
"Dasar murahan! Berani-beraninya kamu melarang Mike bertemu aku. Rasakan ini, dasar sundall!"
Tendangan Laras mendarat untuk kesekian kalinya di perut Dina. Dia terus saja mengumpat sembari menganiaya Dina yang sudah meringkuk lemah di lantai. Dia sama sekali tidak membiarkan Dina untuk melawan.
Sementara Dina, dia melemah kalah dengan tubuh yang rasanya sudah remuk redam. Darah bahkan mengalir dari hidung juga bibir.
"T-tuan ...."
Akhirnya suara itu keluar juga dari bibir Dina. Ya, meski terdengar sangat lirih. Pandangannya yang mulai buram melihat Mike, berharap Mike yang duduk di sofa membantunya, tapi sayang pria itu sepertinya sama sekali tidak peduli. Dia masih santai menghisap rokok dengan pandangan yang sulit Dina artikan. Di sana tidak ada kemarahan, kasihan atau apa pun. Sorot mata itu begitu tenang seakan menikmati kesakitan yang dia alami.
"T-tuan ...." Dina memanggil lagi sembari mencoba bangkit. Sayangnya Laras yang masih kesal melayangkan kembali tendangan hingga membuatnya kembali terjerembab.
"Dasar keras kepala!" sentak Laras nyaring, lantas mendekati Mike yang duduk santai di sofa. Emosinya benar-benar meledak.
Sembari melihat nyalang Mike, Laras pun menunjuk Dina yang melemah di sana. "Apa dia alasan kenapa kamu selalu mengabaikan aku? Aku udah hampir dua minggu balik ke sini. Tapi kamu selalu nolak kalau aku ajak ketemuan. Apa karena dia?" tanya Laras. Wajahnya yang cantik tak bisa menutupi kemarahan.
Alih-alih menyanggah, Mike justru terbahak. Dia matikan rokok, berdiri tegap, lalu mengembuskan asap ke depan Laras.
"Mala, panggil dokter dan rawat Dina," ujar Mike tanpa melihat Mala.
Mala yang memang berdiri tak jauh dari Mike hanya mengangguk patuh. Dia dan dua bodyguard di sana membopong Dina pergi masuk ke kamar.
"Jawab, Mike! Apa kamu beneran nolak aku demi dia?" teriak Laras lagi.
__ADS_1
Mike menyeringai. Matanya mendadak tajam. Tanpa aba-aba dia apit dagu Laras dengan kuat. "Memang apa urusanmu?" tanyanya geram.
"Aku ini wanitamu. Apa kamu lupa, kamu yang ambil keperawanan aku, Mike. Kamu kasih keperjakaan kamu buat aku dan aku kasih keperawanan aku buat kamu."
Mendengar itu Mike terbahak nyaring. Dia lepas apitan tangannya lalu membalik diri. Dia punggungi Laras.
"Kenapa tertawa? Apa harus aku ingatkan, waktu kita masih sama-sama delapan belas tahun, kita melakukannya di kamar belakang," lanjut Laras lagi.
Bak api tersiram air. Tawa Mike langsung berhenti. Dia lalu kembali menatap Laras yang bersedekap. Mike masih ingat jelas, dulu dia begitu tergila-gila pada Laras sebelum akhirnya Laras mengkhianati dan pergi keluar negeri.
"Bukankah kamu sudah mendapat bayaran dari orang tuaku. Lalu, buat apa kamu ungkit itu lagi?" tanya Mike. Aura dingin mendominasi.
"Sekarang kamu sudah sukses karena ninggalin aku. Kamu bahagia saat aku begitu menderita karena ulahmu. Lalu sekarang, kamu mau kita kembali lagi?" Mike tergelak sinis. Dia toyor kepala Laras. "Apa kamu waras?" lanjutnya sarkastik.
"Tapi tetap saja, kita bahkan pernah berjanji bakalan sama-sama walaupun orang tuamu menentang."
"Karna dulu kamu pengecut, Mike. Apa yang kamu lakukan saat ibumu menyeret aku keluar dari kamar kamu?" Laras menjeda kata lagi. Dia menarik napas panjang, lantas kembali berteriak, "Enggak ada Mike. Kamu gak ada usaha apa-apa! Kamu cuma diam!"
"Dulu itu karena aku terlalu terkejut. Harusnya kamu kasih aku waktu. Tolak tawaran mereka dan liat usahaku buat pertahankan kamu. Tapi apa? Kamu langsung pergi gitu aja," balas Mike gak kalah emosi.
"Lalu, apa kamu kira saat aku nolak keinginan orang tua kamu kita bakalan tetep sama-sama? Mereka gak bakalan usaha misahin kita lagi? Atau ... apa kamu pikir kalau kita tetep ngotot mereka bakalan ngerestui kita?"
Untuk kesekian kalinya Laras menjeda kata, kekesalannya makin meninggi. "Enggak Mike! Kita tau bagaimana orang tuamu!"
__ADS_1
"Lalu, kenapa kamu gak pulang saat mereka mati?" cecar Mike. Matanya melotot.
Laras gelagapan. Dia membalik diri memunggungi Mike. "Dulu itu situasinya gak memungkinkan buat aku balik. Aku lagi dipuncak karir, Mike. Aku harus menggapai apa yang aku mau. Aku gak mau nyia-nyiain usaha yang udah aku lakukan."
"Alasan klasik," sahut Mike. Dia berdecih lalu mendekati Laras dan mensejajarkan diri. "Sudahlah. Pergi sana. Kita sudah selesai, Laras. Jangan ganggu hidupku. Nikmatilah semua kesuksesan yang udah kamu terima karena ninggalin aku. Aku gak butuh kamu. Aku bukanlah Mike yang dulu. Mike yang terlalu bucin dengan anak seorang pembantu."
Telak, sebuah penuturan yang membuat Laras gemetar. Apalagi saat melihat Mike berjalan menjauh.
Merasa tak ada jalan lain, Laras pun memeluk Mike dari belakang. Air matanya meluruh. Dia tenggelamkan wajah ke punggung Mike.
"Lepas, Laras!"
Laras menggeleng. "Gak, aku gak bisa lepasin kamu, Mike. Aku gak bakalan buat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Aku masih sayang. Tolong maafkan aku. Kamu tau, perpisahan kita bukan aku yang mau."
Mike melepaskannya pelukan Laras, lantas membalik diri. Dia tangkup pipi wanita itu. Di matanya Laras masih terlihat cantik dan mulus. Sama seperti lima belas tahun lalu saat mereka masih sama-sama remaja.
"Kamu ingin kita balik lagi?" tanya Mike.
Laras.
__ADS_1
Dina.