
"Cepat baringkan dia di sana," perintah seorang pria berkepala plontos.
Dua pria lainnya langsung mengikuti perintah. mereka baringkan Naya yang tak sadarkan diri di ranjang, lalu melepaskan mantel bulu yang Naya pakai.
"Ide kamu benar-benar brilian Kris, akhirnya kita ketemu juga sama ni perempuan. Gak sia-sia kita selalu muter di lingkungan itu," lanjut Mario lagi. Dia buka kemeja dan hanya menyisakan kaus singlet dan bokser saja.
Kristian dan teman satunya yang bernama Juno pun tersenyum puas. Mereka bertiga memindai Naya yang terpejam. Mantel bulu Naya bahkan sudah tergeletak di lantai. Mereka tak berkedip melihat lengan Naya yang terekspos indah.
Mario menelan ludah, begitu juga Juno dan Kristian. Mereka bertiga menatap Naya dengan sorot mata kelaparan dan penuh hasrat.
"Body-nya indah, ya, Bos," celetuk Juno.
Mario mengangguk. Dia yang sudah merebahkan diri di sisi ranjang tak berniat bersuara. Matanya hanya tertarik menikmati keindahan paras ayu serta kemolekan tubuh gadis itu.
"Dia muda dan cantik. Kalau dia pasang tarif 10 juta per sekali kencan pun pasti banyak yang mau. Gak heran dia bisa beli barang mewah," papar Kristian yang matanya tak berkedip saat melihat kaki Naya yang jenjang.
"Apa kamu yakin dia jual diri?" tanya Juno. Posisinya ada di depan Kristian.
"Tentu saja, bodoh. Dia gak punya siapa-siapa. Neneknya sudah mati. Dan aku dengar dia ini anak pembawa sial dan dijuluki sebagai anak haram. Mungkin aja dia anak seorang pelacuur."
"Masa, sih?" tanya Juno lagi. Dia tak percaya.
"Kamu ingat laki-laki di mall tempo hari. Dia juga bukan laki-laki miskin. Dan laki-laki yang ngancem kita juga orang tajir. Aku yakin ni perempuan pasti dapat duit banyak dari hasil nemenin dua laki-laki itu."
"Baiklah. Jangan terlalu banyak omong," sela Mario. Dia belai pipi lalu mengendus leher Naya, lantas kembali berkata, "Bangunlah, habis senang-senang kami pasti bakalan bayar kamu. Jadi ayo cepat bangun, Sayang. Biar kamu juga bisa menikmati permainan ini."
Naya yang ditepuk-tepuk seperti itu tentu saja terusik. Belum lagi embusan napas yang menerpa tengkuk dan kaki yang mulai terasa di gerayangi sesuatu.
Perlahan Naya membuka mata dan spontan berteriak panik saat melihat tiga orang pria mengurung dirinya. Sekuat tenaga dia berontak, kaki dan tangan menendang dengan membabi buta.
Sayangnya semua tak berarti sama sekali. Dia justru dikekang makin kuat oleh tiga pria itu.
__ADS_1
"Lepasin! Apa mau kalian?" hardik Naya. Matanya melotot tajam.
"Jangan pura-pura polos," sahut Kristian.
"Apa maksudnya pura-pura?" Naya mencoba melepaskan diri, tapi tetap saja kalah tenaga. Nyalang matanya melihat Mario yang persis di sebelahnya.
Gemetaran, Naya pun pasrah saat Mario mulai menggerayangi wajahnya dengan telunjuk. Dia ingat betul sebelum pingsan dirinya sedang menunggu taksi di halte. Anehnya tiba-tiba dihampiri sebuah mobil sedan hitam. Keadaan yang sepi, ditambah sendiri dan dalam situasi hujan lebat membuat Naya tak sempat menyelamatkan diri. Kejadian itu begitu cepat. Dia masuk ke dalam mobil itu tanpa ada yang menyadari.
"Apa mau kalian?" teriak Naya lagi dia makin histeris.
"Tentu saja mau bayar hutang. Bukannya terakhir kali aku bilang kalau aku nggak bakalan lepasin kamu kalau kita ketemu lagi. Dan sekarang kita ketemu lagi. Jadi, utang itu harus dibayar lunas," sahut Mario. Dia menyeringai.
"Lepasin! Tolong jangan ganggu aku ...."
