
Jawab aku Angel Carolin Subaki." ucap Candra lirih dengan nada menekan.
Masih pada posisinya tanpa berbalik badan Angel menjawab, "jangan sebut nama Subaki dengan mulut mu itu Candra! Kau adalah maut untuk mereka."
Angel membalikkan badannya menghadap tubuh Candra yang berdiri di belakangnya dengan jarak sekitar satu meteran. Bisa Angel lihat tampang tak karuannya seperti malam-malam biasa Candra mabuk dan pulang dengan kondisi baju tak beraturan begitu juga dengan bau alkohol yang bercampur dengan aroma parfum wanita yang menyengat. Belum lagi ditambah aroma nikotin yang juga membekas yang membuat Angel merasa pusing mencium aromanya.
"Masih baik hati aku bisa menahan diri dan hanya menatap dengan tatapan membunuh. Jika bisa ingin rasanya aku langsung membunuh mu saja!" ucap Angel dengan nada ketus dan geramnya.
Candra menyunggingkan sebelah bibirnya, tersenyum remeh. "Membunuh ku? Yang benar saja. Bunuh diri saja kau tak punya nyali. Ingin membunuh ku?! Ha?!" kata Candra dengan nada yang awalnya biasa semakin di tinggikan di akhir kalimat. Dia berjalan mendekat ke arah Angel dangan tangannya yang mulai terulur ingin menggapai Angel.
"Hentikan." ucap Angel pelan namun tegas.
Candra kembali tersenyum remeh bahkan kini terdengar kikikan tawa kecilnya, ia menurunkan tangannya. "Kenapa? Aku suami mu." katanya.
"Hanya di atas kertas." Angel menjawab dengan cepat.
"Kita juga melakukan sumpah bersama." ucap Candra lagi.
"Dalam tekanan mu dan keterpaksaan ku." Angel menjawab dengan berani menatap lurus mata Candra.
"Layani aku." kata Candra dengan nada menekan.
"Dalam mimpi mu!" kata Angel tak kalah sengit dari Candra.
Kini Candra semakin terkekeh mendengar ucapan Angel. "Aku memang selalu memimpikan mu. Buat mimpi ku nyata, Angel." kata Candra dengan suara yang masih menyisakan tawa.
"Jika tubuhku tinggal jasadnya." geram Angel yang mendengar perkataan Candra baru saja.
__ADS_1
Candra kembali terkekeh, "kau bukan siapa-siapa lagi Angel. Kau sudah tak lagi menyandang nama Subaki, tapi kenapa kau sangat angkuh sekali. Kau sekarang itu hanya orang rendahan yang bisa terhormat karena menyandang nama Aditama dari ku, Angel Aditama." tukas Candra dengan nada ditekankan di akhir kalimat.
"Lalu kenapa kau ingin menyentuh orang rendahan ini Tuan Candra Aditama yang luhur?!"
"Dengan uang mu itu kau bahkan bisa membeli sepuluh wanita untuk menemani satu malam mu. Pasti tidak akan ada yang menolaknya." ucapan Angel semakin di luar kendalinya.
Tak ingin sebenarnya dia bertatapan lama dengan Candra apalagi harus berdebat panjang seperti sekarang, membuatnya sesak dan sulit bernafas rasanya.
Candra tertawa cekikikan lagi mendengar ucapan Angel. "Hihihi.. nyonya rumah yang baik hati, menyuruh suaminya untuk bermalam dengan wanita lain bahkan lebih dari satu orang."
"Tidak ada orang lain yang seperti kau Angel." geram Candra.
"Rima!" teriak Candra yang memanggil asisten rumah tangganya tanpa menolehkan kepalanya. Ia berteriak di depan Angel, membuat wanita itu kembali terkejut dengan suara teriakannya.
Rima yang setelah kedatangan sang tuan rumah tak langsung masuk ke kamarnya seperti asisten rumah tangga yang lain, ia masih berdiri di tempatnya sambil menunggu ada kejadian apa pada pasangan suami istri itu selanjutnya. Dia adalah salah satu asisten rumah tangga yang tak begitu suka dengan Angel. Kondisi kacau tuannya selalu ia manfaatkan agar mendapatkan keuntungan.
Candra lalu menatap ke arah Rima, asisten rumah tangga yang umurnya masih seumur dengan Angel. Candra tidak memperkerjakan asisten rumah tangga yang usianya sudah tua karena ia tak ingin melihat kinerja para pegawainya yang lemah tenaga dan lelet.
