Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Kemarahan Naya.


__ADS_3

"Tapi beneran, aku nggak tahu. Aku nggak kenal dia," ucap Naya, dia mengiba makin hebat. Namun, Mike yang sudah kadung kesal kembali mengapit pipinya dengan erat.


"Kau tahu, aku paling benci penghianat! Aku paling benci pembohong! Harusnya kamu itu bersyukur, aku sudah keluar uang banyak demi menyelamatkan perusahaan kalian. Dan aku juga udah berlaku baik sama kamu. Aku juga udah sopan, tapi apa ini, Naya? Kamu menghianatiku! Kamu pembohong!" ucap Mike setengah berteriak. Bola matanya memerah, urat nadinya bahkan tampak berdenyut hebat. Dia lepaskan tangannya dari Naya, lantas dengan santai menyulut api rokok.


"Periksa dia, Dok. Mari kita lihat sampai mana dia mau berbohong," titah Mike pada seseorang laki-laki berpakaian serba putih.


Mendengar itu Naya makin ketakutan. Dia gemetar makin hebat. Lekat dia melihat Mike yang sudah duduk di sofa dengan rokok di tangan. "Tuan ... tolong percaya. Ini ... ini gak bener. Aku masih perawan."


"Satu-satunya cara untuk buktikan itu cuma diperiksa. Sudah. Jangan membantah," balas Mike. Tegas dan tidak mau dibantah.


"Baringkan dia," lanjut Mike lagi pada dia bodyguard yang mengapit Naya.


Seketika saja Naya dibaringkan paksa, bahkan kakinya sudah ditekuk. Naya yang merasa terpojok pun meronta sekuat tenaga, tapi tidak ada hasilnya. Alhasil, dia menjerit histeris. Gadis itu benar-benar merasa frustasi, nyalang dia menatap Mike yang sudah berdiri dan mendekat.


"Kenapa berteriak? Kamu gak punya hak!" bentak Mike tak kalah nyaring. "Dan kalian kenapa tidak langsung bekerja? Cepat lakukan!"


Dokter itu gelagapan. Dia berancang-ancang akan melakukan tugas, tapi tertahan karena Naya kembali berontak.


"Bunuh saja aku! Bunuh!" teriak Naya, air matanya bergelimang makin deras. Nanar matanya melihat Mike yang ada di sebelah. "Kamu memang benar brengsek! Kamu laki-laki paling bangsatt sedunia yang pernah aku kenal, Mike. Apa untungnya aku berbohong? Bukankah kau tahu kalau aku nggak punya tujuan lain lagi? Aku nggak punya siapa-siapa, Mike! Selama ini aku udah berusaha menurut, aku melawan rasa takut dan tetap bersedia tinggal di sini. Aku selalu ngelakuin apa yang kamu mau. Aku tatap jadi bonekamu, lalu apa ini? Hanya dengan satu kata pria asing kamu langsung curiga. Brengsek kamu! Kamu bedebah sialan!"

__ADS_1


Mike terdiam, bola matanya begitu nanar melihat Naya yang menangis. Namun lagi-lagi tak ada kasihan sedikitpun. Cepat dia matikan api rokok, lantas tanpa permisi naik ke ranjang dan menjambak rambut Naya lagi.


"Apa kau bilang?" tanyanya geram.


Sekarang tidak ada rintihan seperti sebelumnya. Naya seakan-akan sudah siap. Dia siap mati di tangan Mike daripada harus dipermalukan sedemikian rupa. Telanjang di depan Mike saja sudah hampir membuatnya gila. Kini dia juga harus di tes untuk menguji keperawanan. Ya Tuhan ....


"Sialan kamu, Mike! Aku nggak pernah bohong! Aku memang nggak kenal sama dia! Kenapa kamu nggak bisa percaya? Ha! Kenapa?" teriak Naya.


Mike bungkam. Hanya sorot matanya yang masih bekerja—melotot tajam melihat Naya.


"Aku memang sudah kamu beli. Harga diriku juga udah nggak ada di sini. Tapi apa kamu harus ngelakuin hal kejam kayak gini?'' ucap Naya, matanya melihat ke sekitar begitu banyak laki-laki yang berdiri tanpa ekspresi. Belum lagi seorang dokter yang berdiri di depannya.


Mendengar itu tak lantas membuat hati Mike iba. Dia jambak makin keras rambut Naya, melihat dengan seksama wajah sembab gadis itu serta menikmati darah segar yang menyatu dengan air mata. Dia menyeringai lantas berkata, "Apa kamu kira bisa mati dengan mudah? Kamu budakku! Kamu sudah aku bayar, jadi mati pun harus atas seizinku. Ingat itu."


Lantas melepaskan cengkeraman dan berdiri tegak di sisi ranjang. "Aku adalah Mike. Gak boleh ada yang pergi atau mati tanpa izin dariku, termasuk kamu!"


"Kamu brengsek! Kamu brengsek!" teriak Naya. Dia histeris makin hebat.


Mike yang melihat itu langsung terdiam, dengan sekali gerakan kepala semua orang di sana sudah hilang dari pandangan.

__ADS_1


Kini, tinggalan Naya yang terbaring dengan isak tangis yang begitu terdengar pilu. Dia meringkuk membelakangi Mike. Rasanya dia sudah tidak punya tenaga lebih untuk berteriak lagi.


"Sudah aku bilang aku perempuan baik-baik. Aku mencoba menurut, Mike. Aku aku mencoba menerima kenyataan kalau aku ini memang perempuan yang sudah kamu beli. Aku juga udah nerima kenyataan kalau akan ini calon jalangg mainan kamu. Apa sesulit itu untuk kamu percaya? Apa perlu harus melakukan hal gila kayak gini? Apa perlu kamu merendahkan harga diriku yang sudah habis di depan laki-laki tadi?"


Lagi, Mike tak tergerak sama sekali. Dia yang sudah kadung kesal duduk di sisi ranjang dan memaksa Naya untuk melihatnya lagi. Dia apit paksa wajah Naya yang sembab.


"Aku tekankan sekali lagi, jika yang dia katakan itu benar, maka tamat kau. Kau akan mati ditanganku," geram Mike, dia lantas melepaskan apitan dan pergi meninggalkan Naya. Sebuah benturan pintu menutup segalanya.


Naya telungkup, dia menyembunyikan wajah dalam selimut lantas berteriak lantang, menyalurkan rasa kesal yang bergejolak hebat dalam dada.


Sungguh, dia tidak pernah menyangka akan menghadapi situasi rumit ini. Satu sisi dia benci Mike, tapi satu sisi dia ingin Mike percaya kalau dirinya memang tidak yang seperti mereka tuduhkan.


Masih dengan posisi yang sama—memeluk selimut, Naya yang sudah putus asa mengingat sosok sang nenek yang sudah meninggal. Air matanya makin deras. Dia merindukan kehangatan neneknya meski hidup serba kekurangan. Dia ingin kembali ke masa itu.


"Nenek ... tolong bawa aku, Nek. Aku udah nggak kuat lagi. Aku bener-bener takut ...."


Mata Naya melihat ke sekitar. Pandangannya terhenti tepat setelah melihat serpihan kaca yang ada di lantai.


Perlahan-lahan dia beranjak dari kasur dan memungut serpihan kaca itu, lantas kembali duduk di sisi ranjang. "Kak Ken, maaf ... aku nggak bisa nunggu lagi. Makasih karena udah berjuang demi aku. Makasih karena udah hadir dalam hidup aku. Aku lelah Kak, aku mau istirahat.''

__ADS_1


__ADS_2