
Naya menahan ludah. Dia liat foto di liontin itu. Tampak tiga manusia yang tak asing. Ada Sean, Ken dan juga gadis yang dulu pernah dia lihat keluar dari apartemen Ken.
"I-ini siapa kamu?" tanya Naya akhirnya. Bibirnya bergetar.
"Oh, kalo yang laki-laki di sebelah aku itu namanya Kenzi. Kita temenan dari kecil. Sekarang dia jadi asisten pribadi. Terus kalo cewe yang nempel banget sama Ken itu namanya Michella, panggil aja Sela. Dia adik aku," terang Sean.
Hening. Naya tak berkata. Dia hanya mengerjap melihat benda di tangan. Jujur, dia tak sadar telah berada di situasi yang makin rumit. Itu artinya ....
"Apa Sela dan Ken ...."
"Pacaran?" sela Sean.
Naya mengangguk. Anehnya Sean malah terbahak. Dia menggeleng mantap.
"Enggak. Mereka gak pacaran. Tapi aku akui kalau Sella memang suka Ken. Tapi Ken jelas enggak."
"Jadi maksud kamu mereka enggak pacaran?'
Alis Sean naik sebelah. Dia lihat wajah Naya yang panik. "Kenapa? Jangan bilang kamu naksir Ken? Kalau iya lebih baik kamu putuskan pikiran itu. Dia gak doyan perempuan. Dia terlalu kaku. Kamu bakalan rugi jika jadi sama dia."
Naya mematung. Bukan karena pemaparan Sean yang jadi pemikiran, melainkan dia baru sadar kalau ternyata sudah salah sangka. Dia kira Ken melupakannya dan pacaran dengan perempuan lain, tapi yang terjadi ....
Naya mendesahh. Mendadak tulang-tulang kehilangan fungsi. Dia tersandar lelah lantas memalingkan wajah. Dia hapus air yang perlahan turun dari pelupuk mata.
"Hey, Nay. Kamu kenapa?" tanya Sean.
Naya tersentak, tiba-tiba saja mendapat angin segar. Lekat dia menatap Sean yang kembali melihat jalanan.
"Kamu sebenarnya kerja apa?" tanya Naya. Di foto itu terlihat jelas kalau Sean, Ken dan Sella berfoto di depan sebuah bendera merah yang bertuliskan Harvard Law School.
"Aku? Aku pengacara. Kenapa?" tanya Sean. Dia mulai curiga karena Naya yang terlalu serius.
Akan tetapi Naya bergeming. Tangannya meraih selembar kertas yang ada di atas dasbor.
"Jadi nama kamu Sean?'' tanya Naya lagi saat melihat kartu pengenal Sean.
Sean nyengir lalu mengangguk.
__ADS_1
"Kalau pekerjaan orang tua kamu?" tanya Naya lagi.
Alis Sean naik sebelah. Dia mulai berspekulasi, apa mungkin Naya sama seperti gadis lain yang hanya memandang latar belakang. Namun tetap saja dia merasa ada yang janggal. Mata gadis lain saat bertanya pastilah menunjukkan ketertarikan. Beda jauh dengan Naya yang penuh kekhawatiran.
"Kalau mama sekarang jadi hakim di Bandung. Kalau papa masih menjabat jadi kepala Jaksa di Jakarta sini. Kenapa memangnya?"
Bak mendapat angin segar. Naya langsung tersenyum. Harapan lepas dari Mike terbuka lebar. Mungkin Sean dan keluarganya bisa membantu. Ya, begitu pikirnya.
"Begini, Sean. Sebenarnya ...."
Belum juga sempat selesai melisankan kata, sebuah bunyian dari dalam tas mengagetkan Naya. Tampak notifikasi dari apliksi chat berwarna hijau menghiasi mata.
Gemetaran, tangan Naya pun menekan pesan itu. Sontak saja matanya membulat saat melihat pesan yang dikirim oleh Mike. Di sana juga ada video.
[Jangan berani kabur atau minta pertolongan orang lain kalau gak sanggup liat video tubuh kamu yang molek ini tersebar luas.]
Mata Naya melotot. Lekas dia masukkan kembali ponsel itu ke dalam tas. Tentu saja gelagat aneh itu buat Sean kembali mengernyit.
