
Meski begitu, tetap saja jika harus pindah ke rumah pria, dia tidak punya nyali besar. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Apa saja bisa terjadi saat lelaki dan perempuan dalam satu ruangan.
Bergidik ngeri, Naya memutar mata malas dan membuat Ken yang sedari tadi sabar dan diam melihat tingkahnya menjadi sedikit geram. "Nona, bisa ikut saya sekarang. Kita tidak punya waktu banyak."
"Emoh, ogah, nggak mau, ngapain?" balas Naya sembari menggelengkan kepala.
Tanpa diduga ternyata Ken sudah berjongkok. Dalam hitungan detik dan sekali entakan, Naya yang tadinya melawan sudah ada di pundaknya. Pria itu memanggul Naya tanpa merasa kelelahan yang berarti meski Naya jelas meronta-ronta.
"Kak Ken. Lepasin! Aku gak mau ikut!"
Teriakan Naya menggema lagi entah sudah ke berapa kali. Namun, sayangnya Ken tak berniat melepaskan. Dia terus saja memanggul Naya seolah-olah Naya adalah sekarung beras. Terlebih lagi badan Naya yang tak terlalu berisi membuatnya dengan mudah melangkah menuju teras.
Tanpa diperintahkan, seorang pria berbadan tegap membuka mobil untuk Ken.
"Aw! Kak Ken apa-apaan, sih? Sakit ...." Naya merintih.
__ADS_1
Sayangnya, Ken kembali abai dan justru memasang seat belt ke tubuh Naya. Lamat-lamat dia menatap gadis itu.
Posisi yang begitu dekat membuat Naya menjadi gugup dalam diam. Iris mata yang gelap mendadak bergerak liar karena meski berwajah datar jika dilihat dari jarak dekat ternyata Ken terlihat begitu tampan.
Berdeham sekali, Naya mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil. "Ngapain liat aku kayak gitu? Emangnya aku punya hutang?" dengkusnya sembari menahan agar tak terlihat kentara kalau tengah gugup.
Ken menghela napas panjang, dia jauhkan wajah lalu masuk ke mobil lewat jalur lain. Namun, belum juga menghidupkan mesin, sebuah ketukan di jendela membuat Ken harus menunda dan justru menurunkan jendela hampir setengah.
"Kenapa?" tanya Ken datar pada si pengetuk yang tak lain adalah salah satu pria tambun yang membawa Naya semalam. Mirip bodyguard profesional.
"Pak Ken, Nona Naya mau dibawa ke mana? Kami ditugaskan Bu Laura untuk menjaganya dan dia tidak boleh keluar dari rumah ini."
"Tenanglah, saya sudah minta izin pada beliau. Dan beliau tidak mempermasalahkan. Lagian ini juga demi rencana kita."
'Rencana?' Naya bermonolog, pupil matanya melebar. Sekarang giliran Ken yang membuatnya ngeri. 'Sebenarnya apa mau mereka?' lanjut Naya lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu apa kami perlu ikut?" tanya bodyguard itu lagi.
Seketika Ken menatap Naya. Ekspresi ketakutan jelas tertangkap netranya. Dia menyeringai lalu kembali melihat pria itu. "Tidak perlu, saya bisa menjaganya."
"Tapi, Pak."
"Sudahlah. Kita cuma punya waktu lima hari lagi. Jadi jangan tahan saya karena kamu pasti tau apa yang akan direktur lakukan."
Dalam sedetik ekspresi pria di luar mobil berubah. Dia mundur beberapa langkah lalu menunduk segan. Ken pun kembali menutup kaca jendela mobil dan keluar dari pekarangan rumah mewah Laura dengan ekspresi wajah yang sama—tetep datar.
Entah kenapa Naya yang tadinya cerewet dan ingin dilepaskan menjadi bungkam dalam seketika. Dia merasa Ken lebih mengerikan dari Laura.
"K-kita mau k-ke mana?" tanya Naya. Bibirnya bergetar sedikit tapi tetap berusaha menyembunyikan ketakutan.
Mobil berhenti, Ken dengan lekat menatap Naya yang mulai terlihat gelisah, lantas merogoh saku celana saat merasa ada getaran. Dia menjawab telepon tanpa mengalihkan pandangan dari Naya.
__ADS_1
Mendesah pelan, Ken pun berdeham setelah beberapa detik terdiam. Dia mendapat kabar kalau Mike ternyata menyukai gadis berambut pendek. Sia-sia tatanan rambut Naya hari ini.
"Baiklah, saya akan segera ke sana dengan dia," sahut Ken pasrah.