
Di restoran milik Arman.
"Selamat datang." sapa Arman pada keluarga Rain.
Rain datang bersama Ratna, Coky dan Rendra, mereka hadir sebagai perwakilan wali untuk Rain.
"Apa kabar nak Sisi?" sapa nyonya Ratna.
"Saya baik nyonya." jawab Sisi.
"Mulai sekarang terbiasalah memanggil nenek ya."kata Ratna. Semua tertawa ringan.
"Mari. silahkan duduk."kata Arman kepada semua tamunya.
Mereka semua lalu duduk dan memulai percakapan dengan perbincangan yang ringan.
Seorang pelayan datang berbisik kepada Arman. Arman lalu mengangguk.
Tak lama para waiters datang dengan menyajikan berbagai makanan di atas meja.
Mereka lalu mulai makan malam dan selesai makan mereka membahas tentang rencana pernikahan.
"Terimakasih kepada pak Arman yang telah memberi kesempatan kepada cucu saya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Saya sebagai orang tua meminta maaf kepada keluarga pak Arman yang saya merasa telah di rugikan oleh cucu saya." kata nyonya Ratna setelah membahas tentang rencana pernikahan untuk Rain dan Sisi.
"Kami menerima niat baik sekalian untuk meminta maaf. Ini karena kesalahan kami juga sebagai orang tua yang tidak bisa memberi perhatian kepada anak kami sendiri hingga terjadi hal seperti ini." kata Arman.
"Kami juga berterimakasih kepada tuan Rain yang melaluinya secara tidak langsung kami bisa bertemu dengan putri kami lagi dan bahkan bisa bersama kembali." imbuh Arman.
"Maka dari itu saya sangat berterimakasih kepada pak Arman yang telah sudi menerima cucu saya sebagai calon menantu anda. Mengingat bagaimana dan apa saja yang telah ia perbuat kepada anak pak Arman. Saya sungguh sangat berterimakasih." ucap nyonya Ratna kembali.
__ADS_1
"Saya juga sudah mendengar ceritanya dari Rain tentang apa yang dilakukan Candra terhadap keluarga bapak. Sebagai orang tua dan seorang ibu saya meminta maaf atas perbuatan yang telah anak saya lakukan kepada keluarga bapak dan teman-teman bapak." kata nyonya Ratna lagi sambil menundukkan kepala. Arman dan Velicia saling menatap.
"Sudahlah nyonya Ratna. kita disini berkumpul untuk membahas suatu hal yang membahagiakan jadi mari mulai semua dengan hal-hal yang baik agar tercipta kebahagiaan." ujar Velicia sambil tersenyum lebar.
"Terimakasih nyonya muda Armana. Saya meminta maaf kepada keluarga anda karena tak ingin nanti di dalam pernikahan Rain dan nak Sisi terdapat sebuah dendam yang masih terpendam hingga menggoyahkan bahtera rumah tangga mereka." kata nyonya Ratna.
"Untuk itu kami dari keluarga Aditama meminta maaf atas kesalahan yang pernah kami lakukan terhadap kalian." ucap nyonya Ratna sambil menundukkan kepalanya lagi. Rain, Coky dan Rendra pun melakukan hal yang sama, menundukkan kepala mereka.
"Sudahlah nyonya Ratna dan sekalian, tolong hentikan." Arman berdiri sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Mari kita bahas saja tentang bagaimana pernikahan ini akan di gelar." kata Arman lalu kembali duduk setelah melihat nyonya Ratna dan keluarganya mengangkat kepala.
Mereka lalu membahas tentang rencana pernikahan untuk Rain dan Sisi lagi. Mulai dari gedung, tamu undangan, hari dan tanggal sudah ditetapkan. Setelah pembicaraan mencapai kesepakatan mereka lalu berpamitan.
"Pak Arman. Apa boleh setelah ini saya sering menemui Sisi ?" tanya Rain saat beranjak akan menjabat tangan Arman.
"Iya baiklah." kata Arman sambil tersenyum. "Lagi pula kalian memang harus sering bertemu untuk mengurus pernikahan kalian. Pasti akan banyak yang harus kalian diskusikan." kata Arman lagi sambil menepuk pundak Rain.
