
POV Ken.
[Sean, aku sudah ketahuan. Sekarang gak ada cara lain buat mundur. Aku akan melakukan pencarian di tempat terakhir. Semoga buktinya ada di sana.]
Send. Pesan terkirim tapi hanya centang satu. Tidak masalah, mungkin Sean sedang sibuk. Aku pun memutuskan memberi mode getar saja pada ponsel ini, lantas memakai jaket hitam.
Sekarang aku berada dalam kamar Naya dan berdiri mantap di depan cermin, memandang wajahku yang babak-belur karena dikeroyok anak buah Laura.
Sakit? Tentu saja aku merasakan itu. Dikeroyok lima orang sekaligus siapa yang bisa melawan coba. Aku hanya bersyukur sekarang masih hidup. Hanya saja tidak bisa pasrah gitu aja. Aku harus menepati janji yang sudah aku buat untuk Naya.
Sekarang mataku menatap lekat sepasang sepatu heels yang berada di atas meja rias. Sepatu yang Naya gunakan dulu. Sepatu pertama yang membuatku sakit kepala karena tu anak pembangkang luar biasa.
Ah, mengingat Naya menyesakkan dada.
"Tunggu aku Naya, aku bakalan bebasin kamu. Maaf, karena aku kamu jadi begini."
Aku pun keluar dari apartemen dengan mengenakan pakaian serba hitam, master dan topi berwarna senada. Aku celingukan, takut kalau Laura masih memata-matai. Bisa brabe jika aku sampai ketahuan oleh orang yang nggak punya hati seperti dia.
Bermodalkan insting dan tekad yang kuat aku pun menerobos pekatnya malam dan dinginnya cuaca menuju rumah Martha dengan menggunakan sepeda motor. Ya, aku mencurigai Martha, kepala asisten rumah tangga Laura.
Kalian tau, sudah lama aku bekerja di keluarga itu, anehnya hanya Marta yang tidak bisa aku mengerti. Dia selalu patuh pada Laura meskipun mendapat perlakuan kasar. Dan yang buat aku tidak habis pikir, di umurnya yang sudah tua dia sama sekali tidak risih dengan status perawan tua.
Apa karena dia pendiam? Atau jutek? Atau ... entahlah, aku tidak bisa bercerita lebih. Marta itu misterius.
Setelah melakukan perjalanan panjang tibalah aku di depan rumah sederhana. Lumayan jauh dari ibu kota. Lingkungan rumahnya juga sangat gelap, tak ada lampu penerangan. Aku heran, buat apa Marta membeli rumah yang jauh bahkan cenderung sepi?
__ADS_1
Ah ... sudahlah, aku tidak ingin berspekulasi lebih jauh. Yang terpenting adalah mencari bukti. Semoga barang buktinya ada di sini.
Bak pencuri profesional, aku pun melancarkan aksi memanjat pagar, lalu memasukkan kunci. Ya, kunci yang sudah susah payah aku duplikat tadi pagi sebelum berangkat ke rumah sakit.
Lagi-lagi aku melawan diri. Bermodal senter kecil aku mulai mencari sesuatu meski tabuhan dalam dada menggila. Mataku bahkan tidak terlalu fokus. Aku hanya ingin mencari apa pun yang bisa jadi bukti kejahatan Laura.
Semuanya aku cek, dari laci, lemari bawah kasur, bahkan di belakang foto pun aku geledah. Sayangnya tidak ada. Kamar, ruang tamu, dapur bahkan toilet aku cek semua tanpa melewatkan hal kecil.
Aku terduduk lelah. Sudah setengah jam mencari tapi tidak ada satu pun. Entahlah ... aku mulai putus asa.
"Gak bisa. Aku gak bisa nyerah gitu aja."
Aku bergumam bak orang gila. Aku butuh dorongan dan Naya adalah jawabannya.
Bermodal lampu pendar senter kecil tiba-tiba saja aku yang sedang duduk lelah di sofa melihat sesuatu yang aneh. Ada satu patung berbentuk Minion di atas meja. Imut menurutku, tapi kenapa ada benda seperti itu di rumah Marta yang terlihat kaku?
Kreat
Aku tersentak akan sesuatu bunyian. Aku baru sadar kalau aku sudah membuat kepala Minion itu berputar. Dan ternyata bunyian berderit itu dari porselen yang ada di bawah kaki. Seperti brangkas.
Masih dengan penasaran yang menggunung, aku pun mencoba memecah kata sandi. Pertama mencoba menebak, apa sandi itu menggunakannya ulang tahun Marta? Salah. Tidak bisa. Pintu brangkas tidak terbuka.
Lalu kucoba ulang tahun Laura. Tapi tetap tidak bisa.
Terakhir kucoba memadukan tanggal lahir keduanya. Ajaib brangkas kecil ini terbuka.
__ADS_1
Mataku langsung terbelalak. Di sini ternyata begitu banyak aset Pak Burhan yang setahuku milik Pak Burhan sudah berubah nama jadi namanya. Ternyata tak hanya satu, rumah pribadi, Villa, tanah bahkan kendaraan pribadi Pak Burhan pun sudah berganti nama.
Apa-apaan ini? Konspirasi ini sangat mengerikan. Aku kembali membuka map lain.
Dapat. Ternyata di sini Laura menyembunyikan kontraknya dengan Mike. Namun tiba-tiba mataku tertuju pada map lain, tanganku mulai membuknya. Map berwarna cokelat kehitaman.
Degh! Jantungku serasa di palu. Ini ... ini benar-benar luar biasa. Laura bukan manusia. Saking tak percaya aku bahkan membolak-balik halaman itu beberapa kali. Kepalaku sampai berdenyut. Bagaimana bisa Laura memalsukan data dari rumah sakit?
Di kertas ini menjelaskan kalau Pak Burhan koma disebabkan oleh benda tumpul yang menghantam kepala. Di situ juga ada keterangan siapa dokternya.
Anehnya di laporan yang pernah aku periksa tertera kalau Pak Burhan mengalami kecelakaan. Sekarang aku menyadari, nama dokter penanggung jawab ternyata berbeda.
"Dia benar-benar bukan manusia," umpatku geram. Aku bergegas memasukkan bukti-bukti ke ransel, lalu berjalan keluar dengan perlahan.
"Dengan bukti-bukti ini aku pasti bisa bebasin kamu Nay. Tunggulah."
***
Gaes, tolong jangan di skip ya. Cerita ini bakalan tamat dalam bulan ini. Semangatin aku dengan kasih like, vote dan hadiah. hehehe
Oiya aku baca komenan kalian. Keknya tegang banget ya. Heheh.
Kalau mau yang sama tegangnya bisa klik profil aku. Di sana ada judul bersuamikan pria yang kejam
Cuma 50 an eps dan tamat. Tapi aku gak tanggung jawab kalau kalian tetiba jadi emosian. heheh
__ADS_1
kalo mau yang komedi bisa baca Istri Nakal Sang CEO ( Tamat) dan ketika Yuna Bertemu Duda ( Ongoing).
Heheh maksih. nanti aku up lagi.