Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Dendam


__ADS_3

"Di sana." Sean menunjuk mobilnya. "Di sana ada kamera dashboard yang bisa jadi bukti kejahatan kalian tadi."


Mata Juno terbelalak. Dia tak menyangka kalau rencana yang sudah diatur sedemikian rupa olehnya dan kawan-kawan bisa berantakan.


"Oh iya. Sebagai bahan informasi aja nih, karena tuntutan profesi yang saya geluti sekarang, saya punya cara melindungi diri yang bisa di bilang cukup unik dan bisa dibilang cukup lebai. Asal kamu tau, saya punya tim keamanan sendiri. Mereka juga punya kebiasaan mengirim kode pada saya setiap dua jam sekali." Sean berkata sembari melihat arloji yang melingkar di lengan. Sedetik kemudian dia menarik sebelah bibir, lantas kembali melihat Juno.


Tiba-tiba suara ponsel Sean berbunyi sekali dengan insensitas waktu yang cukup singkat. Tentu saja bunyian itu semakin membuat Juno gelisah.


"Dan sekarang mereka sudah kirim pesan. Jika dalam dua menit tidak ada balasan, maka mereka akan langsung menelepon. Dan kalau tidak diangkat, mereka akan on the way kemari dengan tim yang bisa dibilang lumayan rame. Jadi, apa kamu berkepikiran buat nyingkirin saya dan buktinya?"


Juno mematung. Dia tak habis pikir kalau laki-laki bertampang malaikat di depannya kini ternyata seorang psikopat. Dia mulai gemetar saat ponsel yang Sean pegang kembali berdering.


"Gimana? Kamu mau liat secara langsung bagaimana cara mereka melindungi saya?" tanya Sean lagi, bibirnya naik sebelah dengan alis naik turun.

__ADS_1


Juno tak menyahut. Sean bukanlah lawannya.


"Saya kasih tau, pria yang kamu ikuti itu juga gak bakalan bisa lepas dari jerat hukum. Terus apa kamu tau juga kalau orang tua temenmu itu selain punya bisnis furniture mereka juga punya bisnis bodong. Kalau saya mau, bisa saja saya usut sampai habis. Jadi, apa kamu pikir dia bakalan tetep bantuin kamu?" ucap Sean, tangannya bersedekap.


Bak melihat dan mendengar cerita setan, Juno pun langsung pias. Bergegas dia membuka pintu mobil, lalu berbisik pada Mario.


Perubahan ekspresi Mario juga kentara. Kristian dan Naya yang melihat gelagat kedua orang itu menjadi keheranan. Tak hanya ekspresi, gerak tubuh Mario pun berubah. Dia dengan perlahan menurunkan benda tajam dari leher Naya, lantas mencengkeram kuat kerah baju yang Juno kenakan.


"Apa kamu yakin?" tanyanya menggeram.


"Kenapa Bos? Ada apa?" tanya Kristian.


Mario berdengkus. "Sudah, jangan banyak tanya, lepaskan ikatan tangannya."

__ADS_1


Mata Kristian dan Naya kembali terbelalak, bahkan semakin lebar. Dia merasa perintah Mario tidak masuk akal.


"Kenapa harus dilepaskan? Kita sudah susah payah melakukannya," protes Kristian.


"Goblokk! Bisa gak sih lakukan tanpa harus nanya?" hardik Mario, kesal. Dia bahkan memukul kepala Kristian. "Lepaskan dia."


"Oke oke."


Meski bingung Kristian lakukan perintah Mario. Selain pemimpin, Mario juga sumber dana mereka. Jadi, perintah Mario adalah fatwa tak terelakkan baginya, Juno dan Edwin.


Berdengkus, dari dalam mobil Mario melihat Sean yang masih mengawasi mereka.


"Sialan! Oke. Aku ngaku kalah hari ini. Tapi inget, aku bakalan balas ini. Seorang Sean ataupun anak presiden gak bakalan bisa gangguin urusanku," gumam Mario. Dia mengetatkan rahang dan mengepalkan tangan.

__ADS_1


Kini matanya yang tajam menatap Naya, lalu tanpa permisi mengapit pipi Naya menggunakan sebelah tangan.


"Kamu ... aku nggak tahu seberapa banyak keberuntungan yang kamu punya. Aku nggak tahu apa hubunganmu dengan dia, tapi aku tekankan kalau kamu sudah jadi perempuan incaranku. Untuk kali ini kamu bisa selamat. Tapi enggak akan untuk lain kali. Kalau saat itu terjadi aku nggak bakalan lepasin kamu meskipun anak seorang mafia yang ada di depanku. Ngerti."


__ADS_2