Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Makan dan dimakan.


__ADS_3

"Selamat pagi, Nona. Tuan Muda sudah menunggu Nona di meja makan," ucap Mala ketika Naya baru saja membuka pintu kamar. Tak hanya Mala, beberapa pengurus lain pun melakukan hal yang sama. Mereka menunduk segan.


Naya tak menjawab. Situasi seperti itu sudah tak lagi membuat canggung. Di awal memang agak risih, tapi kemudian terbiasa sejalan waktu. Dia mengakui perhatian Mike dan perlakuannya tidak ada tandingan. Sayangnya itu semua tidaklah gratis. Dia harus membayar mahal itu semua dengan mengesampingkan harga diri dan perasaan.


Menghela napas panjang, Naya pun melangkah turun dari lantai dua diikuti Mala dan lain. Tujuannya hanya ruang makan.


"Selamat pagi," sapa Mike. Dia lantas menyeruput kopi susu tanpa melepaskan pandangan dari Naya. Dia terpesona, Naya semakin hari semakin bertambah cantik dan menggoda.


"Pagi, Tuan."


Naya pun memberikan senyum manis dan mengabaikan hati yang serasa di iris. Patuh dan patuh, itulah kalimat yang dia tanam dalam kepala. Tak ada jalan untuk lari, ataupun keluar. Kepasrahan, ya ... hanya itu solusinya. Meski bukan pribadi yang religius, tapi dia tahu yang dilakukan ini adalah dosa. Sungguh, dia sangat berharap Tuhan mengampuni dan memberikan jalan untuknya lepas dari jerat Mike.


Namun, diluar ekspektasi. Make yang melihat senyum manis itu justru berdeham dan menekuk empat buku jari—kode agar Naya mendekat.


Gemetar-gemetar takut, Naya pun mendekat dan kaget saat Mike menariknya hingga terduduk di pangkuan.


"Tuan ...."


"Harusnya kamu sapa dulu tuanmu baru boleh duduk," ucap Mike. Sebuah statement yang membuat Naya refleks menunduk.


"Maaf ...."


Akan tetapi, Mike tetaplah Mike. Dia angkat dagu Naya hingga mata mereka beradu. "Kamu cantik pagi ini," balas Mike. Dia pun berancang-ancang akan menggapai bibir Naya yang ranum, tapi terjeda saat Naya menutup bibir dengan tangan.


Wajah Mike tentu saja berubah total. Dia apit kasar dagu Naya dan menatapnya tajam. "Apa kamu masih belum paham peraturannya?"

__ADS_1


Naya melotot. Dia menahan napas beberapa detik, lantas menggeleng. "Bukan begitu, Tuan."


"Lalu?" Tatapan Mike makin nyalang. Dadanya bergerak naik turun menahan kesal.


"Di sini terlalu banyak orang."


Ajaib, jawaban singkat dan malu-malu itu membuat emosi Mike reda. Dia bahkan mengacak-acak pucuk kepala Naya lalu melepaskan pelukan yang cenderung memaksa. Naya bahkan melotot saking tak percaya.


"Duduklah di sana. Makan sarapanmu," ujar Mike tenang.


Meski bingung Naya pun melakukan perintah. Hening. Sarapan berjalan sebagaimana mestinya. Mike yang sudah selesai menatap Naya yang begitu lahap menikmati roti isi dan segelas susu. Di matanya Naya benar-benar tidak membosankan meski dilihat terus-menerus. Berbeda dengan para gadis yang pernah dia miliki. Naya bagai permata di kumpulan batu akik. Tiba-tiba rasa sesal menyerang, kenapa dia baru bertemu Naya sekarang?


'Ah, sial ... baru juga selesai sudah horny lagi. Tenang Mike. Masih ada waktu. Sekarang harus selesaikan masalah kantor dulu,' batin Mike. Dia kembali menyeruput minumannya.


Spontan Naya terbatuk-batuk dan menyemburkan isi yang ada di mulut. Gegas dia meredakan rasa sakit itu dengan menyeruput air putih. Dia tatap tajam Mike yang tertawa lepas.


"Kenapa ngeliatinnya begitu? Mau marah? Apa aku salah ngomong? Bukannya memang benar kalau kamu itu kehabisan banyak tenaga karena habis aku makan. Buktinya belum juga selesai kamu sudah tidur duluan."


Lagi, Naya tak bersuara. Dia ingin sekali mencekik Mike. Tanpa berkata seperti itu pun orang-orang di sana sudah tahu hubungan mereka. Lalu apa motifnya menjelaskan itu semua secara terperinci?


'Dasar bajingan laknat,' umpat Naya dalam hati. Dia kembali menggigit sisa roti dengan mood yang sudah ambyar.


"Oiya Naya," panggil Mike lagi. Dia tatap Naya yang juga sudah menatapnya. "Jordan sudah membuat janji temu dengan seorang terapis. Kamu harus ke spa nanti siang. Kamu perlu rileksasi. Aku yakin tubuhmu pasti lelah. Jadi lakukanlah perawatan. Jordan akan menemani kamu."


Naya lagi-lagi mengangguk. Gelagat itu membuat Mike tidak senang. Dia dekati Naya dan kembali mengangkat dagu gadis itu dengan cara yang sedikit kasar. "Kapan kamu bisa terbiasa? Apa kita harus seperti ini tiap hari?"

__ADS_1


Naya bungkam. Mereka berbagi pandangan sekarang. Jujur saja, dia tidak paham apa yang membuat Mike marah kali ini.


"Kamu punya mulut, 'kan? Kenapa gak pernah ngomong? Apa aku kurang baik? Aku selalu menanti perubahan sikap kamu. Ke mana sikap gadis berani yang ada di kafe dulu? Mau sampai kapan aku melihat kamu pasrah begini? Apa perlu aku pakai kekerasan baru kamu ngerti?" cecar Mike. Nada suaranya sudah tak lagi bersahabat.


***


Ini visual Naya, Ken, Mike. Sebenarnya udah ada di bab 1. Tapi aku kasih lagi. semoga kalian suka.


Naya.



Ken.



Mike.



Sean.



like nya jgn lupa. Visual yang lain menyusul di bab selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2