
"Apa? Hamil?"
"Iya, kamu hamil dua bulan. Ada anak kita di sini," jelas Mike untuk kedua kalinya. Dia bahkan tersenyum sembari menyentuh perut Naya yang masih rata.
"Di sini, di sini ada keturunan keluarga Abraham," sambungnya lagi dengan tangan tetap mengelus.
Tiba-tiba senyum Mike yang tadinya merekah indah, sirna seketika. Lekat dia menatap Naya yang membuang muka.
"Kenapa ekspresi kamu begitu?" tanya Mike. Dia tangkup paksa wajah Naya.
"Lalu aku harus gimana? Harus jingkrak jingkrak bahagia, begitu?" sahut Naya ketus. Dia tergelak ironi, lantas menepis tangan Mike dari pipi. "Ingat, kalau aku ini cuma mainan kamu. Kita gak punya hubungan apa-apa. Nanti bagaimana dengan nasib anak ini? Apa dia bakalan sama seperti aku, anak yang hanya tau nama ibu saja?"
Mike terdiam, dia mati kata. Naya menatapnya begitu tajam. Apa ini ada hubungannya dengan hormon kehamilan?
"Bukannya kamu bilang gak mau nikah sama siapa pun? Aku hanyalah mainan yang siap jika di panggil dan siap jika suatu saat dibuang. Lalu, aku harus gimana? Gimana nasib anak ini nanti?" lanjut Naya dengan nada suara sedikit nyaring membuat Mala yang ada di sana menutup mata.
"Hey, kenapa kamu teriak-teriak, sih? Siapa yang mau buang kamu? Aku mau nikahin kamu, Naya. Siapa yang mau ninggalin kamu? Sudah sering aku bilang, aku gak pernah kepikiran buat ninggalin kamu. Jadi stop berpikir yang enggak-enggak. Aku gak akan pernah membuangmu. Paham?" sahut Mike. Penuh penekan dalam setiap kata. Terutama kata terakhir.
Naya terdiam. Hatinya mencelos hebat. Itu artinya kesempatan untuk dibuang dan lari dari Mike benar-benar tidak ada.
"Aku akan jadi ayah. Dan kamu tentu bakalan jadi ibu sekaligus nyonya dari seorang Mike," lanjut Mike lagi dengan antusias.
Naya masih tetap terdiam. Dia mengerjap seolah-olah memastikan apa yang didengarnya adalah nyata.
'Nyonya? Apa artinya itu?' batin Naya.
__ADS_1
Namun, belum juga sempat melisankan kata, Mike terlebih dulu menggenggam tangannya. "Naya, ayo kita nikah. Kita laksanakan pernikahan minggu depan."
Naya refleks menarik tangannya. Dia kembali membuang muka. 'Menikah? Gimana ceritanya aku nikah sama orang emosional kayak dia? Apa ada yang menjamin kalau aku dan anakku akan baik-baik saja?' batinnya.
Mike yang melihat gelagat tak senang Naya langsung memukul bibir sendiri. "Maaf, aku lupa kamu lagi sakit. Aku terlalu bersemangat jadi lupa dengan kondisi kamu."
Menjeda kata lagi, Mike kembali mengarahkan wajah Naya agar menatapnya. ''Jadi Naya, kita bakalan menggelar pesta pernikahan setelah kamu sembuh, bagaimana?"
Naya makin terbengong. Sungguh, dia tak tahu harus menjawab apa. Benarkah orang yang ada di depan ini Mike? Mike yang selalu memerintah. Benarkah ini seorang Mike yang selalu meremehkan dan membuang apa itu nurani? Benarkah pria yang ada di depannya sekarang adalah Mike, laki-laki playboy yang suka bersenang-senang? Kini playboy itu ingin memulai hubungan serius. Oh Tuhan ....
Kepala Naya mendadak berdenyut, dia merebahkan diri dengan perlahan—karena lengan dan punggung terluka disebelah kanan jadi hanya bisa tidur miring.
Anehnya, Mike sigap membantu tanpa dipinta. Mata Naya melotot hebat, benarkah ini adalah Mike? Benar-benar sulit masuk diakal.
"Sekarang beristirahatlah. Jangan banyak gerak. Jaga kesehatan agar anak kita baik-baik saja," papar Mike lagi. Kini pria itu justru mencium perut Naya lalu berdiri. Sedetik kemudian memutar tumit mendekati Mala.
Mala mengangguk dan mengiyakan. Dia dekati Naya, mengambil semangkuk bubur yang sudah tersedia di atas nakas lalu berkata, "Nona, sekarang sudah waktunya makan siang. Jadi mohon kerjasamanya."
Di balik pintu, Mike bertemu Jordan. Si pria kepercayaan sudah ada di sana sejak pukul delapan pagi.
"Bagaimana? Apa ada kabar dari jalangg licik itu?" tanya Mike tanpa menoleh Jordan sama sekali. Dia yang sudah rapi terlihat menggeram hebat. Tangan bahkan sudah terkepal kuat dan sama sekali tidak ada jejak darah di sana. Dia kesal. Niat hati ingin menghabisi nyawa Herry sendiri. Namun, tak di sangka saat pengejaran Herry justru tertabrak motor dan meninggal di tempat.
"Orang kita masih mencari, Tuan," sahut Jordan.
"Pokoknya aku harus melihatnya menderita. Aku gak bakalan lepasin dia gitu aja." Mike melihat lekat Jordan. "Kerahkan semua orang. Cari dia. Mau hidup atau mati aku ingin dia," geram Mike lalu pergi dan diikuti Jordan dari belakang.
__ADS_1
***
Sudah empat hari Naya di rumah sakit. Empat harian juga Mike bolak-balik menjenguk. Pria itu bahkan terlihat lebih antusias bertanya pasal bayi dan lain sebagainya.
Teruntuk Naya entahlah. Dia masih ragu.
"Mbak, aku mau ketemu dia sebentar," ujar Naya sembari berusaha memakai sweater. Mala yang melihatnya langsung membantu. Tangan Naya masih diperban otomatis pergerakan juga masih sangat terbatas.
"Saya temani," tawar Mala.
Naya menggelengkan kepala sembari tersenyum. "Aku cuma sebentar."
"Tapi Nona."
"Cuma sebentar."
"Baiklah. Jangan lama-lama. Saya takut Tuan Muda tiba ke sini. Nanti saya harus bilang apa?"
"Iya, aku paham."
Naya pun pergi. Dia berjalan perlahan menuju ruang di mana Burhan dirawat.
Tak menunggu lama, tibalah dia di sana dan sekarang sudah berdiri di hadapan Burhan. Melihat Burhan seperti itu membuat Naya hanya bisa diam. Dia ingin mengutuk Burhan, tapi Burhan juga tengah berjuang.
Hening, Naya tak paham mau berkata apa. Tiba-tiba saja suara dari arah luar menyentak Naya. Naya hapal itu adalah suara Laura. Gegas dia masuk ke dalam lemari. Di ruang yang sempit itu dia dapat melihat Laura datang bersama Marta. Keduanya tampak akrab. Naya bahkan tak percaya, muka Laura yang galak dan Marta yang selalu tanpa ekspresi kini terlihat bahagia. Keduanya tertawa.
__ADS_1
'T-tunggu. M-mereka ... mereka ngapain pelukan?'