GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 42


__ADS_3

Dibagian sepatu pengantin laki-laki.


"Mari Tuan rajaku, silahkan anda melihat-lihat yang menurut anda cocok dengan hati anda." ajak Mr. Ivy dengan nada centilnya.


"Baiklah, tolong aku bisa jalan sendiri." kata Rain yang merasa risih Mr. Ivy terus saja menggandeng lengannya.


"Ah maaf Tuan." ucap Mr. Ivy lalu melepaskan tangannya.


"Aku tidak ingin lama-lama. Tolong carikan yang warna putih yang cocok untuk disandingkan dengan baju pesanan ku tadi." ujar Rain.


Mr. Ivy lalu mengangguk mengerti. Dia tahu pasti selera seseorang seperti Rain yang selalu straight to the point.


"Mari Tuan." ajak Mr. Ivy. Rain lalu berjalan mengikuti desainer itu menunjukkan barang yang ia maksud.


"Ini Tuan. Silahkan." kata Mr.Ivy menunjukkan sebuah sepatu berwarna putih dengan insole berwarna hitam dan alas kaki hitam.


"Di bawah ini ada garis hitam agar terlihat tidak pucat dalam penampilan anda nanti." jelas Mr. Ivy.


"Baiklah. Tolong simpan itu untukku." ucap Rain.


Dia tak ingin berlama-lama untuk menentukan pilihan karena dia juga tak tahu menahu tentang padu padan sebuah fashion. Selama ini keperluannya asisten Coky yang menyediakan dan hanya membeli yang ada di etalase jika dia berbelanja ke sebuah outlet.


"Rain. Kau sudah memilihnya?" seru Sisi yang baru datang.


"Sisi. Aku, pilihan ku sudah di urus oleh Mr. Ivy." jawab Rain yang melihat Sisi datang.


Sisi lalu melihat sepatu yang ada di tangan Mr. Ivy, dia mengangguk-anggukan kepalanya merasa pilihan itu sesuai dengan yang ia inginkan juga. Melihat reaksi Sisi Mr. Ivy pun tersenyum puas.


"Kau sudah mencobanya?" tanya Sisi.


Rain terdiam sejenak, "Belum. Aku rasa tidak perlu. Aku sudah memberi ukuran sepatu yang biasa aku pakai." jawab Rain.


"Rain.." Sisi memasang wajah sedikit kecewa.


"Baiklah aku akan coba." kata Rain dengan langsung mengambil sepatu yang ada di tangan Mr. Ivy dan melepas sepatu yang ia pakai lalu mencoba sepatu yang akan ia kenakan untuk menikah nanti. Sisi tersenyum puas melihat kesigapan Rain.


"Lihat kan. Pas dan terlihat cocok." tunjuk Rain sambil tersenyum menggerak-gerakkan kakinya.


"Iya. Benar." jawab Sisi dengan senyum lebar. Rain merasa puas juga melihat Sisi tersenyum lebar.

__ADS_1


"Bagaimana dengan dirimu? Apa kau sudah selesai memilih-milih?" tanya Rain.


"Iya, aku sudah selesai memilihnya." jawab Sisi.


"Baiklah kalau begitu. Tolong simpan dan siapkan pesanan saya. Saya akan membeli untuk barang yang kami pilih tadi." kata Rain kepada Mr. Ivy.


Mr.Ivy pun mengangguk, "Baiklah Nona dan Tuan mari kita kembali ke ruangan saya lalu kita diskusikan untuk sisanya."ujar Mr. Ivy.


Mereka lalu berjalan menuju lift dan kembali ke ruangan Mr. Ivy tadi.


"Pesanan Tuan dan Nona sudah kami catat. Untuk kabar baju pengantinnya kami akan menghubungi lagi jika sudah siap untuk si fitting ya." kata Mr.Ivy setelah masuk ruangan lalu duduk di kursi tempatnya bekerja.


"Untuk keluarga pengantin, bridesmaids dan groomsmen tolong untuk segera datang kemari ya untuk melakukan pengukuran juga." kata Mr.Ivy mengambil sebuah kartu nama dari dalam laci dan memberikannya kepada Rain.


"Tolong nanti isikan alamat lengkap anda dan silahkan lakukan pembayaran kepada kasir untuk barang yang anda pilih tadi. Dengan segera kami akan mengirimkan ke alamat anda."ujar Mr. Ivy sambil tersenyum.


"Baiklah Nona dan Tuan silahkan ikut saya ke meja depan." ajak Tria lalu mengajak Rain dan Sisi keluar ruangan menuju konter tempatnya berdiri tadi.


Disana mereka mengisi kelengkapan administrasi dan melakukan pembayaran.


