
"Mbak ...."
Naya mengiba pada Mala. Namun, Mala tetap mendorongnya hingga berada tepat di depan pintu kamar Mike.
"Mbak, aku takut. D-dia ... d-dia nanti ...."
"Nona, saya hanya pesuruh. Masuklah. Jelaskan semuanya. Tuan Muda Mike memang tegas, tapi bukan berarti dia gila. Kalau Nona memang gak bersalah saya yakin pasti dia akan memaafkan," ujar Mala, terdengar datar dan tenang.
"Tapi, Mbak. Aku ...."
Belum juga selesai lisan Naya, pintu telah terbuka dan tampaklah Mike berdiri gagah dengan sorot mata elang. Tanpa aba-aba dia tarik tangan Naya masuk ke dalam kamar, lantas dengan keras mendorongnya hingga tersandar ke dinding. Tak hanya itu, Mike juga mengapit pipi gadis itu lantas berkata dengan nada menggeram, "Dasar jalaang kecil ... berani ya kamu bermain api? Berapa nyawa yang kamu punya, ha?"
"T-tuan ...."
Naya merintih, dia pukul punggung tangan Mike berharap dilepaskan. Sakit, sungguh.
Namun, bukannya iba Mike justru berdengkus dan semakin mengencangkan cengkeraman.
"Sudah aku bilang, kalau aku gak suka pengkhianatan. Tapi kamu malah ngelakuin itu. Kamu melanggar hal yang fatal Naya! Fatal!" teriak Mike. Suaranya bahkan menggema dalam ruangan.
Naya memejamkan mata saking takutnya, bahkan air sudah turun membasahi pipi tanpa permisi. Sedetik kemudian lekat dia tatap Mike yang sudah seperti manusia kesetanan. Tak ada lagi pesona, tidak ada lagi senyum menggoda. Yang ada justru tatapan tajam penuh kebencian yang dia dapatkan dari pria itu.
"Tapi itu semua gak bener," ucap Naya. Air matanya menganak sungai.
"Jangan nangis! Kamu gak berhak nangis! Dasar murahan!" sentak Mike. Sedetik kemudian tangannya mendarat di pipi Naya. Suara keplakan pun menggema di sana. Tak hanya itu, Naya bahkan tersungkur. Pipi, tubuh serta harga dirinya terluka parah. Namun dia tetap harus menjelaskan kebenaran.
__ADS_1
Berdiri lagi, Naya yang memegang pipi melihat lagi Mike. "Tapi aku bener. Aku gak kenal dia. Beneran. Aku beneran gak pernah kenal."
"Gak pernah kenal?" ulang Mike, dia menyeringai. Sedetik kemudian dua menepis barang-barang yang ada di nakas seperti orang gila. Dia bahkan berteriak nyaring. "Jangan bohong kamu!"
Lagi, Naya memejamkan mata. Suara keras Mike membuat telinganya sampai berdengung. Namun, dia yang menunduk ketakutan tetap memberanikan diri melihat sekitar. Semuanya sudah berserakan, serpihan kaca berhamburan menutupi porselen. Kini dia tatap Mike yang berdiri gelisah dengan beberapa kali menjambak rambut sendiri.
"Tapi aku gak bohong ...."
"Lalu kenapa dia bisa tau tanda lahir kamu ha!" bentak Mike. Dia menunjuk-nunjuk muka Naya.
Naya terdiam. Melihat Mike yang seperti kesetanan begitu membuatnya makin ketakutan. Dia remas gaun selutut yang membalut badannya.
"Kalian, pegang dia," perintah Mike tiba-tiba.
Naya melongo sesaat, dia shock hebat. Saat sadar apa yang akan terjadi dia sudah kehilangan kesempatan untuk lari. Dua orang bodyguard yang ada di kamar langsung memegang tangan.
Naya berontak terus. Sekuat tenaga ingin lepas, tapi tetap saja hasilnya nihil. Bodyguard Mike yang berbadan tambun itu tanpa rasa kasihan terus mengapit tubuhnya.
Naya cemas, nanar dia melihat Mike yang juga sedang tidak terlihat baik-baik saja.
''Tuan ... tolong lepas, aku nggak salah. Aku berkata benar," ujar Naya, air matanya meluruh makin banyak. Ketakutannya sudah diambang batas. Dia gemetaran hebat bahkan ingin rasanya buang air kecil.
"Tuan ...." Naya mengiba lagi. Namun Mike tetap abai. Dia lirik Mala yang berdiri di dekat pintu.
"Mala, periksa. Apa benar ada tahi lalat di paha sebelah kirinya?" perintah Mike.
__ADS_1
Sejujurnya hati Mike juga sakit dan kesal. Jadi dia ingin memastikan perkataan pria yang ada di mall tadi—kalau Naya adalah jalaang yang pura-pura polos.
"Naya, kalau kamu terbukti berbohong aku bakalan bikin kamu menyesal karena udah lahir di dunia ini. Paham!" ancam Mike dengan mata melotot.
"Tuan. Itu semua gak bener. Tolong percaya ...."
Naya mengiba lagi, posisinya benar-benar terpojok dan tidak bisa bergerak sama sekali. Dia bahkan terdiam saat Mala menurunkan dan mengecek sesuatu yang ada di balik gaunnya.
"Mbak ...." Naya berucap lirih sembari melihat Mala yang berjongkok di depannya. Kepalanya bergerak, seakan ingin Mala membantunya.
"Bagaimana?" tanya Mike yang tentu saja melerai tatapan antara Naya dan Mala.
Mala yang melihat kenyataan di balik gaun Naya langsung bungkam, tak berapa lama mengangguk lesu. Tentu saja gelagat itu membuat Mike makin geram dan naik pitam.
Plak!
Lagi, tamparan mendarat di tempat yang sama. Bahkan sekarang sudah ada jejak darahnya. Naya yang terkunci pergerakannya tak bisa sama sekali mengusap pipi.
"Dasar jalangg sialan! Sekarang kamu mau ngeles apa lagi? Hah!"
"Tapi aku beneran masih perawan. Aku gak kenal sama orang itu. Tolong, percayalah ...."
Mike yang kesal berdengkus, bibirnya naik sebelah dan tanpa ragu dia menjambak rambut Naya hingga Naya mendongak menahan sakit.
"Kamu kira aku bakalan dengan mudah percaya kamu lagi?" Mike menjeda kata. Dia dekatkan wajahnya ke telinga Naya sembari berkata, "Nggak akan , Naya. Jadi, sekarang cuma tersisa satu cara untuk membuktikannya, Naya."
__ADS_1
Wii aku ngeri bayangin Naya dipukul.
tapi tetep like nya jgn lupa ya.