Gadis Perawan Milik Tuan

Gadis Perawan Milik Tuan
Lahap habis.


__ADS_3

"Kamu sengaja ya menggodaku?"


"Tuan Mike ... tolong jangan begini ...."


Naya memohon setengah merengek, dia juga meronta, tapi tetap saja kalah tenaga. Mike dengan posesif memeluk pinggangnya begitu erat hingga tak bisa bergerak. Tak hanya itu, Mike juga telah sukses memberikan tanda merah sedikit keunguan di dadanya.


Tak cukup sampai di situ. Seakan-akan telah terbuai hebat dan mabuk, Mike ingin meminta lebih. Ingin sekali melepaskan sesuatu yang dua bulanan ini membuncah hebat. Ingin melepas hasrat yang bersarang dalam benak setiap berdekatan dengan Naya.


"T-tuan ...."


Naya kembali meronta, pandangannya menyiratkan ketakutan. Bahkan ada air yang bersarang di pelupuk mata yang siap tumpah kapan saja.


Namun, Mike menyeringai. Dia yang sudah berkabut hasrat bersiap akan menerkam. Sayangnya terjeda karena Naya menahan bibir dengan tangan. Tak hanya itu, Naya juga refleks menepis tangan Mike yang baru saja menyentuh wajahnya.


"Naya!"


Mike menggeram, pandangan berhasrat yang tadi menyelimuti seluruh mata buyar seketika berganti dengan kemarahan. Dia cekal tangan Naya. "Kamu tau kan kalau aku paling gak suka dilawan?" lanjutnya sedikit nyaring.


Naya gemetaran, selain menahan takut dia juga menahan sakit di pergelangan. Dengan hanya bermodalkan keberanian yang sedikit dia pun berkata, "Tapi Tuan udah janji gak bakalan nyentuh aku sebelum aku dua puluh tahun."


Sekonyong-konyongnya wajah Mike berubah lagi. Dia lepas rangkulan di pinggang Naya serta cengkeraman di pergelangan. Tentu saja kesempatan itu digunakan Naya sebaik mungkin. Gegas dia itu berdiri dan menjauh dari Mike.


"Ulang tahunmu tiga minggu lagi, 'kan?" tanyanya dengan nada yang tak ramah sama sekali. Rahangnya bahkan mengeras dan Naya mengerti itu.


Menunduk takut, Naya pun mengiyakan perkataan Mike. Dia sungguh berharap kali ini Mike melepaskannya.

__ADS_1


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Mendesah pasrah. Mike usap wajah dengan kasar lalu menatap Naya yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah, pergi. Pergi sana," usir Mike sembari mengibaskan tangan.


Dari nada bicaranya Naya tahu kalau Mike tengah merajuk. Namun, Dia tak ingin ambil pusing. Gegas dia memutar tumit.


Sayang, belum juga melangkah, Mike kembali memeluknya dari belakang. Naya yang gemetaran tentu makin resah, air mata yang sedari tadi tertahan bahkan tumpah tanpa pemberitahuan. Belum lagi napas Mike begitu nyata menerpa ceruk leher. Dia takut, sungguh.


Hening, untuk sepersekian detik Naya mematung. Dia sama sekali tak bisa bergerak karena Mike memeluknya sangat erat. Pria itu bahkan dengan santai mengusap perutnya yang terbalut gaun.


Lirih ... suara itu perpaduan antara takut dan waspada. Kegugupan itu makin tinggi saat Mike mendaratkan kecupan hangat di leher sebelah kanan.


"Jangan takut, aku selalu memegang janji. Tapi aku juga orangnya gak pernah mengampuni. Jadi siapkan fisikmu tiga minggu lagi. Aku ingin melahap kamu sampai habis. Dan saat itu, aku gak bakalan kasih ampun. Aku akan melakukan apa pun pada tubuhmu."


Bak mendapat sengatan listrik, Naya hanya bisa mematung dengan bibir bergetar. Membayangkan hal itu saja sudah membuat seluruh tubuh beku. Apakah keperawanannya akan segera direnggut pria seperti Mike?


Naya bergidik, tapi beruntungnya pelukan Mike perlahan mengendur dan terlepas. Dia balik tubuh Naya hingga mata mereka bersitatap.


"Ingat, Naya. Semua yang ada di tubuh kamu sudah aku beli. Jadi jangan mengelak lagi. Jaga diri baik-baik sebelum saat itu tiba," lanjut Mike.

__ADS_1


Berani-berani takut, Naya pun mengangguk dan direspon Mike dengan senyuman iblis. Anehnya pria itu mengusap kepala Naya sembari berkata, "Sekarang pergilah tidur. Ingat, jangan dikunci karena percuma, aku pasti bisa masuk. Sekarang tidurlah lebih dulu. Ada yang ingin aku kerjakan."


Naya menelan ludah. Nanar dia menatap Mike yang auranya sudah berubah. Tidak seperti bajingan malainkan seperti orang yang penuh kasih. Namun, tatapan heran itu berubah saat Mike mencondongkan diri tiba-tiba. Naya kelabakan.


"Kenapa masih berdiri? Kamu mau kita ngelanjutin yang tadi?" tanya Mike sembari menyeringai. Alisnya bahkan naik sebelah. Mirip bajingan mata keranjang.


"Gak, enggak. Bukan begitu. Kalau gitu aku permisi," balas Naya cepat. Dia mundur beberapa langkah dan hendak membuka pintu, tapi terkejut saat ada seorang pelayan berdiri di depannya dengan nampan di tangan.


"Dina?"


Dina tersenyum. "Tuan Muda ada?"


Naya yang memegang handle seketika melebarkan pintu. "Ada, tapi kamu mau nga—"


Belum juga sempat Naya menyelesaikan kata, Dina sudah terlebih dulu menerobos melewatinya dengan sedikit menabrakkan bahu mereka. Dia juga melirik sekilas pada Naya. Lirikan yang terlihat ... sinis.


'Kenapa dia?' batin Naya. Dia yang ada di ambang pintu jelas bingung apalagi saat melihat Dina tanpa sungkan mendekati Mike dan menawarkan teh.


Dalam diam Naya melihat mereka. Dia memperhatikan gerak-gerik Dina yang berbeda. Dia kenal Dina karena gadis itu adalah asisten rumah tangga yang selalu membantunya. Dan sekarang jelas ada yang berbeda. Meski tidak akrab tapi Naya menyadari ada perubahan besar dan ada niat terselubung di belakangnya, dari gerak-gerik, tatapan, senyuman, pakaian hingga aroma parfum. Benar-benar mencurigakan.


"Sayang!"


Seruan Mike yang ada di kamar menyentak. Naya jadi kembali gelagapan.


"Kenapa masih berdiri di sana? Kalau kamu mau teh, sini. masih ada sisa," lanjut Mike, dia tersenyum tipis. "Atau ... kalau mau lanjutin yang tadi juga boleh."

__ADS_1


Mata Naya melotot, gegas dia menggeleng dan langsung pergi dari sana.


Like like like.


__ADS_2