"Terimakasih Nona, Tuan, kami akan segera mengirimkan pesanan anda. Mohon tunggu juga kabar dari kami selanjutnya." kata Tria sambil membungkukkan badan.


"Sekali lagi terimakasih Ms.Tria atas bantuannya."ucap Sisi sambil menganggukkan kepala.


Mereka pun keluar dari gedung tersebut lalu berjalan menuju mobil. Rain melajukan mobilnya menuju ke sebuah restoran di sekitar.


"Ternyata memilih sebuah baju saja sampai lama seperti ini apalagi jika harus mengurus yang lainnya." ucap Rain yang turun dari mobil membukakan pintu untuk Sisi.


"Aku ingin asisten Coky saja yang mengatur semua. Rasanya seperti menguras tenaga yang ku pakai untuk bekerja seharian." kata Rain dengan menggerutu. Sisi tersenyum mendengar perkataan Rain.


"Ayolah, jangan memasang muka seperti itu." Sisi menggandeng lengan Rain dan menyentil telunjuknya ke hidung Rain.


"Ini belum juga awal permulaan dari rangkaian acara pernikahan kita. Begini saja sudah mengeluh. Ayo kita makan untuk mengisi tenaga agar kita bisa mempersiapkan yang lain lagi." ujar Sisi memberi semangat.


Rain pun kembali tersenyum lagi. Mereka lalu berjalan masuk ke dalam restoran dan memesan makanan.


"Waah.. kepiting kuah pedas pesanan ku." seru Sisi yang pesanannya sudah tiba di sajikan di meja. Sedang Rain memesan seporsi spaghetti.


"Sisi, kau sangat menyukainya ya?" tanya Rain terheran. Dia ingat dulu saat mengajak Sisi bertemu dengan Candra mereka di suguhkan kepiting kuah pedas itu oleh Candra.

__ADS_1


"Iya. Aku menyukainya setelah malam itu. Dan selama hamil aku sering ingin memakan yang pedas. Tapi dirumah aku selalu dilarang oleh ibu jika terlalu sering makan makanan pedas. Aku juga baru dua kali ini memakan ini selama hamil." jelas Sisi lalu menyantap makanannya.


Rain tersenyum lebar sambil tertawa kecil melihat Sisi makan makanannya dengan lahap.


"Ada satu sisi darinya yang tidak berubah. Dia selalu menghargai setiap makanan." kata Rain dalam hati dengan wajah tersenyumnya. Dia pun lalu menyantap spaghetti pesanannya.


...* * *...


"Ini masih sore. Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Rain yang sedang menyetir.


"Aku tidak ada rencana kemana-mana setelah memesan baju. Jika sudah selesai tadinya aku ingin langsung pulang saja." jawab Sisi.


"Tapi Sisi, aku masih ingin bersamamu. Setelah sekian lama aku baru saja boleh bertemu dengan mu. Aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan mu." kata Rain.


"Hei. Kau kan akan menjadi suamiku. Kedepannya kau akan menghabiskan banyak waktu bersama ku selamanya." ucap Sisi. Rain yang mendengar kata-kata seperti itu merasa tersipu. Telinganya memerah.


"Apa kau mau berkunjung lagi ke Rumah Besar?" tanya Rain mengalihkan perhatian agar Sisi tak melihat ke arahnya.


"Sekarang?" tanya Sisi. Rain mengangguk.


"Aku belum siap untuk kembali ke rumah itu. Pasti semua penghuni disana juga sudah tahu kalau aku akan menikah dengan mu. Aku belum siap menghadapi tatapan pelayan mu yang mengekpresikan bagaimana seorang pelayan seperti ku bisa menjadi istri mu?" jawab Sisi.


Rain menghela nafas mendengar jawaban Sisi. "Benar juga. Nenek kan sekarang juga tinggal di Rumah Besar pasti para pelayan akan bersuara yang tidak-tidak yang akan mengusik pikiran nenek lagi. Terlebih aku tidak ingin Sisi terlalu banyak beban perasaan juga selama masa kehamilannya." kata Rain dalam hati.


"Apa kau mau mengunjungi apartemen mu? Kita kesana saja jika kau tidak ingin ke Rumah Besar. Kau bisa istirahat sebentar disana sebelum ku antar pulang." kata Rain.


"Apartemen?" Sisi mengingat tempat tinggalnya dulu saat menjadi asisten Rain.


"Baiklah. Aku juga penasaran bagaimana kondisinya sekarang setelah aku tinggalkan." kata Sisi.


Rain pun melajukan mobilnya ke arah jalan menuju apartemen.


🐾🐾


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


enjoy the reading πŸ€— πŸ’

__ADS_1


__ADS_2