
Setelah melalui serangkaian pergolakan batin, Naya akhirnya memutuskan ke bandara. Dia hanya ingin melihat Ken dari kejauhan, ya ... paling tidak dia ingin memastikan kalau pria itu baik-baik saja.
Bermodalkan nekat dan pakaian panjang serba tertutup, Naya pun keluar dari taksi. Hanya saja keraguan itu muncul lagi. Suatu perasaan yang membuat Naya enggan melangkah lebih jauh. Dia pun memutuskan kembali. Namun, tanpa dia duga sepasang tangan menarik dan memeluk.
Naya meronta, dia ingin menjerit tapi tidak jadi saat melihat dengan jelas wajah si pemilik tangan.
"Kak Ken ...."
Naya melotot, dia tak bisa untuk melanjutkan kata. Matanya mengerjap dan pandangannya mulai terpecah. Benarkah pria yang sudah lama tidak dilihat kini hadir di depan mata? Bahkan, pria itu tampak lebih tampan dari sebelumnya.
"Terima kasih karena datang ke sini," ucap Ken. Dia tersenyum tulus. Senyuman yang buat Naya terbeku untuk kesekian kali.
"Kamu sehat, 'kan?" tanya Ken lagi sembari melepaskan pelukan.
Naya mengangguk, tapi dia juga melepaskan tangan Ken dari tangannya. Entah kenapa rasa tidak nyaman menyerang tiba-tiba.
"Aku baik kok, Kak. Kak Ken apa kabar? Aku dengar dari Sean kalau ...."
"Aku sudah baik, aku sudah sembuh. Jadi jangan khawatir," potong Ken.
Naya mengangguk lagi. Sekuat hati dia melawan diri agar tidak emosional.
"Naya, bisa kita bicara di tempat lain?"
"Tapi ...."
"Ayolah, kita udah lama gak ketemu. Ada banyak yang mau aku jelaskan."
__ADS_1
Naya terdiam, sedetik kemudian dia mengangguk dan mengikuti langkah Ken. Di parkiran keduanya sudah di sambut oleh Sean. Pengacara berpenampilan bak playboy itu pun tersenyum menyambut mereka.
"Selamat datang Ken," ucap Sean. Keduanya berpelukan. Kini Sean juga melihat Naya. "Terima kasih karena udah mau datang ke sini, Naya."
Naya tak bersuara. Sungguh, dia canggung luar biasa. Canggung pada Ken dan juga Sean. Tak tahu harus berkata apa nantinya.
"Ya sudah, kalian pakailah mobilku. Aku naik taksi saja. Aku yakin banyak yang ingin kalian bicarakan," sambung Sean.
Ken tersenyum. Dia tepuk pundak Sean lalu mengambil kunci yang sudah disodorkan kepadanya.
Di perjalanan mereka diam saja. Ken fokus mengemudi sedangkan Naya bergelayut dengan pikiran sendiri.
"Kak Ken," panggil Naya akhirnya.
Ken melirik. "Kenapa, Naya?"
"Sudah aku bilang kalau itu gak ada sangkut pautnya sama kamu," papar Ken.
"Tapi tetap aja. Itu karena aku."
Ken mengembuskan napas panjang. Dia putar setir dan menepi. Dia buka sabuk pengaman dan menggenggam tangan Naya. Mata mereka bertemu.
"Apa aku terlihat sedang membenci?" tanya Ken.
Naya menelan ludah. Dia menggeleng. Karena memang tidak ada sorot kebencian di sana. Tatapan Ken sama seperti dulu. Teduh dan penuh ketulusan.
"Tapi aku gak pernah ...."
__ADS_1
"Naya," potong Ken lagi.
Naya kembali mengerjap.
"Aku udah dengar semuanya dari Sean. Awalnya aku kaget ternyata kita bertiga terhubung begitu saja. Tapi walaupun begitu aku tetap bersyukur karena ada dia di sini saat aku pergi. Dia jagain kamu. Dia kasih semua info tentang kamu."
Naya reflek menarik tangannya. Dia menunduk dalam.
"Aku sudah dengar semua. Aku yakin dua tahun ini juga bukan waktu yang mudah buat kamu. Tapi percayalah, semua indah pada waktunya. Kita bisa memulai lagi," lanjut Ken.
"Tapi, Kak. Aku ...."
"Aku gak peduli, perasaanku masih sama."
Tiba-tiba atmosfer berubah drastis. Ken kembali menarik tangan Naya. Bahkan pria itu juga mulai mendekatkan kepala. Namun, refleks Naya memalingkan wajah.
Ken berdeham dan mundurkan lagi tubuhnya. "Maaf, aku terbawa suasana. Tolong percaya aku dan kasih aku kesempatan buat berjuang," ujar Ken. Dia ingin mengusap kepala Naya tapi terhenti saat mendengar klakson mobil dari depan. Si pengendara juga memberikan lampu peringatan. Entah apa tujuannya.
"Ya sudah. Kita makan siang dulu ya. Aku lapar. Sudah lama kita gak makan sama-sama."
Naya mengangguk. Kehangatan Ken benar-benar luar biasa. Namun ... entah kenapa rasanya tidak ada yang berbeda. Jauh dalam lubuk hatinya dia lebih merindukan Mike. Si pria kejam yang suka memaksa.
Di sepanjang perjalanan Ken banyak berbicara. Dia bercerita bagaimana baiknya dokter luar negeri merawat dan menjaganya. Bagaimana kinerja mereka di sana untuk menyembuhkan pasien. Sama sekali tidak ada pembicaraan yang menyedihkan. Ken tidak mengungkit pasal kecelakaannya serta kematian Mike.
Namun, tiba-tiba ponsel Naya bergetar. Naya pun segera mengangkat panggilan itu. Setelah beberapa detik diam, mukanya langsung berubah total—yang tadinya tidak ada ekspresi jadi berubah lebih ambigu lagi. Lamat dia menatap Ken yang keheranan.
"Kenapa?" tanya Ken saat Naya memperhatikan tanpa berkedip.
__ADS_1