
"Ah iya, aku juga tahu itu Bi. Saat bekerja bersama mereka dulu, Coky sangat perhatian sekali kepada Luna. Tidak tahunya ternyata memang Coky sangat menginginkan Luna untuk dijadikan istrinya." Kata Sisi dan kemudian mereka kembali melanjutkan perbincangan mereka.
"Ayah tadi menelpon. Katanya beliau ingin berkunjung ke rumah besar." Ucap Rain memberitahukan kepada Sisi jika tadi Arman menghubunginya.
"Oh ya? Ada apa ya? Apa ingin menjemput ku? Rasanya tidak mungkin." Tanya Sisi kepada Rain dan juga menerka-nerka sendiri kenapa ayahnya mau berkunjung ke rumah besar.
"Apa ayah mengatakan sesuatu? Tentang keperluannya?" Tanya Sisi lagi.
Rain menggeleng pelan dengan kemudian tertawa kecil, meremehkan dirinya sendiri. "Aku sampai lupa menanyakan itu karena saking takutnya untuk berucap yang lain selain apa yang beliau pertanyakan." Jawab Rain lalu menatap netra sang istri. Sisi pun ikut tersenyum, dia juga merasa kasihan karena Rain sampai bersikap sangat konyol.
"Sampai segitunya." Sisi kemudian terkekeh,
"Maaf bukan bermaksud ingin menghina, tapi kau benar-benar lucu Rain. Apa perlu kita konsultasi karena sepertinya itu akan menjadi penyakit phobia terhadap ayah mertua." Setelah Sisi mengucapkan kalimat itu Rain malah tertawa mendengarnya.
"Iya juga ya. Mungkin aku perlu diperiksa Sisi." Ujar Rain yang menanggapi serius ucapan Sisi.
Ingin rasanya Sisi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Rain yang menganggap serius ucapannya barusan namun ia tahan agar tak menyinggung perasaan suami. Ia tersenyum dengan menahan tawa sambil mend*esah pelan.
"Aku selalu mencoba bujuk ayah agar kamu tidak terlalu tertekan begini. Tapi aku tidak tahu bagaimana sikap ayah jika tidak ada aku di samping mu sampai kamu merasa frustasi seperti ini. Maafkan ayah ku ya?" Kata Sisi dengan kemudian mengusap pundak suaminya yang sepertinya tengah memikul beban berat disana.
Lagi, Rain menghembuskan nafas panjang. Nafas yang berarti entah menahan lelah atau menahan beban pikiran yang berat.
__ADS_1
"Aku selalu mencoba untuk lapang menghadapinya Sisi, tapi entahlah, sepertinya aku selalu merasa ayahmu memandang ku sebagai seorang penjahat disini." Ucap Rain.
"Mungkin dia masih kecewa karena ulah pamanku dan juga ulahku yang dulu pernah berlaku tidak baik padamu." Lanjut Rain sambil menatap sang istri dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Sisi malah dibuat merasa bersalah hatinya jika Rain bisa berpikir sampai seperti itu. Rain menyalakan dirinya sendiri atas semua kejadian yang menimpa keluarga ayahnya. Mulai dari kejahatan Candra dan ketidak sengajaan Rain mengambil kegadisannya malam itu.
Sisi juga jadi kepikiran sekarang. Lebih tepatnya memikirkan cara bagaimana agar ayahnya benar-benar menerima Rain sepenuhnya agar hubungan diantara keduanya benar-benar terjalin dengan sehat. Bukan terlihat baik-baik hanya untuk formalitas saja.
"Sudahlah. Lebih baik sekarang kamu tidur, aku juga akan segera tidur. Jarang-jarang aku bisa tidur awal dan lebih nyenyak sekarang ini." Ucap Rain yang mengungkapkan isi hatinya lagi dan tanpa ia tahu itu membuat Sisi merasa bersalahnya semakin besar karena merasa ayahnya memberi begitu tekanan terhadap Rain.
