
Sekarang giliran para pelayan masuk untuk menyajikan makanan ringan dan menambah botol wine.
"Siapa gadis itu? Wajahnya menggoda sekali."gumam Gunawan sambil memegang gelas wine.
Ratih yang sedang menuangkan wine tak sengaja mendengarnya dan melihat gadis yang dimaksud. Ratih lalu tersenyum licik.
"Tuan ingin tau gadis itu?"tanya Ratih.
"Kau tau siapa dia?"tanya Gunawan.
Ratih mengangguk "dia pelayan keluarga Aditama. Sisi."
"Pelayan?"Gunawan terkejut.
"Iya tuan. Saya permisi dulu ada yang membutuhkan saya."pamit Ratih sambil tersenyum licik lagi.
"Seorang pelayan."pikir Gunawan dengan senyum licik.
"Tuan Rain bisa bicara berdua sebentar."kata Gunawan. Rain mengangguk lalu permisi kepada lawan bicaranya. Mereka pergi menjauh dari keramaian.
"Ada yang ingin dibicarakan pak Gunawan?"tanya Rain ketus.
Gunawan tersenyum remeh "boleh aku meminjam pelayanmu malam ini?"
__ADS_1
Rain menaikkan alisnya "pelayan?"
"Anda tidak ingin jika besok tersebar berita bahwa patner anda adalah seorang pelayan kan?"kata Gunawan dengan nada mengancam.
Rain menghela nafas "ambil sesukamu!". Dia lalu meninggalkan Gunawan sendirian. Gunawan tersenyum terkekeh.
Rain memanggil asisten Coky dengan isyarat, Coky segera menghampiri.
"Cari orangnya."kata Rain dengan nada geram. Coky mengangguk mengerti.
Setelah berapa lama tamu satu persatu mulai meninggalkan ruang pesta. Ada yang langsung pulang ada pula yang beristirahat di kamar yang disediakan.
Gunawan menyuruh patnernya pulang, dia lalu datang menghampiri Sisi yang terlihat sedang sendirian.
Sisi terkejut dengan kata pelayan yang dia ucapkan. Sesuai instruksi yang diberikan oleh asisten Coky dia menurut pada Gunawan.
Gunawan tersenyum penuh kemenangan. Diraihnya tangan Sisi dan dituntun menuju koridor kamar untuk tamu yang dipersiapkan.
Semakin kedalam semakin minim cahaya karena tak semua kamar dipakai. Dengan tak sabar Gunawan mendorong Sisi ke dinding. Dibelainya wajah Sisi dari dagu ke atas hingga melepas sanggul kecilnya. Tergerai panjang rambut hitamnya dan dimainkan oleh Gunawan.
Saat tangan Gunawan menyentuh ujung bibir Sisi "ekh", keluhnya dengan mata melotot membuat Sisi terkejut. Dia lalu tersungkur tak sadarkan diri. Tak lama muncul bayangan asisten Coky dengan baju tugas serba hitamnya. Sisi menghembuskan nafas sedikit lega.
Asisten Coky mengintruksikan kepada bodyguard untuk membawa tubuh Gunawan keruang bawah tanah yang tak jauh dari koridor mereka berada. Sisi mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
Sementara ditempat lain
Dua bodyguard Rain sedang memberi pelajaran pada Ratih. Ratih yang tersungkur di tanah dengan muka penuh lebam dan baju yang kotor meminta ampun berkali-kali.
"Jangan pernah menyinggung orang Tuan Rain. Itu sama artinya kau coba menyentuh Tuan Rain."kecam seorang bodyguard.
Ratih menangis meminta ampun. "Ampuun, saya tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi. Tolong lepaskan saya."mohonnya.
Seorang bodyguard menyuruh teman lainnya untuk membawanya pergi dari kediaman Aditama. Ratih dibawa dengan mobil pergi jauh dari kediaman Aditama dan dibuang ke pinggir jalan dekat hutan.
"Kerja bagus untuk kalian."kata Rain memandangi tubuh Gunawan.
"Sisi kau boleh keluar."perintah Rain. Sisi menganguk lalu pergi.
Dia lalu kekamar melempar sepatu hak tingginya dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
"Haah lelahnya."keluhnya.
"Pekerjaan macam apa ini. Isinya hanya orang-orang yang saling membunuh dan berebut kekuasaan."katanya dalam hati.
Tak lama dia terpejam tanpa membersihkan diri dan mengganti bajunya.
πΎπΎ
__ADS_1