"Mulai sekarang belajarlah memanggil saya dengan sebutan ayah." kata Arman sambil tersenyum lebar. Mereka yang mendengar tertawa renyah mendengar ucapan Arman.
Rain menganggukkan kepalanya kepada Sisi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan pertemuan antar keluarga itu. Ruangan menjadi sangat hening setelah kepergian keluarga Aditama.
Arman lalu menoleh kepada Sisi. "Bagaimana kamu sudah bahagia dengan keputusan ini?" tanya Arman.
Sisi mengangguk, "iya ayah. terimakasih sudah mendengarkan permintaan anak yang baru saja ayah temui setelah sekian lama tanpa ada keraguan dan penolakan." kata Sisi lalu merengkuh pinggang Arman.
"Jangan seperti itu nak. Itu terdengar menyakitkan. Kau tetap anak ayah apapun dirimu dan kapanpun itu. Kau satu-satunya putri ayah." ucap Arman yang juga merengkuh Sisi lalu mencium kening putrinya itu.
Velicia tersenyum bahagia melihat pemandangan di depan matanya itu. Dia lalu berjalan mendekati mereka dan memberi pelukan kepada mereka. Suasana hangat menyelimuti ruangan itu yang penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
Rain mendatangi kediaman Armana untuk mengajak Sisi kesebuah gedung wedding gallery melihat-lihat baju yang akan dia kenakan saat pernikahan nanti.
Setelah Rain meminta izin kepada Velicia untuk membawa Sisi, dia lalu melajukan mobilnya menuju ke sebuah gedung yang lumayan besar dengan baju pengantin yang terpajang di setiap sisi dinding kaca gedung tersebut. Hingga dapat dilihat dari luar keindahan dan kecantikan gaun yang terpancar oleh sorot sinar matahari.
Sisi merasa kagum dengan kesilauan yang diciptakan oleh gedung tersebut.
Selama tinggal di kediaman Armana dia tak pernah keluar sama sekali karena ayahnya selalu mengkhawatirkannya dan dia juga menyadari jika dia keluar bersama Velicia atau Arman maka akan menimbulkan perbincangan yang tak sedap di dengar karena sudah pasti tidak mungkin tidak ada yang mengenal wajah orangtuanya.
"Hei. Ayo turun." ajakan Rain membuyarkan lamunan Sisi. Rain lalu tersenyum dan turun membukakan pintu untuk Sisi.
Rain menyiapkan lengannya untuk dipegang Sisi saat akan masuk ke dalam gedung tersebut. Sisi tertawa kecil. Dia teringat dulu sering menggandeng lengan Rain setiap diajak Rain keluar untuk melakukan pertemuan di luar jam kerja. "RAVISA WEDDING GALLERY " Mereka berjalan memasuki gedung itu dengan senyum lebar.
"Selamat siang. Mari silahkan duduk. Kami akan membantu yang anda butuhkan." sapa seorang pegawai perempuan menuntun Rain dan Sisi menuju sebuah kursi yang di depannya ada meja kaca dan beberapa tumpuk tabloid.
"Cara penyambutan yang berbeda." ucap Sisi dalam hati. Tak lama seorang pegawai laki-laki datang dengan membawa minuman dua gelas berukuran tinggi.
"Silahkan Tuan, Nona." kata laki-laki itu menaruh gelas dan alasnya dengan nada sedikit centil.
Sisi tertawa dalam hati dengan memasang wajah tersenyum lebar sambil berkata, "terimakasih."
Dilihatnya sekeliling. Ternyata banyak juga pasangan calon suami istri yang datang untuk melihat-lihat baju pengantin dan ada juga yang sedang mencobanya.
"Silahkan dilihat-lihat terlebih dahulu Tuan, Nona." kata pegawai perempuan yang tadi menuntun mereka untuk duduk. Tertulis 'Tria Puspita' di nametag yang ada di dadanya. Dia lalu menjajarkan tumpukan tabloid yang berada di atas meja.
"Nama saya Tria. Anda boleh memanggil saya setelah menentukan pilihan. Saya akan berada di counter." katanya sambil menunjuk ke sebuah meja yang seperti meja kasir.
"Baiklah." kata Rain lalu mulai memilih tabloid yang akan ia buka.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi. Nikmati waktu anda Tuan, Nona." kata pegawai itu sambil tersenyum lalu meninggalkan mereka.
πΎπΎ