
'I-itu kan Starla.'
Naya membatin waswas sembari bersembunyi di punggung Mike, karena selain ada Starla dia juga sama sekali tidak nyaman dengan nuansa serta situasi di sana. Bau alkohol yang menyengat menyambut kedatangan, belum lagi musik yang menggema dalam ruangan. Ya, meskipun suaranya tidak senyaring di luar.
"Kenapa sembunyi? Tenang saja, mereka gak bakalan bisa macem-macem sama kamu," bisik Mike sembari menepuk tangan Naya.
Naya terdiam, dia menahan ludah. Jika di pikir Mike dan dua pria yang ada di hadapannya sekarang kini pastilah jenis yang sama, sama-sama brengsek. Tipe pria yang hanya suka foya-foya, wanita dan alkohol.
"Jadi, dia gadismu yang baru?" tanya seorang pria berambut pendek. Dia mendekati Naya tapi dihindari secara cepat. Tentu saja gerakan refleks Naya membuat pria berkebangsaan Prancis itu sedikit kikuk.
"Wah, kau menyakiti hatinya Luis," seloroh Peter—pria berkebangsaan Inggris—yang sedang duduk bersandar di sofa panjang di ruangan itu. Kekehannya terdengar. Dia mainkan gelas yang ada di tangan lantas kembali berkata, "Duduklah, Luis. Sebelum pangeran Mike kita murka. Kamu jangan berani menyentuh wanitanya. Aku rasa gadis kecil itu begitu spesial sampai-sampai dia rela membuang Bella."
Naya menelan ludah, dia gemetaran di belakang Mike. Sungguh tidak tahu berada di situasi apa dan harus bagaimana. Bagaimana tidak, semua orang di sana berbicara menggunakan bahasa Inggris yang tidak seluruhnya dia pahami.
"Duduklah Luis, kau menakuti peri kecilku," papar Mike. Dia menyeringai lantas dengan santai mengusap rambut Naya sembari berkata, "Tenang saja, gak akan ada yang berani mengganggumu."
"Oke oke. Aku paham." Luis mengangkat tangannya. Dia membalik diri, tapi sebelum itu sempat mengedip genit pada Naya.
Sementara Mike, hanya diam saja melihat gelagat nakal temannya itu. Dia tuntun Naya duduk di sofa paling ujung.
"Kalian, suka sekali menggoda?" cibir Mike sembari menuang minuman dalam gelas. Dia tersenyum tipis.
"Tentu saja kami suka menggodamu. Kamu selalu unggul dari kami. Dimulai dari harta, kedudukan dan rupa. Kamu unggul, Mike. Belum lagi masalah perempuan. Selalu lebih cantik," sahut Peter. Matanya melihat Naya. "Tapi aku rasa ada yang beda kali ini. Gadis yang kau bawa sepertinya bukan gayamu. Tidakkah kau merasa dia terlalu muda dan kecil? Mana Bella? Dia lebih oke menurutku."
Mike berdecak. Dia seruput lagi minumannya. "Bisa jangan bahas jaalang itu? Aku muak. Beruntung aku punya penggantinya dengan cepat. Kalau tidak, pasti sudah aku babat habis itu perempuan."
__ADS_1
"Tapi tetap saja gadis yang di sebelahmu itu tidak sama dengan gayamu," timpal Luis.
"Aku butuh nuansa dan sensasi baru. Dan dia sesuai seleraku. Aku ingin bersenang-senang. Apa ada yang salah?" sahut Mike. Dia melirik dan mengedip genit pada Naya.
Luis dan Piter yang melihat itu jadi terbahak, begitu juga Mike yang juga tersenyum sinis. Sementara Naya, hanya diam tanpa tahu apa yang mereka bicarakan.
"Sudahlah, sudah. Jangan bahas aku lagi. Apa kalian tidak malu dilihat pacar masing-masing?" lanjut Mike, dia sandaran di sofa dengan tangan kiri merangkul pinggang Naya begitu posesif.
