
Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi takdir mereka untuk bertemu dan bersatu. Dan sampai sekarang pun mereka berdua sepertinya belum ada yang sadar jika sebelumnya atau di masa kecil, mereka sudah saling mengenal.
"Arman, apa mereka tidak tahu ya kalau sewaktu kecil dulu mereka pernah saling mengenal? Apa Rain lupa itu?" tanya Velicia yang kepikiran akan masa kecil anak mereka dan juga tentang masa kecil Rain.
"Padahal kata mendiang Andra dulu Rain yang selalu merengek ingin diantar untuk menemui adik bayi saat Sisi masih kecil. Tapi sepertinya Rain juga seperti lupa siapa kita." ucap Velicia yang membuat Arman yang sedang fokus pada tablet gadgetnya menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia juga baru terpikirkan sekarang kalau apa yang di ucapkan Velicia istrinya itu benar.
Apa Rain juga melupakan masa lalunya, maksudnya masa kecil dia yang dimana mereka sebenarnya sudah saling mengenal sejak dulu? Bukan hanya saat Arman dan Andra melakukan kerjasama.
"Aku punya ide." ucap Velicia tiba-tiba membuat Arman menolehkan wajahnya ke arahnya dan fokus pada dirinya.
"Bagaimana kalau kita ajak mereka melihat album lama mereka? Foto-foto masa kecil mereka dulu." kata Velicia sambil menaikkan kedua alisnya. Arman masih terdiam tanpa komentar.
"Arman?"
"Kamu masih tidak menyukai anak itu? Tidak menyukai Rain?" Velicia kini bertanya dengan nada yang sedikit berbeda tentu dengan raut muka yang berubah dari sebelumnya juga.
Arman sampai dibuat menghela nafas karenanya. Takut saja nanti malah timbul perdebatan di antara mereka kalau sampai dia mengeluarkan kata-kata yang salah.
"Ingat Arman. Dia itu suami anakmu. Laki-laki putrimu. Meski ada tidak baiknya dia kepada Sisi tapi dia laki-laki bertanggung jawab yang mau mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab atas kesalahannya juga." Velicia kembali berkata sebelum Arman sempat menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.
Jika sudah begini Arman tahu akan bagaimana ujungnya nanti.
"Memangnya kau mau putrimu menanggung malu selama hidupnya? Mengandung tanpa seorang suami dan melahirkan tanpa seorang ayah untuk anaknya?"
"Iya kau mampu secara finansial untuk menanggung semua biaya hidupnya tapi bukan berarti kau mampu menanggung beban mentalnya."
"Meski sekarang mereka belum saling mencintai tapi cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu yang mereka lalui bersama-sama. Apalagi sekarang terlihat jika Rain sangat memperhatikan Sisi." Jelas Velicia panjang lebar yang hanya ditanggapi helaan nafas panjang oleh Arman. Sudah Arman duga akan begini.
"Aku ingin tidur di kamar putriku." Kata Velicia tiba-tiba beranjak setelah menyentakkan selimut yang menutupi kakinya. Tentu saja reaksi Arman tak kalah cepat.
__ADS_1
"Iya. Ayo kita tunjukkan album masa kecil mereka nanti jika mereka sudah kembali." Ucap Arman seraya menahan tangan Velicia yang sudah terjulur pada gagang pintu kamarnya. Velicia terdiam lalu mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamar mereka.
"Ayo." ujar Arman bermaksud untuk membawa Velicia dalam dekapannya.
"Bersikaplah biasa terhadap Rain." ujar Velicia menahan tubuh Arman dengan kedua tangannya yang menahan di depan dadanya.
"Iya baiklah. Semua sesuai keinginan mu." Jawab Arman seraya mengulas senyum tak ingin istrinya merajuk lebih lama. Kembali ia merentangkan kedua tangannya untuk mendekap sang istri. Akhirnya Velicia pun datang ke dalam pelukannya.
"Baik-baiklah terhadap mereka terutama pada Rain. Karena suasana hati yang baik akan baik juga untuk janinnya." Ucap Velicia lagi dalam dekapan Arman. Ucapannya merajuk pada untuk mendukung kedekatan Rain dan Sisi.
...* * *...
"Apa? Apa tidak salah dengar?" tanya Rain masih ragu dengan apa yang ia dengar, Ayah mertuanya memberinya izin dan malah menyuruh mereka untuk tinggal lebih lama di rumah besar meski itu hanya satu minggu, jadi total dua minggu Rain bisa tidur nyenyak dan pulang pergi kantor tak memakan waktu lama.
