
Setelah memastikan Bella pergi, gegas Jordan naik ke lantai atas dan menolong Naya berdiri. Tanpa berkata maupun bertanya dia sudah bisa menangkap ketakutan dari diri Naya. Dia bantu Naya menuju kamar.
"Lebih baik Nona istirahat, soal kejadian tadi mohon dilupakan," ucap Jordan seraya membantu Naya duduk di sisi ranjang.
Bergeming, Naya pijit jemari yang kaku sembari menata hati. Jujur, dia shock. Andai tadi Jordan tidak sigap, sudah bisa dipastikan dia akan menjadi bulan-bulanan Bella karena telah menjadi mainan baru Mike.
Jordan yang menyadari ketidakberesan itu segera berdeham dan dengan tenang melihat Naya lalu berkata, "Apa tidak ada yang ingin Nona tanyakan pada saya?"
Naya masih tak menjawab. Beberapa hari ini dia sempat tenang dan sedikit rileks. Dia bahkan mengikuti kelas desain pakaian yang diatur Jordan. Namun, saat melihat keributan tadi dia kembali gemetar. Ternyata sepak terjang Mike benar-benar luar biasa. Dia bisa dengan mudah mendapatkan artis cantik dan menyimpannya dalam genggaman, tapi begitu mudah juga untuk membuangnya. Bahkan tanpa berkedip sama sekali.
"Kalau memang tidak ada apa-apa saya izin pamit, Nona. Kalau butuh sesuatu silakan panggil saya," lanjut Jordan berpamitan.
Naya membasahi bibir dengan saliva. Dia akhirnya memanggil saat Jordan hendak memutar tumit.
"Iya, Nona. Ada apa?" tanya Jordan sopan.
"Pak, bisa gak kelas desain aku batalin?" balas Naya bertanya.
Jordan tertegun beberapa detik, alisnya bahkan melengkung. Lamat dia memandang Naya. "Memangnya kenapa, Nona? Apa Nona tidak nyaman dengan gurunya? Atau ...."
"Gak Pak. Bukan itu," sela Naya. Dia makin tampak gusar. Tentulah gelagat itu membuat Jordan semakin penasaran.
"Lalu?" tanya Jordan lagi. Posisinya masih sama seperti tadi—berdiri tegak.
__ADS_1
Naya terdiam. Otaknya bekerja keras mencari alasan. Dia menyukai kelas desain pakaian, tapi takut akan mempersulit dirinya kelak. Dia berniat bicara pada Mike dan meminta keringanan.
"Nona, Nona Naya," panggil Jordan. Merasa Naya tak merespon dia pun memberanikan diri melibaskan tangan di depan gadis itu. Heran saja, padahal semingguan ini gadis itu sudah seperti gadis kebanyakan—antusias dalam melakukan apa yang disuka dan selalu bernyanyi jika memang tengah senang.
"Nona, apa Nona baik-baik saja?"
Naya tersentak. Matanya bergerak liar saat mendongak dan melihat Jordan.
"Sebenarnya ada apa, Nona?" tanya Jordan lagi. "Kenapa Nona jadi aneh begini? Apa karena Nona Bella?"
Jordan terdiam, lamat dia menatap wajah Naya. Tentu saja dia bisa menebaknya dengan mudah. Ada ketakutan di dalam manik bola mata Naya yang berwarna cokelat pekat.
"Kalau soal Nona Bella itu sudah konsekuensinya. Dia berselingkuh, saya yakin jika dia masih bersikeras dia akan sakit sendiri. Tuan Muda Mike bukan orang dermawan. Dia paling benci pengkhianatan. Bella masih bisa dikatakan beruntung karena Tuan Muda Mike memutuskannya dan bukannya menghancurkan karir wanita itu. Sepertinya itu semua karena kehadiran Nona Naya," papar Jordan.
'Justru itu yang buat aku takut. Dia mesum. Dia jahat. Aku gak mau deket dia,' sahut Naya dalam hati.
"Tapi Nona ...."
"Please, Pak. Aku mau berhenti. Aku gak suka dipaksa lagi."
Jordan menghela napas panjang. Dia akhirnya mengiyakan, menunduk patuh, lalu meninggalkan Naya sendiri di dalam kamar.
Sepeninggal Jordan.
__ADS_1
Naya merebahkan diri di ranjang dengan tangan yang membentang lebar. Dia melihat langit-langit kamar yang berwarna biru langit. Matanya fokus ke depan dengan helaan napas yang begitu panjang. Pikirannya telah melanglang buana.
Perlahan, tanpa diundang ada genangan air yang seperti berdesakan ingin di tumpahkan. Naya tak sanggup lagi. Dia tutup wajah dengan bantal dan membiarkan air itu meluruh.
"Nek ... nenek, aku kangen ... kenapa hidup aku jadi begini, Nek? Apa sama sekali gak ada jalan keluar?"
Di saat bersamaan ada Ken yang juga tengah menatap langit-langit kamar. Dia terdiam, setelah kepergian Naya dia menjadi lesu dan tidak semangat sama sekali mengerjakan tugas. Pikirannya selalu tertuju pada Naya, gadis ceria, lugu dan penurut luar biasa.
Mengenang sosok Naya Ken tiba-tiba merasakan saluran pernapasan mulai sesak. Hatinya juga nyeri ketika terlintas pengakuan cinta Naya. Dia juga teringat bagaimana baiknya hati gadis itu yang menerima segalanya dengan ikhlas.
Namun tak dipungkiri ada beban moral yang rasanya semakin berat.
"Naya, apa kamu baik-baik saja?"
****
Keesokan harinya, Mike tiba dan disambut Jordan di depan rumah. Pria itu tiba sehari sebelum jadwal yang sudah ditentukan. Lebar langkahnya mendekati Jordan.
"Selamat pagi Tuan Muda, apa perjalanan Anda menyenangkan?" tanya Jordan sembari menyambut tas kerja Mike dan melepas jas yang dikenakannya.
Mike berdeham, matanya menyapu sekitar. Tampak beberapa baris pelayan dan bodyguard menunduk segan di depannya. Sayangnya bukan itu yang Mike cari.
"Di mana dia?" tanya Mike tanpa melihat Jordan yang ada di belakang. Matanya hanya tertuju ke lantai dua rumah.
__ADS_1
Jordan yang paham seketika langsung menjawab, "Biasanya jam segini dia sudah bangun. Mungkin sekarang lagi mandi. Apa perlu saya panggilkan?"
Mike mengangkat tangan, senyum ambigu langsung terukir nyata di wajahnya yang tampan. "Gak perlu. Biar saya saja yang ke atas."