GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 10


__ADS_3

Beberapa hari kemudian tersebar berita hilangnya bapak Gunawan pemilik perusahaan Gunawan enterprise secara misterius. Sisi yang mendengarnya dari televisi tak lagi heran jika ada kabar bahwa dia diculik atau dibunuh. Yang dia takutkan jika dia ikut terseret dalam kejadian itu.


"Sisi asisten Coky mencari mu."suara Luna mengejutkannya saat sedang bekerja mengelap hiasan dinding.


"Ah Luna, kau membuatku terkejut. Dimana asisten Coky?"tanya Sisi.


Luna tertawa kecil "di ruang kerja Tuan Rain." Sisi menganguk lalu menuju ruang kerja Rain.


"tok tok tok. Ini saya Sisi." Pintu ruangan dibuka oleh asisten Coky, Sisi dipersilahkan masuk. Dia disuruh duduk di sofa dan asisten Coky memberi beberapa lembar berkas untuk dibaca.


"Tuan menjadikan mu asisten perempuannya. Dia ingin kau bisa menjerat beberapa orang yang dia targetkan. Orang-orang itu kebanyakan relasi bisnis mendiang ayahnya."jelas asisten Coky.


Sisi mengetahui sedikit tentang kejadian yang menimpa Bosnya hingga ia membutuhkan banyak mata-mata dan menyingkirkan banyak orang. "Baik."kata Sisi sigap.


Beberapa hari kemudian. Dikantor.


"Selamat pagi Presdir."semua orang membungkuk memberi salam. Rain berjalan dengan diikuti asisten Coky dan Sisi menuju lift khusus Presdir. Setelah mereka memasuki lift orang-orang bergaduh.


"Siapa wanita itu?"


"Karyawan baru?"


"Mungkin"


"Terlalu cantik untuk seorang karyawan"


"Kekasih Presdir?"


"Tidak mungkin dia mengenakan setelan formal seperti asisten Coky"


"Lagipula Presdir tidak tertarik dengan perempuan kan?"


"Iya benar. Gita pernah mencoba menggodanya dengan pakaian seksi ketika akan meminta tanda tangan Presdir. Kau tau apa yang dikatakan Presdir?


"Apa? Apa? Bagaimana?"


"Kalau ingin melacur kau bisa berhenti sekarang, katanya"


"Ah kejamnya"

__ADS_1


"Iya. kata-katanya kejam sekali."


"Ah itu juga salah dia yang terlalu centil."


"Kau benar."


"Wah ketua tim menuju kesini."


"Ayo-ayo kembali kerja. Ada ketua tim"


"Ting" lift berhenti di ruang Presdir.


"Selamat pagi Presdir" dua sekertaris membungkuk memberi salam. Rain masuk menuju ruangannya.


"Kau tunggu disini"asisten Coky memberi perintah ke Sisi. Sisi berdiam diri didepan pintu.


"Anu Nona maaf, biasanya mereka akan lama. Kau boleh duduk disini dulu."kata Silvi sekertaris pertama.


"Iya Nona. Dari pada kram kaki berdiri terus."tambah Evi sekertaris ke dua.


Sisi menganguk dan duduk di kursi samping mereka "Terimakasih."


"Saya Sisi, asisten Tuan Rain."kata Sisi tegas.


"Tuan Rain?"Evi menaikkan alisnya. Sisi mengangguk.


Evi terheran karyawan yang sama seperti dirinya memanggil bosnya dengan sebutan Tuan bukan Presdir.


"Anda sudah lama bekerja untuknya?"Evi penasaran.


"Belum. Saya baru mulai berkerja."


"Ah iya. Saya baru melihat anda sekarang."Evi merasa canggung.


"Asisten Sisi selamat bergabung semoga kita bisa bekerjasama dengan baik."ucap Silvi.


"Terimakasih. Mohon kerjasamanya juga."kata Sisi kembali.


Asisten Coky keluar ruangan. "Sisi ikut aku."katanya tergesa.

__ADS_1


"Waah asisten Coky dan asisten Sisi terlihat serasi ya saat bersading. Setelan formal berwarna abu-abu dengan celana panjang sangat cocok untuk asisten Sisi."Silvi terkagum.


"Asisten Coky dari dulu terlihat tampan. Aku ingin tahu jika dia melepas kacamatanya akan setampan apa."Evi mulai berimajinasi.


"Tok tok. Waktu kalian luang sekali ya. Siapkan ruang meeting sekarang!"suara Rain yang mengetukkan tangan di meja sekertaris mengagetkan mereka.


"Baik bos!"jawab mereka bersamaan.


"Selamat siang Tuan Rain. Maaf saya tidak bisa hadir ke pesta karena sedang berada di luar kota."kata Rehan Armana sambil menjabat tangan Rain.


"Tidak masalah pak. Silahkan duduk." Rain melambaikan dua jari kepada Sisi. Sisi menganguk dan menyerahkan berkas.


"Ini untuk berkas lengkapnya. Silahkan dicek."kata Rain.


Arman menatap Sisi lama. "Karyawan baru?"tanyanya.


"Asisten saya."tukas Rain


"Terimakasih."Arman tersenyum.


Pandangannya pada sebuah berkas tak fokus. Name tag 'Sisi' yang berada di dada Sisi terngiang terus di pikirannya mengingatkan akan seseorang.


"Ah untuk lebih dan kurangnya akan saya hubungi nanti ya Tuan Rain."Arman menyerahkan berkas kepada ajudannya.


Dia lalu melihat jam tangannya "sepertinya waktu janji saya dengan Tuan sudah selesai. Maaf terlalu singkat, jika ada waktu luang nanti saya akan undang untuk makan bersama."dia berdiri pamit pergi.


Terdengar suara pintu dibuka dan ditutup dengan keras.


"Sayang, cepat sekali pulangnya? Apa kau sakit?"istri Arman melepas jas suaminya dan meraba keningnya.


Arman menggelengkan kepala. Dia menjatuhkan badannya di sofa.


"Di perusahaan Aditama, Rain. Anak itu mempunyai asisten baru bernama Sisi. Aku jadi teringat jika anak kita sekarang mungkin juga sudah sebesar dia Velicia."ucapnya terenyuh.


Velicia merengkuh pundak suaminya dia merasa bersedih. "Jika kita menemuinya dia tidak akan selamat."


"Tidak. Jangan ganggu kehidupan dia."sergah Arman.


"Kita harus bertahan sebelum orang itu tertangkap. Kita belum mempunyai banyak bukti."

__ADS_1


🐾🐾


__ADS_2