GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 82


__ADS_3

"Kencan?" gumam Velicia dalam hati sambil menyungging senyum tipis kepada kakak iparnya.


...* * *...


"Apa semua sudah siap? Tidak ada yang terlewat?" tanya Regan sekali lagi.


Hari ini rombongan keluarga Agustino akan kembali ke tanah air mereka, bukan untuk pulang kampung melainkan untuk melakukan lamaran untuk putra bungsunya.


"Ready bos." jawab sang pengawal.


"All right. Let's go." ujar Regan. Kemudian mobil panjang yang mereka tumpangi berjalan menuju bandara.


Kini tibalah mereka di tanah kelahiran Agustino dan Regan. Dan sekarang berada di dalam mobil yang sudah menjemput mereka.


"Kenapa ayah tidak memakai miliknya?" tanya Belleza pada suaminya. Rujuknya pada pesawat pribadi milik Agustino.


Regan berdecak, "Ck.. tentu saja ayah ingin merepotkan kita." jawab Regan dengan entengnya.


Belleza yang mendengar jawaban suaminya tentu tertawa. Karena memang seorang Agustino meski sudah memasuki usia tua juga mandiri dan punya banyak pelayan, dia ingin merasakan dilayani. Bukan pelayanan seperti para pekerja yang bekerja di rumahnya, melainkan pelayan perhatian dari sebuah keluarga. Yang dimana sarapan pagi bersama, makan malam bersama, jalan-jalan dengan keluarga, piknik ataupun memancing.


"Hei, aku mendengarnya, son. Kau pikir aku juga tak ingin istirahat dan jalan-jalan? Memangnya hanya kalian saja yang ingin lepas dari pekerjaan yang memusingkan itu." ucapnya seolah seperti dia sendiri orang yang setiap hari berkutat dengan kertas, pena dan komputer.


"Ayah ingin menginap di rumah?" tanya Belleza. "Atau di hotel?"


"Tentu saja rumah kalian." jawab Agustino cepat. Regan menatap istrinya dengan senyum dan alis yang dinaikkan.

__ADS_1


"Kenapa? Kau keberatan?" protes Agustino pada Regan. Belleza merangkul lengan suaminya dengan senyum lebar yang menampakkan gigi putihnya.


Velicia dan Rehan yang berada di belakang hanya bisa menggelengkan kepala mereka karena tingkah ayah dan anak itu. Tidak Rehan atau pun Regan, keduanya sama saja kelakuannya, mungkin dari ayahnya itu sikap keras kepalanya dan suka menjawab setiap ucapan orang tua. Terkesan menentang, tapi untungnya mereka bukan membangkang.


"Rehan juga akan ikut ke rumah?" tanya Belleza menoleh ke belakang.


"Ah nanti saja kak. Aku harus mengantar Velicia pulang dahulu lalu ke apartemen untuk menyelesaikan sesuatu." jawabnya.


Belleza pun mengangguk. "Kalau bisa datangnya sebelum makan malam ya, biar kita bisa makan bersama." ujar Belleza.


Rehan mengangguk lalu mereka pun berpisah karena arah ke rumah Regan dan Arbre berlawanan.


Setelah sampai di kediaman Arbre, Rehan menjelaskan kepada Arbre tentang rencana keluarganya yang akan melamar Velicia secara resmi. Kemudian pulang dari kediaman Arbre Rehan kembali ke apartemennya untuk menyelesaikan urusannya sendiri dan seterusnya dia ke rumah Regan.


"Haahh.. lelahnya." keluhnya menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk yang berada di ruang keluarga.


"Tidak usah kak, aku istirahat sebentar lalu mandi saja agar badan ku lebih segar." ujarnya.


"Apa butuh bantuan kakak untuk mengatur acara pernikahan? Seperti gedung, orang tua kakak punya gedung yang biasa disewakan khusus untuk acara resmi dan formal. Untuk baju pengantinnya ada teman kakak yang memiliki boutique pengantin atau kau mau ke wedding galery?" Belleza membantu memberikan solusi.


Rehan yang memang tidak tahu apa-apa itu hanya menatap diam kakak iparnya.


"Bukankah kita serahkan saja semuanya ke WO? Kita tinggal terima hasil kan?" tanyanya.


Belleza terkekeh, "Ini pernikahan mu, meski ada WO tapi tentang tempat yang nanti akan menjadi singgasana sehari kalian dan baju pasangan yang akan menjadi kenangan seumur hidup kalian, apa kau tidak mau menentukannya sendiri?" tanya Belleza.

__ADS_1


"Aku tidak tahu tentang semua itu. Kakak boleh bantu saja lah sesuka hati kakak jika tidak merasa direpotkan. Daripada nanti yang ada pilihan ku salah." ujar Rehan yang tak tahu menahu tentang acara pernikahan.


"Iya baiklah kakak akan ikut campur dengan senang hati. Akan ku buat hari kalian menjadi raja dan ratu sehari berkesan dan tidak mengecewakan." ucap Belleza semangat.


Setelah percakapan mereka waktu jam makan malam pun tiba. Kemudian mereka beranjak ke ruang makan dengan sebelumnya memanggil Regan dan Agustino yang sibuk di ruang kerja membahas tentang pekerjaan.


"Haish.. cuti pun masih membicarakan tentang pekerjaan." Belleza menggelengkan kepalanya saat memanggil suaminya.


"Ini juga demi kamu sayang, demi masa depan kita." sahut Regan dengan senyum seraya merangkul pundak istrinya sambil mencolek lembut pipi sang istri.


Hari berikutnya mereka disibukkan dengan persiapan pernikahan Rehan dan Velicia. Mulai dari acara lamaran, lalu makan malam perkenalan keluarga, kemudian pembahasan tentang acara pernikahan.


Agustino kali ini ikut bicara, dia yang akan menanggung semua untuk acara pernikahan. Itu dia tujukan untuk memberi hadiah kepada anak bungsunya.


Pihak Arbre agak sedikit kurang enak hati karena tak mengeluarkan sedikit pun, tapi dari pihak Agustino mengatakan agar Arbre tidak merasa terbebani. Karena untuk Agustino ini adalah pernikahan putra terakhirnya dan Agustino berharap Arbre tidak merasa terhina akan putusannya ini.


Belleza dan Rehan juga ikut meyakinkan Arbre, lalu kesepakatan terjadi dan persiapan selesai. Tinggal menunggu hari pernikahan dilangsungkan saja.


🐾🐾


...^^^----------------^^^...


hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.

__ADS_1


enjoy the reading πŸ€— πŸ’


__ADS_2