"Hey, Nay. Kamu beneran gak apa-apa? Muka kamu pucet banget, loh. Kita ke rumah sakit ya?" ucap Sean. Dia makin khawatir.
Naya yang panik menggeleng tegas, lantas meminta Sean untuk menepi di depan di depan sebuah perkuburan.
"Aku mau ke sini dulu. Mau ke makam nenek," balas Naya.
Muka Sean berubah drastis. Dia lihat Naya yang sudah melepas sabuk pengaman. Gelagat gadis itu sangat mencurigakan, tapi tetap saja dia tak paham. Haruskah bertanya lebih lanjut padahal Naya jelas tidak ingin bercerita
Tak ada cara lain, Sean pun melepaskan seat belt. "Aku temenin, ya?" tawar Sean.
Naya mematung. Namun terpaksa setuju. Beruntung, baru saja keduanya turun dari mobil sebuah bunyian dari ponsel Sean mengagetkan.
Lekat Naya melihat wajah tampan Sean yang sedang menerima telepon. Hilang sudah harapan untuk lepas dari jerat Mike. Niat untuk meminta bantuan Sean urung dia lakukan. Rasanya benar-benar tak sanggup jika harus mendapatkan hinaan dengan cap pelaku asusila jika video itu benar-benar tersebar.
"Nay, maaf ya. Aku gak bisa nemenin. Soalnya mau ketemu Ken," terang Sean. Dia tampak tak enak hati.
Sayangnya itu yang Naya ingin. Paling tidak Sean tidak akan bertanya lebih jauh tentang hidupnya.
"Gak apa-apa, 'kan?" lanjut Sean lagi.
__ADS_1
"Iya gak apa-apa, kok. Aku ngerti."
"Makasih ya. Nanti kapan-kapan aku kenalin sama dia."
Naya mengiyakan. Dia lepas kepergian Sean dengan senyum dan lambaian tangan. Kini langkahnya begitu gontai menelusuri jalan menuju tempat peristirahatan terakhir sang nenek.
Sementara itu mobil Mike baru saja memasuki halaman rumah. Tampak sebuah Ferrari mewah terparkir. Senyum Mike tiba-tiba tampak misterius hingga membuat Dina yang berada di samping mendadak merinding.
"Turunlah," ujat Mike datar.
Dina menurut. Dia gandeng lengan Mike dengan mesra. Anehnya tak ada penolakan seperti sebelumnya.
'Apa mungkin dia udah mulai bucin sama aku?' batin Dina. Dia tersenyum jemawa sembari bergelayut manja di lengan Mike.
Namun, senyum itu sirna kala mereka masuk rumah. Tampak seorang wanita dewasa dan cantik menatapnya begitu kejam.
Mike Dina dan Jordan berhenti. Kini giliran wanita itu dan seorang pria berbadan kekar yang mendekat.
"Mike, kenapa kamu abaikan teleponku?" tanya perempuan bergaun pendek berwarna merah. Kekesalan begitu kentara di wajahnya yang cantik.
Mike tak menjawab. Dia hanya menatap wanita itu dengan sorot mata dingin.
Beda hal dengan Dina. Dia heran dan mulai bertanya, "Tuan, dia sia—"
Belum juga selesai lisan Dina, sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kiri. Nanar matanya melihat wanita yang melayangkan tamparan.
"Hey, apa kamu gila?" bentak Dina.
"Itu balasan karena kamu jadi penghalang. Dasar jalangg."
Tak hanya di situ. Wanita yang sebenarnya adalah pacar pertama Mike itu dengan beringas menjambak rambut Dina. Suara jeritan antara dua perempuan pun menggema di ruang tamu.
Anehnya Mike tak berniat melerai. Dia hanya menikmati bagaimana brutal Laras menganiaya Dina, gadis yang dua kali memfitnah Naya.
"Tuan Muda, apa tidak apa-apa?" tanya Jordan. Dia mulai ngeri dan ngilu melihat Dina jadi bulan-bulanan Laras. Dari jambakan, tamparan bahkan tendangan.
"Biarkan. Memang itu tujuanku mempertahankan Dina."
__ADS_1
"Tapi Tuan ...."
"Dia gak bakalan mati, tenang saja."