
Brakh!
Pintu terbanting cukup keras, anehnya tak lantas membuat Mike marah. Dia justru tersenyum melihat kegugupan di wajah Naya. Baginya menggoda Naya memberikan hiburan tersendiri.
"Bagaimana Tuan, apa tehnya enak?" tanya Dina sengaja melerai tatapan Mike. Dia yang mengenakan seragam khas ART bahkan sengaja berkedip genit.
Mike tidak menjawab, dia menyeruput lagi teh yang ada di tangan lalu mengangguk sekali. "Enak," jawabnya singkat.
Aneh, bukannya langsung pergi Dina masih tetap berdiri di sana. Mike tentu saja keheranan. Dia terdiam beberapa detik hingga merasakan ada yang tidak wajar dengan tubuhnya. Aroma parfum Dina menyeruak masuk ke hidung, membuat libido perlahan bergerak naik dan sialnya memancing sesuatu yang lain. Hasrat binal yang tidak jadi dia lampiaskan pada Naya tadi kembali mencuat, bahkan lebih hebat. Lekat dia menatap Dina.
"Kamu pembantu baru?" tanyanya datar dengan sorot mata dingin.
"Saya sudah kerja di sini lima bulan, Tuan," jawab Dina. Dia tersenyum tipis sembari menggigit bibir bawah.
Mike manggut-manggut. Dia melihat dengan seksama ekspresi genit yang Dina tunjukkan. Dia bahkan tidak bersuara dan terus mengamati gerak-gerik tak tahu malu itu.
"Oiya, minuman apa yang kamu bawa ini?" tanya Mike, dia kembali menyeruput teh itu hingga habis. "Rasanya Jordan tidak pernah membuat teh ini."
"Ini teh kapulaga, Tuan. Racikan turun-temurun keluarga saya. Teh ini bagus untuk menjaga stamina. Juga bisa membuat tidur Tuan nyenyak. Jika Tuan berkenan saya bisa membuatnya tiap malam untuk Tuan," sahut Dina. Kini dia merapikan rambut di belakang telinga. Seperti sengaja memperlihatkan lehernya yang jenjang dan mulus.
Mike menelan ludah, dia tidak bisa menahan lebih lama lagi. Entah parfum apa yang Dina gunakan dan entah ramuan apa yang dia berikan, tapi yang pasti Mike sudah paham apa yang tubuhnya inginkan. Wanita, Mike ingin kehangatan wanita.
Tiba-tiba bunyian dari dalam saku celana mengubah Atmosfer yang ada. Lekas dia meletakkan kembali gelas yang ada di tangan ke nampan yang Dina pegang dan menjawab panggilan.
__ADS_1
"Ya, bicaralah." Terdengar Datar dan penuh perintah.
Hening, Mike begitu serius mendengar suara seseorang yang ada di seberang telepon. Alisnya bahkan saling tertaut, tapi sedetik kemudian dia menyeringai.
"Jadi perempuan itu sudah pulang ke Indonesia, ya?" lanjut Mike dengan ponsel yang masih menempel ke telinga.
Hening lagi. Senyum dan sorot mata Mike menunjukkan keambiguan. Tanpa permisi dia menyentuhkan jempolnya ke bibir Dina yang merah. Anehnya Dina justru mengemut seolah jempol Mike adalah permen.
Mike tersenyum, dia menikmati sensasi yang ada. Tubuhnya bagai tersengat listrik dan dia suka itu.
"Baiklah, saya paham. Kamu sudah bekerja keras. Saya akan minta Jordan buat transfer uangnya segera," lanjut Mike lagi, lantas dengan cepat mematikan panggilan. Dia melihat dengan seksama betapa nikmatnya Dina mengemut jempolnya.
Tiba-tiba Mike jambak rambut Dina yang panjang. Dina tentu saja mendongak. Namun anehnya bukan suara erangan yang terdengar melainkan desaahan nakal. Gadis itu bahkan tersenyum genit ke arah Mike
"Kamu sengaja menggoda saya?" tanya Mike, datar. Seringai profesional seorang pria tercetak jelas.
"Aku rela ngelakuin apa aja buat kamu. Tolong izinkan aku melayanimu," sahut Dina, sensual.
Sedetik kemudian Dina mengerang pelan. Dia merasa jambakan Mike sedikit kencang. Sorot mata pria itu juga sudah berubah drastis.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Dina sembari memegang tangan Mike. Kulit kepalanya mulai sakit.
Mike menyeringai. Dia mendekatkan kepalanya ke telinga Dina. "Tetap hormati saya. Yang boleh bicara santai sama saya hanya Naya. Ngerti."
__ADS_1
Dina mengangguk. Mike pun melepaskan cengkeraman tangannya. Pelan dia usap pipi Dina. "Saya nggak tahu apa niat kamu datang ke sini. Tapi karena kamu sudah memutuskannya jadi lakukanlah dengan baik."
Setelah mengatakan itu Mike dengan kasar memaksa Dina berlutut di depannya. "Lakukanlah, lakukan dengan baik."
Sementara itu, Naya tidak bisa tidur di kamarnya. Dia gelisah dan terus saja bolak-balik mencari posisi yang nyaman. Namun tetap saja, nihil. Matanya kemudian tertuju ke jam digital besar 3D yang ada di dinding.
"Udah jam dua ternyata. Tapi tumben dia gak nerobos masuk," gumam Naya. Matanya kini terarah ke pintu.
Sedetik kemudian lekas dia memukul kepalanya sendiri. Dia merasa mendadak berubah menjadi seorang istri yang khawatir akan suami.
"Gak, itu gak bener. Aku gak gila. Aku gak mungkin mendambakan laki-laki brengsek kayak dia. Masa iya hanya gara-gara dibela di depan Starla aku langsung jatuh cinta. Ayolah Naya, jangan baper."
Tiba-tiba bayangan Dina yang menerobos masuk ke dalam kamar Mike mengudara dalam benak. Gegas dia duduk dan menjambak rambutnya sendiri. Dia frustrasi sendiri membayangkan hal dewasa apa yang tengah Mike dan Dina lakukan.
"Aish! Ayolah, aku harus tenang. Makin gelisah makin sulit nanti. Naya, Naya ayo! Kamu harus waras. Apa karena sering tidur seranjang kamu jadi mendambakan dia? Ayolah, Jangan konyol. Dia brengsek. Biarin aja dia. Mau sama Dina atau sama perempuan mana pun terserah. Gak ada sangkut-pautnya sama kamu."
Tiba-tiba handle pintu terputar. Cepat-cepat dia berbaring dan menutup hampir seluruh tubuh dengan selimut.
'Kenapa dia datang ke sini lagi? Jangan-jangan dia mau lanjutin yang tadi?'
Naya membatin resah menahan gelisah.
Dup-dup-dup-dup.
__ADS_1
Jantung Naya bertalu-talu makin hebat. Keringat dingin bahkan sudah keluar membasahi badan. Dia semakin horor saat ranjang mulai bergerak.
'Nek, tolong ....'