Mata Naya mulai berkaca-kaca. Dia takut, sungguh. Meski tidak lagi perawan tetap saja jika dikeroyok tiga pria ... dia tidak akan bisa terima.
''Kenapa harus dilepasin? Kita main-main dulu, itu baru yang namanya adil."
"Aku bukan mainan!" balas Naya lebih kencang.
Terbelalak, mata Naya membesar saat merasakan tangan Mario mulai bergerak mengitari paha. Saking paniknya dia bahkan semakin berontak.
Sialnya mereka yang ada di sana terbahak senang sebelum akhirnya sebuah bunyian dari arah pintu mengagetkan. Tampak Mike, Jordan dan beberapa pria berbadan tambun mengelilingi mereka.
"Siapa kalian?" teriak Mario. Dia beranjak dari kasur dan berdiri tegak. Namun, belum juga sempat melangkah, Mike lebih dulu menyambar tubuhnya dan memukul tepat di bagian pipi.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
__ADS_1
Mario merintih kesakitan. Dia berancang-ancang akan melawan, tapi Mike dengan sigap menghindar dan kembali melayangkan bogem mentah di tempat yang sama. Mario terhuyung, dia tersungkur di lantai setelah kepala membentur tepian meja.
Teruntuk Kristian dan Juno, keduanya juga sudah babak belur dihajar para bodyguard Mike. Tinggal Naya yang meringkuk memeluk selimut menyaksikan kekacauan itu. Dia shock berat.
Teruntuk Mike, dia benar-benar kalap mata. Dia secara cepat mengungkung tubuh Mario yang lemah lalu menarik kerah singletnya
"Apa yang kau lakukan? Ha!" teriak Mike. Bola matanya memerah seakan bisa keluar. Dia hantam lagi pipi Mario dengan keras.
"Tolong berhenti ... kalian sepertinya salah paham. Kami hanya bermain-main dengan perempuan yang sudah kami bayar. Apa kami salah?" ujar Mario yang hampir tak terdengar suaranya.
Alih-alih menghentikan pukulan, Mike justru makin berang. Dia lantas berdiri dan menginjak leher Mario. Mario jelas tidak terlihat baik-baik saja. Dia terlihat sekarat.
"Jadi maksudmu wanitaku itu kekurangan uang, begitu!" teriak Mike. Giginya bergemeletuk, urat kepala bahkan menonjol dan terlihat berdenyut. Tak hanya itu kakinya juga semakin erat menginjak leher Mario hingga Jordan yang merasa situasi itu cukup riskan seketika berdeham.
"Tuan Muda, tolong kontrol diri Anda. Mereka buat saya yang urus."
Mike mengangkat kaki. Kini matanya yang merah melihat Naya yang meringkuk ketakutan. Tanpa berkata dia langsung menarik pergelangan tangan Naya dengan kasar dan menuntunnya keluar.
Naya panik. Dia menangis tak bersuara.
Tibalah di mobil. Mike dengan kasar mendorong tubuh Naya ke kursi penumpang.
''Kalian berjagalah!" perintah Mike tanpa mau dibantah pada beberapa pria yang berada di sekitar mobil .
Kini Mike sudah berada di samping Naya dan satu persatu melucuti pakaiannya sendiri. Mulai dari Jas, kemeja bahkan dalaman, Mike membukanya dengan kasar.
Naya yang melihat itu makin panik. Dia paham apa yang akan Mike lakukan. Cepat-cepat dia mengatupkan kedua belah tangan, membiarkan air mata menganak sungai.
"T-tuan ... tolong maafin aku. Ini gak kayak yang mereka bilang. Aku diculik., Tuan. Mereka itu sebenarnya orang yang dulu aku ceritakan. Tolong percaya ...."
Mike tak menyahut. Dia seperti orang kehilangan akal yang sedang membuka sabuk celana. Matanya bahkan tak berkedip melihat Naya yang ketakutan.
__ADS_1
Merasa tak direspon, Naya pun mengambil langkah pencegahan. Dia langsung menghamburkan diri di dada Mike, memeluk erat pinggang pria itu, lalu berkata, "Tolong percaya. Aku gak pernah melawanmu. Aku gak pernah mengkhianati kamu, Mike. Tolong tenanglah."
Bak api tersiram air. Tubuh Mike yang tadinya menegang karena marah seketika tersandar lemah. Dia balas pelukan Naya, lantas mengusap rambutnya perlahan. "Kamu sukses membuatku gila, Naya. Kamu benar-benar hebat."