Sisi mengangguk tanda membenarkan ucapannya seraya memperlihatkan handphonenya yang berisi pesan dari sang ayah kepada Rain.
Rain juga melihat chat room itu dan dia juga tak salah baca bahwa yang mengirimkan pesan tersebut adalah Arman. Ia mengusap wajahnya, betapa bahagianya dia sekarang. Bisa tidur dengan kualitas jam yang baik, beraktivitas dan bergerak dengan leluasa tanpa merasa ada yang memperhatikan terus lalu pulang pergi ke tempat pekerjaannya juga tidak terlalu jauh.
Malam ini Rain bisa tidur nyenyak tanpa harus memikirkan bagaimana besok pagi harus bersikap di depan ayah mertuanya.
"Ayo tidur. Ibu hamil tidak boleh tidur terlalu malam." ucap Rain memperingatkan Sisi lagi lalu menciumi wajah Sisi bertubi-tubi dengan kemudian memeluk tubuhnya dan menenggelamkan dirinya pada dekapan Sisi.
"Nia. Bagaimana kabar mu?" tanya Sisi yang sedang berada di dapur saat masih pagi sekali.
"Ah Sisi.. ah bukan, maaf Nyonya Sisi. Saya lupa." kata Nia yang sedang membuat sup krim jagung terkejut dengan kedatangan Sisi. Refleks ia memanggil Sisi dengan nama karena kebiasaannya dulu dan mereka pernah dekat saat sama-sama menjadi pelayan. Namun sekarang keadaannya berbeda, Sisi sekarang adalah Nyonya rumah ini yang juga sudah menjadi majikannya sekarang ini.
"Kabar saya baik Nyonya. Nyonya juga apa kabar?" jawabnya yang juga menanyakan tentang kabar Sisi.
"Seperti yang terlihat. Aku sangat baik." jawab Sisi sambil tersenyum. Nia melihat itu dan juga tatapannya tertuju pada perut Sisi yang sudah terlihat besar.
__ADS_1
"Bagaimana juga kabar tentang yang di dalam sana?" tanya Ina dengan sedikit ragu, takut juga untuk menyentuhnya tanpa seizin Sisi meski dia juga ingin.
"Dia juga baik dan sehat." Sisi menoleh pada perutnya yang memang sudah terlihat membuncit.
"Ingin menyentuhnya?" tanya Sisi pada Ina yang sepertinya tahu arti dari tatapan pelayannya itu. Mata Nia berbinar.
"Ah, apakah boleh?" Tanyanya sambil menatap Sisi dengan ragu.
"Tentu saja." Sisi mengangguk.
Nia pun mengulurkan tangannya menggapai perut Sisi lalu mengusap-usap perut besar ibu hamil yang ada di depannya itu.
"Rasanya canggung ya, kau harus memanggilku nyonya." ucap Sisi yang langsung membuat Nia menghentikan tangannya untuk mengusap perut Sisi kemudian menatap ke arah wajah Sisi.
"Bagaimana kalau panggil namaku saja." kata Sisi.
"Saya tidak berani. Saya masih ingin bekerja di sini dengan lama." Jawab Nia seketika.
Sisi terkekeh tanpa suara, "baiklah. Tapi jangan gunakan bahasa terlalu formal jika bicara dengan ku. Aku kamu saja seperti dulu." Kata Sisi meraih lengan Nia lalu mengusapnya.
Nia tersenyum, "itu membuat ku merasa terhormat."
"Apa masakan mu sudah matang? Baunya enak sekali. Aku ingin segera mencicipinya." Kata Sisi yang hidungnya sudah mencium harum jagung bercampur susu.
"Ah, iya sudah. Tunggu saja di meja makan. Aku akan segera hidangkan." Kata Nia yang kemudian teringat dengan sup krimnya. Sisi mengangguk dengan kemudian pergi dari dapur menuju ke ruang makan.
Nia lalu mematikan kompornya dan selanjutnya menyiapkan hasil masakannya kepada majikannya. Di ruang makan Rain dan Sisi sudah menunggu. Setelah menyajikan hasil semua masakan dibantu pelayan yang lain Nia kemudian undur diri untuk kembali bekerja.
πΎπΎ
__ADS_1
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.