
"Jangan merasa terbebani Bu." kata Karto agar Velicia tak merasa sungkan.
"Oh iya kalau boleh tahu siapa orang-orang itu? Mereka sampai mengejar-ngejar bapak dan ibu ke tempat ini, yang lumayan jauh dari perkotaan." tanya Rudi yang sedikit penasaran.
Ya saat Velicia meminta tolong di kebun kelapa kala itu, Velicia hanya bercerita ketika dalam perjalanan akan menjenguk putrinya mobil mereka di ikuti oleh mobil orang yang tak mereka kenal.
Velicia terdiam sejenak, menentukan jawaban yang tepat. "Kami juga tidak tahu siapa mereka. Mungkin salah satu pesaing bisnis suami saya, dan mereka adalah orang-orang suruhannya." jawab Velicia dengan menyimpulkannya sederhana agar dipahami oleh mereka.
"Karena suami saya bisnisnya sedang bagus, mungkin salah satu dari mereka ada yang merasa tersaingi dan tidak suka jika usaha suami saya berkembang, jadi mereka merencanakan sesuatu yang buruk terhadap kami." Velicia lanjut menjelaskan.
Mereka pun mengangguk-angguk mengerti. Sudah pasti hal semacam ini pun sering mereka dengar dari salah satu bandar kayu yang memborong atau pemilik tempat mereka bekerja. Persaingan bisnis yang menyebabkan tindakan fisik maupun non fisik.
Paginya Armana di bawa ke rumah sakit besar menggunakan ambulans di antar oleh tiga orang warga yang menolongnya kemarin. Subuh tadi Karto, Rudi dan Sudirman pamit pulang setelah Wisnu, Ridwan dan Dede datang bermaksud menggantikan mereka bertiga untuk berjaga menemani Velicia.
Akhirnya mereka bertiga pun ikut Velicia mengantar Arman ke rumah sakit. Velicia dan Dede berada satu mobil dalam ambulans yang berjalan lebih dulu. Wisnu dan Ridwan menggunakan mobil Velicia mengikuti mobil ambulans yang melaju di depannya.
"Terima kasih ya bapak-bapak. Kalian mau direpotkan oleh saya sekali lagi." ucap Velicia setelah selesai mengurus prosedur rawat inap untuk Arman.
"Tidak apa ibu, jangan sungkan. Kami harus bertanggung jawab sampai tuntas karena ibu juga tidak tahu daerah sini." kata Ridwan.
"Iya untuk itu saya sangat bersyukur bertemu dengan orang-orang baik seperti bapak, sekali lagi terima kasih banyak sebelumnya. Tapi maaf, dengan begitu pekerjaan bapak-bapak jadi terhambat karena saya." ucap Velicia yang merasa sudah tak enak hati karena terus merepotkan para warga yang menolongnya kemarin.
"Jangan merasa terbebani bu. Pekerjaan kami tidak menuntut dan tak mengharuskan cepat selesai kok." kata Wisnu ikut menimpali. Velicia tersenyum lega dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.
"Oh iya apa saudara ibu jadi datangnya? Mumpung kami masih disini kami bisa membantu untuk menjemputnya." tanya Dede yang tadi duduk satu mobil dengan Velicia di mobil ambulans.
Dia sempat menanyakan tentang apakah Velicia mempunyai saudara yang bisa dihubungi agar membantunya juga. Dede merasa kasihan melihat Velicia yang terlihat ragu-ragu jika akan meminta pertolongan kepada mereka. Entah itu sekedar membantu mengambil resep obat ke apotek atau membeli makanan untuk pengganjal perut wanita itu sendiri.
__ADS_1
Mungkin dia merasa sungkan karena yang dimintai tolong itu adalah laki-laki semua. Padahal para warga itu tak merasa keberatan karena di kampung mereka, mereka sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan gotong royong.
"Sepertinya akan sampai di sini malam Pak. Karena saudara saya terbang dari luar negeri dan dekat sini tidak ada bandara internasional jadi mungkin akan melakukan perjalanan panjang sampai sini. Katanya dia juga akan menyewa mobil untuk sampai sininya Pak." jawab Velicia.
"Ya sudah sementara ibu dan kang Dede menunggu Pak Arman di sini, biar saya dan kang Ridwan yang membelikan makanan. Kasihan ibu terlihat lelah dan dari subuh tadi belum terlihat makan apapun. Dan ini sudah hampir jam sepuluh siang." kata Wisnu memulai agar Velicia tak merasa sungkan jika harus meminta tolong terlebih dahulu.
"Ah iya maaf sekali ya pak, merepotkan." ujar Velicia sambil memberikan beberapa lembar uang kertas kepada Wisnu.
"Tolong sekalian beli untuk bapak-bapak sekalian ya. Dan juga beberapa makanan ringan untuk teman kita mengobrol, rokoknya juga jika nanti bapak-bapak ingin merokok." imbuh Velicia.
