
"Jaga atitud! Apa kamu gak tau kalau akulah nyonya di rumah ini?" sergah Naya. Dia menyeringai dan bersedekap.
"Kau ...." Laura tak bisa berkata dia segera berdiri dan hendak menyerang lagi, tapi tak bisa karena para ajudan sudah mengunci pergerakannya. Dia terus meronta tapi tetap diabaikan mereka.
"Naya, kamu sama seperti ibu kamu! Perempuan licik! Murahan! Brengsek! Kalian benar-benar mirip! Pergi kamu ke neraka!" teriak Laura histeris.
Melihat itu Naya pun terbahak. Dia mendekat dan mengapit dagu Laura, lantas secara seksama menyapu wajah Laura yang sudah keriput.
"Kalau aku licik lalu kamu apa? Kasih tau aku, bilang kira-kira kata apa yang cocok buat seorang pembunuh, penipu dan juga ...."
Naya menyeringai. "Kau lesbi, 'kan?" lanjutnya.
Laura mematung. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan angkuh.
Terbahak lagi, Naya pun melepaskan apitan lalu bertepuk tangan. "Aktingmu benar-benar oke. Aku bodoh karena percaya. Dulu aku kira kamu beneran malaikat, sekarang aku sadar kalau kamu lebih parah dari penjahat. Bagaimana bisa seorang perempuan ngelakuin hal begini? Apa jangan-jangan rumahku yang tiba-tiba kebakaran itu semua ulah kamu?"
Jeda lagi, Naya pun berjalan menuju meja hias yang ada di sana, lantas menyandarkan diri. Dari posisi yang agak jauh dia bisa melihat gerak-gerik Laura yang seperti cacing kepanasan—meronta-ronta.
"Tentu saja. Aku yang ngelakuin itu. Aku buat ibumu menderita lahir batin. Aku buat dia gak bisa kerja. Kusebarkan gosip yang bikin hidup ibumu makin sengsara. Kenapa? Kamu mau marah? Silakan! Apa kamu kira aku bakalan maafin kamu dan ibu kamu?" cecar Laura, matanya melotot. "Enggak bakalan! Aku udah bersumpah dengan nama anakku, aku bakalan hancurin hidup orang yang udah ngancurin hidupku!"
"Oh ya? Lalu sekarang siapa yang mau kamu salahkan? Apa aku juga?" Naya kembali tertawa sinis. Dia mendekat lagi dan menjambak rambut Laura. "Kalau begitu tindakanku kali ini juga bener. Aku balas dendam. Karena kamu aku gak pernah ketemu orang tua. Karena kamu aku menderita. Kalau dipikir-pikir bukankah sakitku lebih dari kamu. Kamu cuma keguguran, sedangkan aku, dari lahir aku gak pernah orang tua, aku gak dapat kasih sayang, hidup dalam kemiskinan dan sekarang kamu bawa aku dalam lingkaran ini. Jadi siapa yang patut aku salahkan?"
Laura menjerit. Jambakan Naya lumayan kencang sebelum akhirnya suara tepuk tangan dari arah pintu membuat Naya refleks melepaskan.
__ADS_1
Di sana tampak Mike dengan ekspresi bahagia mendekat. Dia pindai Naya yang berang dan Laura yang berantakan.
"Bagus, ini baru nyonya Mike," ujar Mike setelah tiba di depan Naya. Dia membentuk smirk lalu mengusap rambut Naya yang sekarang lumayan panjang.
Tak cuma itu, perlakuan Mike membuat Naya terbelalak, dia kira Mike akan marah, tapi justru tanpa di duga Mike mengambil alih—mengapit dagu Laura dengan kuat.
"Beraninya kamu datang ke sini?"
"Justru dari itu. Kenapa kamu lakukan ini, Tuan Mike. Kita sudah sepakat kalau kita akan jadi rekan bisnis? Lalu kenapa sekarang jadi begini?" tanya Laura. Dia tampak mengiba.
"Apa maksud Bu Laura? Saya sebagai pengusaha tentu saja menilai dan menimbang semuanya dari segala sisi. Kalau lebih banyak ruginya kenapa harus dipertahankan? Lagian, siapa suruh korupsi, mengelak pajak dan masih banyak suap. Apa sebelum bertindak Bu Laura tidak berpikir panjang? Lagi pula ini sudah jadi keputusan dewan dan pemegang saham, kalau saya yang akan mengambil alih tugas Bu Laura. Mereka percaya pada saya karena saya adalah orang kedua pemenang saham paling besar, lalu kenapa saya tolak tawaran yang menggiurkan itu?"
"Tapi kesepakatan kita?"
"Mike!"
"Tolong kedepannya jaga bicara Anda, Bu Laura. Jangan sampai kata-kata barusan jadi bumerang. Apa jatuh miskin belum cukup?"
"Brengsek! Bagaimana dengan perjanjian kita?" teriak Laura mkin nyaring.
"Perjanjian? Perjanjian apa? Yang mana? Tanggal berapa? Apa semuanya terbukti? Ada CCTV mungkin?" Mike terkekeh sini. Dia lepas apitan tangan lalu merangkul Naya begitu mesra. "Ayolah Bu Laura, saya bukan amatiran. Setiap transaksi saya selalu merekam bukti. Bukankah kerja sama kita selalu di lakukan di kantor. Selain itu rasanya tidak ada."
"Mike! Jangan macam-macam sama saya!" teriak Laura lagi. "Saya punya bukti kesepakatan gelap kita!"
__ADS_1
"Oh ya? Yang mana? Apa yang kamu maksud kontrak yang kamu sembunyikan di rumah rahasia pembantu itu? Siapa namanya?"
"Marta," sahut Naya ketus.
"Nah iya, Marta," sambung Mike. Dia menyeringai melihat Laura yang membulatkan mata. Bibir wanita itu bahkan bergetar. Tampak sekali tengah gelisah.
"Jadi, Bu Laura. Sebaliknya sekarang kamu pergi, karena apa ... karena bukti pemalsuan kecelakaan Pak Burhan yang kamu lakukan sudah saya kirimkan ke kantor polisi."
"Apa?"
Laura terbelalak makin besar, sedetik kemudian histeris. Dia meronta lagi hingga Mike memberi kode pada dua bodyguard untuk membawa Laura pergi.
Sekarang tinggallah dirinya dan Naya di di sana. Mike menatap Naya dari samping. Dia benar-benar tak percaya kalau gadis yang ada di sebelahnya telah berubah. Rasanya dia senang saat melihat Naya marah. Sekarang terlihat lebih manusiawi. Terlalu, lemah, pasrah dan baik bukankah tidak cocok untuk makhluk yang bernama manusia?
"Sayang, lihat aku," ucap Mike.
Naya yang sudah memastikan punggung Laura hilang dari pandangan sontak mendongak melihat Mike.
"Kamu sangat cantik kalau lagi marah."
***
maafkan tadi lagi ngelindur jadi pagi aku up lagi bab semalam. jadinya dobel. nah ini udah aku benerin. heheheh
__ADS_1