Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Siapa?


__ADS_3

"Maksud kamu selidiki seseorang?" ulang Sean.   Bingung, curiga ditambah tidak adanya penjelasan dari Ken membuatnya semakin menyipitkan mata. Dia bahkan melihat sekitar, lantas kembali menatap Ken secara lekat.


"Coba cerita, sebenarnya ada apa ini?" tanya Sean lagi. Dia begitu serius menunggu jawaban Ken.


"Aku butuh bantuanmu. Aku mau menyelamatkan seseorang," balas Ken sekenanya.


Sean yang kurang puas dengan jawaban itu jadi kesal sendiri. Dia pun berdengkus.


"Iya, aku pasti bantu. Kita temenan udah dari orok. Jadi gak mungkin aku gak bantuin. Tapi dia siapa? Untuk apa? Terus ...." Sean menjeda kata sebentar. Matanya makin menyipit, sedetik kemudian dia tersenyum. "Apa dia perempuan? Pacarmu?" cecar Sean lagi. Dia bahkan sengaja menaikturunkan alis.


Akan tetapi Ken tak menyahut. Dia menatap kosong pada Sean.


"Ken. Ayo cepet bilang. Jangan bengong. Gimana sih," lanjut Sean lagi. Dia mulai kesal. "Sebenarnya apa yang terjadi sama pacar kamu? Dia kabur? Atau dibawa kabur orang?"


Hening. Ken tampak gelagapan. Diberondong pertanyaan seperti itu membuat wajahnya yang kaku makin terlihat tegang. Dia sengaja berdeham mencoba mengusir canggung.


"Kamu ngomong apaan, sih? Siapa yang pacaran? Siapa juga yang kabur? Jangan sotoy. Jadi, kamu mau bantuin apa enggak?" sahut Ken ketus.


Tiba-tiba saja Sean manggut-manggut sembari mengukir senyum misterius. Dia pindai penampilan Ken. Ada yang tak biasa. Wajah Ken tidak sekaku dulu, terlebih lagi kegugupan di wajahnya begitu kentara.


"O ... aku paham sekarang," ujar Sean kemudian.


''Apa yang kamu pahami? Memangnya kamu dukun?" ketus Ken lagi.


Sean terbahak sebentar, tak berapa lama matanya kembali menyipit tajam. Melihat gelagat Ken yang malu-malu kucing begitu membuatnya semakin penasaran, siapa gerangan yang bisa membuat Ken, si pria kaku menjadi peduli?


"Sean! Aku lagi nggak bercanda! Ini hidup dan mati seseorang!" balas Ken dengan nada sedikit berbeda.


"Oke, aku juga serius. Serius penasaran siapa itu perempuan. Aku yakin dia bukan manusia bumi, iya kan?" Sean tersenyum lagi. Dia bahkan makin mencondongkan diri. "Katakan, kamu ketemu bidadari di kali mana?''


"Sean!" sentak Ken makin keras.

__ADS_1


Sean mengangkat kedua tangannya lagi, lantas berucap, "Oke. Aku bakalan bantu. Bilang aja bagaimana aku bisa bantu kamu."


"Tolong kamu selidiki Mike Felix Abraham," sahut Ken datar.


"What? Maksud kamu si Mike penerus Abraham Group?" Mata Sean melotot seketika.


Ken mengangguk mantap. Dia sesap air putih yang sudah tersedia di atas meja. "Ya, dia. Tolong bantu aku cari kelemahan dia. Cari apa pun yang bisa bikin dia terpojok."


"Wah, gila. Kamu bener-bener nekat. Kamu mau ngelawan Mike? Dia pengusaha hebat, Ken."


"Ya aku tau," balas Ken yang lagi-lagi tak berekspresi.


"Jadi, untuk apa kamu berurusan dengan dia?"


Ken tak menjawab. Rahangnya mengetat kuat.


"Selama aku jadi pengacara sekalipun aku gak pernah dapat keluhan atau laporan tentang dia. Dia bersih, Ken."


Sean manggut-manggut. "Ya, aku tau, tapi Mike beda. Dia terlalu pintar. Gak mungkin dia ninggalin jejak."


Hening, Ken yang dari tadi kekeh dan yakin bisa mendapatkan kelemahan Mike menjadi lemah dalam sedetik. Dia bahkan mendesahh panjang dan menyandarkan punggung di sandaran kursi. Matanya melihat sekitar sebelum akhirnya tertunduk.


"Apa gak bisa dicari lagi? Aku udah usaha tapi tetep gak nemu titik terang. Aku terlalu putus asa makanya minta tolong sama kamu," ujar Ken lesu.


Kini Sean yang mendesahh panjang. Dia mencondongkan tubuhnya. "Baiklah. Aku coba. Tapi aku gak bisa janji."


Ken mengangkat kepala dan menatap Sean. "Aku yakin kamu gak bakalan mengecewakan."


****


Di sebuah mall.

__ADS_1


Mala yang duduk berhadapan dengan Naya di sebuah kafe terlihat bengong dengan mulut sedikit menganga. Bagaimana tidak, Naya yang biasanya pendiam dan penakut tiba-tiba mengajaknya keluar minta ditraktir es krim. Awalnya Mala yang berprofesi sebagai penanggung jawab di rumah Mike sedikit ragu, tapi karena Jordan sudah mengizinkan, dia pun akhirnya setuju.


Di sinilah dia, duduk berhadapan dengan Naya dengan sorot mata ambigu.


"Nona, apa gak apa-apa makan es krim sebanyak ini?" tanya Mala akhirnya setelah lama bungkam. Dia keheranan dan juga ngeri melihat Naya yang begitu rakus memakan semua es krim. Semua aneka jenis rasa ada di hadapannya.


Naya yang ditanya hanya menggelengkan kepala. Dia kembali menyendok es itu masuk ke dalam mulut. Bukan lapar yang benar-benar lapar. Hanya saja dia butuh pelampiasan untuk menata ulang hatinya. Beberapa hari ini kesabarannya seperti sengaja di uji Dina, gadis itu selalu mengganggunya. Belum lagi ancaman ulang tahun yang akan tiba beberapa hari lagi.


Takut, kecewa, dan entahlah ... semua perasaan itu tak bisa Naya jabarkan. Yang jelas dia belum siap jika harus kehilangan keperawanan dengan cara keji dan tanpa adanya status.


"Non, Nona Naya. Es krimnya meleleh," tegur Mala.


Sontak Naya tersadar. Namun es itu sudah terlanjur membasahi gaunnya. Lekas dia berdiri dan membersihkan dengan tisu. Namun ....


"Mbak, aku ke toilet dulu ya," ucap Naya sembari berdiri. Dia kesal karena noda es krim itu makin membesar setelah terkena tisu.


"Tapi ...." Mala ikut berdiri.


"Aku gak bakalan kabur, Mbak. Dan gak bakalan bisa juga. Aku tau bagaimana cara Tuan Muda Mike," balas Naya.


Mala mendesahh. Tatapannya berubah sendu. Selama ini dalam diam dia mengamati Naya.


Kasian. Kata itu yang selalu terpatri untuk Naya. Tapi, dia hanya bawahan yang harus setia melakukan perintah.


"Non saya anterin."


"Baiklah."


Keduanya pun berjalan menuju toilet. Namun, ada yang aneh, Mala merasa ada yang mengikuti. Gegas dia menarik Naya.


"Non, sepertinya ada yang ngikutin kita."

__ADS_1


__ADS_2