berusia 33 tahun itu seketika melepaskan kesibukan dan mengukir senyuman saat Naya mendekat.


Teruntuk Naya, dia hanya pasrah saya ketika merasakan kengerian menjalari badan. Sumpah, senyuman dan tatapan Mike benar-benar sudah seperti predator yang siap menerkam.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Naya sembari menundukkan kepala.


Mike berdeham. "Duduklah. Kita sarapan."


Naya mengiyakan dan duduk setelah kursi ditarik oleh Jordan. Dia duduk dengan anggun dan memakan roti isi yang sudah tersedia di atas meja.


"Oh iya, saya akan pergi ke Singapura siang ini. Dari kantor saya akan langsung ke bandara. Jika perlu sesuatu minta saja pada Jordan. Dia penanggung jawab. Di sini juga ada sekitar dua puluhan pembantu. Jadi, jika butuh apa-apa minta saja sama mereka." Mike berkata tanpa melihat Naya. Dia seruput kopi lantas meletakkan benda yang ada di tangan. Lekat dia melihat Naya yang terlihat serius mengunyah makanan.


"Tapi ingat, kamu jangan berpikir untuk kabur. Kalau kabur, kesepakan yang saya buat dengan Laura bisa saya cabut kapan saja. Lalu apa kamu tau apa yang bakalan terjadi sama Rain Company?" Mike menjeda kata, dia tersenyum miring saat Naya menatapnya serius. "Bangkrut, bisnis keluarga itu pasti bangkrut. Saya juga gak bakalan lepasin orang yang berhubungan dengan kamu. Termasuk Laura dan asistennya. Mereka akan saya hancurkan. Ingat itu baik-baik," lanjut Mike penuh penekanan.


Sementara Naya, dia hanya menelan ludah dan membasahi bibir yang bergetar dengan saliva. Dia tidak peduli dengan Laura, tapi Ken ....


'Kak Ken. Aku kangen ....'

__ADS_1


Naya membatin. Dia merindukan pria itu dan terus terbayang-bayang. Dia ingin sekali melihat Ken yang dingin, Ken yang tak punya ekspresi, Ken yang selalu tegas tapi baik hati dan peduli.


"Satu hal yang juga harus kamu tanam dalam otak kamu. Kamu sekarang bukan lagi Naya yang dulu. Kamu itu budak dan saya tuan kamu. Jadi lupakan dunia luar, teman atau siapa pun itu," lanjut Mike lagi.


Naya menaik-turunkan kepala dengan diikuti embusan napas resah.


Hening. Naya kembali mengunyah makanan tanpa menikmati. Di saat sekarang makanan seenak apa pun tetap terasa hambar. Dia bingung, tak henti berpikir keras sejak semalam. Dia memang telah di jual, statusnya di sana juga hanyalah budak, dan ancaman Mike barusan membuatnya ngeri.


Anehnya Mike tetap memberikan perlakuan istimewa. Apa mungkin maksud Mike menjadi budak bukanlah budak yang sebenarnya seperti pembantu pada umumnya, melainkan budak pemuas nafsuu?


Naya bergidik. Dia tersedak dan langsung meraih susu yang tak jauh darinya.


"Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Mike. Tentu saja suara bariton Mike membuat Naya kembali tersedak. Begitu besar pengaruh seorang Mike pada tubuhnya hingga saat mendengar suara saja dia sudah gemetaran.


"Saya penasaran apa yang sebenarnya ada di dalam kepala kamu?" lanjut Mike. Dia terlihat serius. Gawai hitam yang awalnya ada ditangan sudah terlepas.


"Maaf, Tuan. Saya gak sengaja karena kurang fokus," balas Naya.


Mike menatap makin intens, lantas tersenyum ambigu. Setelah itu dia secara cepat menggerakkan kepala—kode—pada Jordan. Seketika semua orang yang berbaris di sana pun langsung pergi. Tinggallah Naya yang panik duduk diam di kursi.


Mike mendekat. Dia sandarkan bokongnya ke meja, tersenyum miring lalu memasukkan tangan ke saku celana. Dia lihat Naya yang tertunduk takut.


"Angkat kepalamu. Dan lihat saya."


Perintah itu seketika membuat Naya mendongak. Matanya membulat saat mendapati Mike justru mendekatkan kepala. Naya mematung menahan debaran dalam dada. Mike benar-benar mensejajarkan kepala mereka.


"Apa kamu gugup karena semalam?" bisik Mike tepat ke telinga Naya.


Naya membeku beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng tegas. Sebuah gelagat yang membuat Mike akhirnya terbahak. Dia acak-acak pucuk kepala Naya.

__ADS_1


Naya terbengong. Dia melihat tawa Mike. Sekilas Mike terlihat tampan. Seakan ada cahaya menyertai tarikan bibir itu serta ada irama syahdu yang menyertai suara tawanya.


Lekas-lekas Naya mencubit paha sendiri yang terbalut celana jeans. Dia usir pikiran tak masuk akal yang hampir selalu saja bisa meruntuhkan kewarasan.


"Kamu lucu banget, sih. Kan sudah saya bilang kalau saya masih bermoral. Saya memang suka perempuan. Bahkan udah gak kehitung berapa perempuan yang saya tiduri. Tapi saya gak akan menyentuh perempuan di bawah dua puluh tahun. Jadi, harap tenang. Akan ada saatnya kamu yang ada di ranjang saya."


Mike tergelak lagi. Dia tatap intens bagian tubuh atas Naya lalu mengedip.


Naya tentu saja secara refleks menyilangkan lengan. Dia melihat kesal pada Mike yang justru tak peduli. Pria itu beranjak dari posisi awal dan meninggalkan Naya hanya bisa mematung merasakan kengerian.


Sepintas mungkin kalimat itu adalah kata penghibur. Sayangnya bagi Naya itu adalah ancaman. Bagaimana tidak, usianya akan menginjak dua puluh tepat tiga bulan lagi.


Tiba-tiba ponsel Naya yang ada di saku berdering. Naya yang gelagapan seketika berdiri dan merogoh ponsel, lantas memastikannya mati. Dia merasa diintai malaikat maut saat melihat Mike kembali mendekat.


"Siapa yang menelepon?" tanya Mike. Terdengar dingin. Jejak tawa tadi hilang menguap bagai angin. Yang ada hanyalah tatapan mengintimidasi.


Naya menggeleng, dia mengutuk diri sendiri. Bagaimana bisa membawa ponsel saat bersama Mike?"


"Berikan." Mike berucap seraya mengulurkan tangan.


Naya bergeming. Mike yang tidak sabaran kembali berkata, "Kasih saya, Naya! Ponsel itu mau kamu yang keluarkan sendiri atau saya yang keluarin?"


Penuh ancaman dan penegasan dalam satu kalimat yang terlontar, hingga Naya yang sejatinya takut pada Mike menggelengkan kepalanya beberapa kali, lantas dengan tangan bergetar menyerahkan benda pipih itu.


"Cowok teh kotak?" Alis Mike naik sebelah, lekat dia menatap Naya. "Siapa cowok teh kotak ini?"


Naya menundukkan kepala. Dia meremas jari yang kembali kaku.


"Jawab Naya!" sentak Mike.

__ADS_1


jejak jempolnya jangan lupa.


__ADS_2