Ternyata pesanannya banyak tapi wanita itu sangat sungkan untuk meminta tolong, kata Wisnu dalam hati.
Wisnu pun mengangguk dan menerima uang yang diberikan oleh Velicia kemudian keluar rumah sakit untuk mencari pesanan yang Velicia sebutkan.
"Ya sudah ibu gunakan waktu untuk istirahat di dalam saja menemani suaminya." kata Dede menyarankan agar Velicia tak juga ikut duduk di kursi luar. Karena di dalam ada kursi sofa yang bisa dipakai untuk merebahkan badan.
"Kakak!" seru Velicia setelah melihat wajah Regan yang masuk ke dalam ruangan Arman di rawat. Hatinya sangat lega karena ada anggota keluarga yang bisa datang menemaninya.
"Velic." Dengan spontan Regan memeluk sang adik ipar.
Baru kali ini Velicia dipeluk oleh kakaknya iparnya itu, begitupun sebaliknya. Bukan bermaksud buruk, tapi Regan ingin memberikan kekuatan kepada Velicia.
Setelah melihat keadaan Arman sekarang yang sedang terbaring di ranjang pasien dengan kondisi seperti itu, Regan bisa melihat jika Velicia juga tidak baik-baik saja. Velicia pasti merasa sangat sendirian di tempat yang asing ini dengan keadaan Arman yang seperti itu.
Velicia akhirnya terisak dalam dekapan sang kakak ipar, dan Regan membiarkannya hingga Velicia merasa lebih lega.
"Apa yang diluar itu orang-orang yang membantu kalian?" tanya Regan setelah Velicia merasa lebih baik setelah menangis dalam pelukan sang kakak. Velicia menjawab dengan mengangguk.
__ADS_1
Setelah melepaskan pelukan kepada sang adik, Regan pun akhirnya keluar menghampiri orang-orang yang sudah membantu Velicia menolong dan menjaga Arman.
"Bapak-bapak, sekali lagi terima kasih ya atas pertolongan dan bantuannya kepada adik saya." ucap Regan setelah sebelumnya ia berbincang dengan para bapak-bapak itu dan memberikan sejumlah uang sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada para bapak-bapak itu. Ia juga berpesan agar diberikan kepada yang lainnya yang sudah menolong Arman dan Velicia kala itu.
Para bapak-bapak menjawab hanya dengan diam sambil menganggukkan kepala setelah melihat tumpukan uang yang Regan berikan, mereka tak lagi bisa berkata-kata melihat jumlah uang sebanyak itu.
Dede yang dipercaya sebagai pemegang uang itu tangannya gemetaran menerima uang yang ada di tangannya. Karena seumur hidupnya baru kali ini ia memegang uang dalam jumlah gepokan seperti itu. Ia jadi percaya apa yang di katakan Velicia jika orang-orang yang mengejar pasangan suami istri itu adalah saingan bisnis mereka. Terbukti dengan uang yang sekarang saudaranya berikan ini secara cuma-cuma dalam jumlah yang terhitung sangat banyak.
Bukan bermaksud untuk pamer, tapi karena Regan tidak memiliki amplop. Dan uang itupun ia tukar di money changer setelah sampai di bandara internasional tadi. Dan tanpa istirahat pria itu juga langsung menuju tempat adiknya dirawat.
"Sampai adik saya bisa dibawa pulang kembali, kedepannya saya mohon bantuan bapak-bapak sekalian ya. Maaf sangat merepotkan." ucap Regan yang kemudian di jawab serempak oleh para bapak-bapak itu.
"Kakak tidak apa-apa lama di sini?" tanya Velicia saat Regan sudah kembali ke dalam ruangan pasien.
"Tidak apa, ini darurat. Aku juga sudah meminta tolong kepada Belleza dan asisten pribadiku juga sekertaris ku yang handal. Tapi mungkin hanya sampai satu minggu, jadi sebisa mungkin sebelum sampai satu minggu kita bisa membawa Arman atau memindahkannya ke rumah sakit yang dekat dengan rumah kalian saja." ujar Regan. Velicia mengangguk paham.
"Bagaimana kabar ayah?" tanya Velicia menanyakan kabar mertuanya yang sempat terkena serangan jantung sebelumnya.
"Setelah mengetahui alasanku untuk kesini, beliau kembali mengalami serangan jantung." jawab Regan jujur.
"Dia juga sempat marah-marah dan memaki-maki kepada bocah ini sebelumnya, kenapa tidak mau hidup di sana saja." kata Regan dengan sedikit tersenyum melihat ke arah Arman yang sedang terbaring lemah. Velicia pun juga ikut tersenyum sambil menatap sang suami yang terbaring lemah. Karena ia tahu jika suaminya itu sangat keras kepala.
πΎπΎ
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
__ADS_1