Luis menggidikkan bahu, dia acuh karena memang datang dengan pacarnya, Amarta—si gadis berkebangsaan Prancis yang sedikit banyak mengenal Mike. Baginya Amarta sudah biasa dengan situasi seperti itu.
Namun, tidak untuk Peter. Wanita yang berada dalam pelukan Peter jelas wanita yang tidak Mike kenal.
"Dan dia Peter, dia siapanya kamu? Aku baru lihat dia malam ini," tanya Mike. Dia menunjuk seorang gadis yang sudah jelas orang Indonesia.
"Oh." Peter menggenggam tangan gadis itu. "Kenalin ini pacar baruku. Namanya Starla. Tolong sapa dia, Sayang," lanjut Peter sembari melepaskan genggaman.
"Wah, kalian pacaran? Bukannya kalian baru bertemu tadi pas di pintu masuk? Kenapa bisa jadian?" cecar Luis sembari menaikturunkan alis.
Peter terkekeh. Seakan-akan godaan Luis adalah pujian. Dia cium punggung tangan Starla dengan memperlihatkan tatapan mata berhasrat. Anehnya, yang ditatap justru menyambut dan tersipu.
"Apa bedanya. Mau kita bertemunya baru atau sudah lama, itu gak penting. Yang jelas kita sama-sama suka. Iya 'kan, Sayang?" papar Peter tanpa memalingkan matanya dari Starla.
"Sialan," celetuk Luis. Dia lempar kacang ke arah Peter dan tentu saja tatapan menggelikan itu buyar seketika.
"Oh ya, Sayang. Kamu tau gak kalau dia itu penerus Abraham company," lanjut Peter sembari menunjuk Mike.
__ADS_1
Mike tersenyum sedikit, tapi tidak untuk Starla. Mata gadis berpakaian serba pendek itu terbelalak lebar.
"Wah. D-dia Mike Felix Abraham. Pengusaha muda yang sukses itu?" Starla dekati Mike. "K-kamu beneran Mike yang itu? Yang pewaris Abraham Company? Wah ... aku nggak nyangka bisa ketemu dengan orang sehebat kamu," lanjut Starla. Dia tak henti-hentinya berdecak.
"Sudahlah, jangan berlebihan," sahut Mike. Dia sulut rokok dan mengisap begitu dalam tanpa memedulikan Naya yang tidak nyaman di sana.
Starla kembali duduk di sebelah Peter, tapi dia beberapa kali melirik Naya. Dia punya dendam yang belum terbalas.
"Oh iya, Sayang. Kenalin yang di sana namanya Peter," ucap Mike pada Naya. Dia tunjuk Peter dengan dua jari karena memang sedang mengapit sebatang rokok. "Dan itu mungkin bisa dibilang pacarnya, namanya Starla."
Naya mengangguk. Meskipun mendapat tatapan tajam dari Starla dia tetap membalas menyebutkan namanya.
"Dan itu ...." Mike menunjuk seorang pria bule berambut agak pirang dengan jas berdasi kupu-kupu. "Yang itu namanya Luis. Gadis pirang di sebelahnya namanya Amarta."
Naya kembali mengangguk, dia ingat betul pada Luis. Pria itulah yang mengedit genit kepadanya. Hanya saja demi menjaga perasaan Mike dia terpaksa menyapa dan memperkenalkan diri.
"Ayo, demi hubungan kita. Demi persahabatan kita dan juga perayaan atas pacar barunya Mike, ayo kita bersulang!" seru Louis yang mengangkat gelas, disusul oleh Peter dan Mike. Ketiganya menenggak vodka dengan begitu bersemangat.
Segelas.
Dua gelas.
Tiga gelas.
Mereka menenggaknya setelah itu tertawa.
__ADS_1
Di saat bersamaan Starla mulai tertarik pada Mike. Selain tampan Mike juga kaya raya. Dia ingin menggoda Mike.
"Apa boleh aku bantu menuangkan minumannya?" tanya Starla sembari mendekat.