Tanpa aba-aba Candra meraih tengkuk perempuan itu lalu dengan sekejap mendaratkan bibirnya kepada perempuan itu dan meraupnya dengan kemudian berciuman.
Seperti mendapatkan durian runtuh, perempuan yang hanya bergelar asisten rumah tangga itu dengan berani membalas ciuman Candra dan kini ia malah semakin menuntut. Hingga tindakan mereka menimbulkan suara decapan yang dapat di dengar oleh orang lain.
"Menjijikkan. Tahu tempatlah wahai Tuan Candra." desis Angel yang mulai bergidik jijik pada tingkah Candra yang ia lakukan sekarang dengan asisten rumah tangganya.
Bukan hal baru bagi Angel melihat adegan itu, bahkan sudah sering kali ia melihatnya. Tidak hanya berciuman, bahkan Rima juga sering terlihat olehnya diajak masuk ke dalam kamar Candra. Sering juga Angel melihat Rima yang keluar dari kamar Candra dengan kondisi yang sudah acak-acakan.
Diperlakukan seperti itu bagi Rima yang hanya asisten rumah tangga adalah seperti sebuah anugerah baginya. Bagaimana tidak, kejadian saat ini membuat dirinya seperti seorang selir yang mendapatkan kasih sayang kaisarnya.
__ADS_1
Dengan adanya adegan itu membuat Angel bisa melangkah pergi tanpa memikirkan lagi alasannya untuk menghindari pertanyaan Candra. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat dan sedikit berlari agar Candra tak lagi menghalanginya dan perdebatan mereka akan berlangsung panjang.
"Sial." ucap Candra setelah melepaskan ciumannya kepada Rima. Hatinya semakin bertambah kesal saja. Tak terlihat sedikit pun dari wajah Angel rasa kesal ataupun cemburu. Yang Candra lihat hanya raut yang sama, raut menatap dengan jijik penuh kebencian yang Angel perlihatkan kepadanya.
Tanpa berpikir panjang lagi Candra menyeret Rima untuk berjalan menuju ke kamarnya. Malam itu, bukan, dini hari yang hampir subuh itu Candra melampiaskan amarah dan kekesalannya kepada asisten rumah tangganya lagi. Begitu terus setiap ia selesai berdebat dengan Angel atau merasa pusing dengan urusan pekerjaannya.
...* * *...
"Ayah, berarti Rain sekarang tidak bisa main ke rumah Sisi? Rain tidak bisa lagi bertemu dengan dedek bayi?" tanya Rain pada ayahnya.
Padahal sebelumnya Rain dan ayahnya sudah pernah membahas jika Rain akan mengundang Sisi dalam acara ulang tahun Rain yang dirayakan setiap tahunnya. Namun semua itu hanya menjadi rencana karena ayahnya berkata jika saat ini Sisi dan orang tuanya sudah pindah rumah dan tidak bisa di temui lagi karena jarak rumah mereka yang terlalu jauh.
Ya memang sekarang Armana dan Velicia juga pindah rumah yang dari sebuah penthouse pindah ke rumah bangunan biasa. Itupun karena permintaan Velicia yang setiap hari merasa kesepian tinggal sendiri di apartemen yang luas itu.
Apalagi terkadang ia masih terngiang-ngiang akan suara tangis dan tawa anak kecil yang selalu ia rindukan. Dari pada tersiksa karena rindunya terhadap putri kecilnya di rumah penuh kenangan itu lebih baik ia pindah ke tempat biasa yang lebih ramai lingkungannya agar dia bisa lebih berinteraksi dengan sekitar dan bisa sedikit melupakan kerinduannya.
Ingin bertemu sewaktu-waktu dengan putrinya pun percuma karena Arman juga mengatakan jika Candra menempatkan beberapa orang untuk memata-matai kehidupan mereka.
"Iya. Tapi sebagai gantinya nanti setelah ulang tahun, Rain akan ayah bawa ke suatu tempat. Tempatnya rahasia, jadi Rain tidak boleh memberitahukan kepada siapapun oke?" kata Andra mengacungkan ibu jarinya.
"Oke." jawab Rain dengan mengacungkan dua jempolnya.
πΎπΎ
Β hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
__ADS_1
enjoy the reading π€ π