Rain yang sudah terpejam belum bisa untuk langsung tertidur lelap, mengingat dulu kejadian malam ternoda untuk Sisi adalah di kamar yang sama yang saat ini dipakainya untuk tidur bersama dengan Sisi. Namun ia tak ada pilihan kamar yang lain lagi. Pasti kamar lain juga diisi oleh Coky dan Luna.
"Haah... Aku harus segera berdamai dengan semua ini agar aku cepat sembuh." Katanya dalam hati sambil mengembuskannya nafas panjang dalam hati juga. Diam-diam ia pun juga kepikiran bagaimana nanti jika anaknya sudah lahir tapi dia masih memiliki penyakitnya itu. Dia sangat khawatir jika itu berpengaruh terhadap buah hatinya nanti.
Rain dan Sisi sudah kembali lagi ke rumah besar bersama Coky dan Luna, karena Coky dan Luna juga harus kembali bekerja lagi. Setelah sampai mereka lalu pergi beristirahat karena memang kedatangan mereka sudah hampir malam hari.
Dalam perjalanan tadi Rain menginformasikan jika lusa orang tua Sisi akan datang ke rumah besar dan kemungkinan akan menginap mengingat ini adalah kunjungan pertama mereka sebagai besan dari keluarga Aditama. Sehingga Rain mempercayakan kepada Luna untuk mempersiapkan dan mengatur semua keperluan yang dibutuhkan nanti untuk penyambutan, penjamuan hingga tempat tidur mertuanya itu agar mereka merasa nyaman dan terkesan.
Nyonya Ratna akan datang bersama Paman Sam dan Bibi Susan nanti di hari yang sama saat kedatangan mertua Rain. Terbayang akan ramainya rumah besar nanti. Namun yang Rain takutkan justru akan terjadi keheningan ditengah banyaknya orang yang berkumpul nanti, mengingat salah satu dari keluarga Rain yang menjadi penyebab awal mula masalah yang menjalar ini.
Rain terkadang merutuki dirinya sendiri jika mengingat semuanya. Berawal dari kebejatan sang paman hingga kesalahan dirinya yang juga bisa disebut bejat oleh Arman. Ia merasa keluarganya bukanlah keluarga yang baik dan dia termasuk dalam keturunan yang tidak baik juga.
__ADS_1
"Kenapa? Kau melamunkan apa?" Tanya Sisi yang melihat Rain sedang termangu dengan tatapan kosong di pagar pembatas balkon.
Rain menoleh ke arah sang istri yang berjalan mendekatinya. Ia menghampiri Sisi, "jangan keluar. Angin malam tidak baik untuk mu." Rain lalu merangkul pundak Sisi untuk dibawanya masuk ke dalam. Pintu kaca itu ditutupnya lalu kemudian di kunci.
"Ada yang kau pikirkan?" Tanya Sisi yang melihat suaminya sudah duduk di atas ranjang bersama dengannya.
Rain menolehkan kepalanya kembali menatap Sisi. Ingin mengelak atau berbohong rasanya tak mungkin karena dia sendiri adalah orang yang tak pandai berbohong dan membuat alasan. Rain tersenyum dengan kemudian menceritakan kegundahannya. Sisi menyimak dengan kemudian mengusap-usap lengan sang suami.
"Maafkan aku. Sepertinya ucapan ku untuk kau agar ke psikolog membuat mu kepikiran ya?"
"Aku tidak bermaksud menyinggung mu." Kata Sisi menatap netra Rain dengan dalam penuh ketulusan.
Rain terkekeh kecil tanpa suara. "Jangan merasa bersalah. Aku memang sedang konsultasi. Bukan salah mu juga. Malah baik kamu mengingatkan ku jadinya." Ucap Rain lalu mengusap kepala sang istri.
"Ayo tidur, sudah malam."
πΎπΎ
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
__ADS_1