Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Herry


__ADS_3

"Menggugurkan? Apa kamu bercanda?" sahut Mike.


Dia mendongak dan menatap Bian. Senyumnya terbentuk sempurna. Dia lantas berdiri dan menepuk pundak Bian. "Aku gak akan pernah ngelakuin itu. Naya berbeda. Dan sekarang dia gak akan pernah bisa pergi dariku."


Mike terkekeh bahagia. Bian yang melihat ekspresi wajah Mike pun semakin terheran-heran. Mike, si pria kaku, angkuh dan sombong ternyata bisa tersenyum selebar itu. Namun, keterkejutan itu tak berlangsung lama. Dia cekal tangan Mike secara spontan.


"Mau ke mana kamu, Mike?" tanya Bian.


"Tentu saja mau ke dalam."


"Bodoh! Dia masih belum sadar. Tunggu dulu di sini. Nanti kamu bisa melihatnya kalau dia sudah sadar."


Bian lantas pergi. Namun sebelum itu dia kembali melihat Mike yang berjingkrak-jingkrak. Padahal dia tahu betul, Mike itu lelaki yang seperti apa. Dan sekarang, dia sama sekali tidak mengenalnya.


***


Herry berlari. Dia terus melangkah cepat menjauhi gerombolan pria berjas hitam yang mengejar. Tadi, rencananya setelah melancarkan aksi dia akan bersembunyi. Namun, Mike terlalu cepat. Dia bahkan tidak sempat mengambil pakaian yang sudah dipersiapkan.


"Kejar dia! Cari sampai ketemu!"

__ADS_1


Ucapan pria bertato membuat Herry yang bersembunyi di balik tempat sampah sampai menahan ludah. Perlahan-lahan dia kembali mengendap hingga gerombolan itu pergi dari sana.


Setelah dirasa aman, Herry pun menghela napas panjang. Dia rogoh saku celana dan mengusap layar. Terpampang wajah Laras yang sedang berpose di sana. Herry tersenyum, dia belai layar itu dan menatapnya tanpa berkedip.


"Cantik," gumamnya pelan.


Gegas dia membuka aplikasi chat berwarna hijau. Di sana layar pesan juga bergambar Laras. Matanya pun melihat jam yang sudah menunjukkan hampir jam tiga pagi.


Lagi, Herry tersenyum kecut, dia tekan tanda mikrofon lalu menarik napas makin panjang.


"Maaf mengganggu waktu tidur Nona. Ah ... maaf bisakah kali ini aku memanggilmu dengan nama, Laras?"


Saat pertama kali bertemu, dia mulai respect pada Laras. Dia tahu ada orang dalam yang menyokong Laras. Tetap saja itu tidak menjadi penghalang. Dia sudah terpesona pada Laras.


Saat itu banyak model menghina Laras. Bedanya Herry justru membela, mungkin karena merasa satu darah—ibunya orang Indonesia, tapi soal ayah, tidak ada yang tahu sampai sang ibu menutup mata untuk selama-lamanya.


Dan juga dulu, saat banyak orang menghina Herry dengan kata anak pelacur. Bedanya Laras justru membela. Mulai saat itu mereka mulai menemukan kenyamanan.


Namun, semua tidak mudah seperti yang orang bilang. Masuk ke ranah entertainment di sana begitu banyak perjuangan. Sangat susah untuk Laras gapai. Banyak hinaan, cacian serta menebalkan hati agar tidak terlalu tersakiti. Namun demi cita-cita mereka telan bulat-bulat demi mencapai titik puncak. Herry pun selalu mendukung dan menyemangati.

__ADS_1


Suatu hari karena kesalahan kecik Herry dipecat dari agensi. Saat itu Laras yang sedang melambung mengangkatnya menjadi asisten. Bukan asisten yang diutus oleh agensi, melainkan jadi asisten, seperti bodyguard pribadi. Mulai saat itu keduanya semakin dekat.


Tanpa ada yang tahu, ternyata Herry menyimpan rasa yang begitu dalam untuk gadis itu. Herri selalu merawat, menjaga dengan tulus. Saat Laras menjalin hubungan dengan pria lain pun dia akan terus mendukung. Meski dalam hati tersakiti, tercabik-cabik, dan bikin frustrasi, tetap saja Herry akan mendukung penuh.


Apesnya tak ada yang kekal di dunia. Skandal Laras terekspos dan hancurlah semua kerja kerasnya selama itu.


"Laras, aku mau jujur. Aku itu peduli sama kamu. Kamu itu dewi, Laras. Kamu beharga. Aku nggak mau kamu nangis. Aku nggak mau kamu menderita. Senyummu adalah duniaku, hanya kamu yang ada di mataku. Itulah alasannya kenapa semua permintaan kamu aku turuti."


Hery menjeda kata. Dia menarik napas lebih panjang, dan entah kenapa ada satu titik air di pelupuk mata. "Tapi maaf, dengan sangat menyesal sepertinya ini adalah tugas terakhir. Aku gagal Laras. Aku gak bisa membalaskan dendammu. Tapi Laras, bolehkah aku kasih kamu saran. Saran dari seorang laki-laki yang peduli sama kamu."


Herry menjeda kata lagi. Air yang mulanya setetes tiba-tiba berdesakan ingin keluar dari pelupuk. Dia tarik lagi napas makin dalam.


"Laras, bisakah kamu lupakan dia? Jalani hidupmu dengan tenang. Lupakan obsesi dan hiduplah lebih lama. Bahagialah, Laras. Laras, i love you."


Herry melepaskan tombol mikrofon. Dia menghela napas lagi. Rasanya sesak. Sangat sesak. Entahlah, dia merasa ini adalah saat terakhir untuk mengakui perasaan.


Perlahan Herry berdiri. Dalam kegelapan dia mulai keluar dari tempat persembunyian. Namun tiba-tiba kaki menginjak botol hingga memancing perhatian orang-orang Mike.


"Di sana! Dia di sana!"

__ADS_1


__ADS_2