GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 123


__ADS_3

"Ayo kesini." Kata Arman yang kemudian menyadarkan dirinya dari diamnya.


Rain tersadar namun masih terdiam di tempatnya berdiri. Bukannya tak sopan namun ia masih menenangkan dirinya yang jantungnya kini berdegup kencang. Jika ia memaksa masuk takut saja sesuatu yang buruk dalam dirinya akan bangkit dan terjadi hal buruk disana.


Menyadari Rain yang masih terus terdiam, Coky seolah paham apa yang dirasakan oleh temannya itu. Ia kemudian berjalan menghampiri Rain dan merangkul bahunya.


"Tidak apa. Tenanglah. Semua orang di sini. Tidak akan terjadi apa-apa pada dirimu." Bisik Coky sambil menepuk-nepuk pelan pundak Rain.


Kata-kata Coky membuat Rain memejamkan matanya untuk menetralkan rasa di dadanya. Ia merasa air matanya akan keluar setelah sempat melirik foto ayah dan ibunya yang tergantung di dinding kamar itu.


Hingga sebuah tangan besar merangkul sebelah pundaknya lagi dan mampu membuatnya membuka matanya. Ia menoleh ke arah samping, sang ayah mertua yang merangkulnya sambil tersenyum kepadanya. Senyum yang terlihat sangat tulus. Arman mengangguk kepada Rain dengan kemudian menuntun membawa tubuh Rain untuk melangkah masuk ke dalam.


Setelah sampai di depan ranjang mendiang ayah dan ibunya dulu, ia diberhentikan. Kemudian tatapannya tertuju pada pangkuan sang nenek. Sebuah album besar yang terbuka dengan menunjukkan berbagai potret disana.


Nyonya Ratna kemudian memperlihatkan album foto itu kepada Rain lalu menyerahkannya untuk diambilnya. Rain meraih album foto itu lalu Coky mengambil kursi rias untuk Rain duduk di sana. Rain tersenyum berterima kasih.


"Bukalah." Kata Arman yang masih berdiri di samping Rain menunjuk pada album foto itu dengan gerakan kepalanya.

__ADS_1


Rain mengangguk dengan perlahan kemudian ia membolak-balikkan lembaran penyimpan potret itu. Entah bagaimana rasa khawatirnya yang takut jika penyakitnya akan kambuh saat memasuki kamar itu tiba-tiba hilang begitu saja setelah melihat apa yang ada di dalam album foto itu.


Kini malah air matanya merebak hingga mengalir, dengan tersedu-sedu ia menahan agar tak terisak hingga badannya bergetar karena ia menahan tangisnya. Armana kembali merengkuh pundak Rain seolah ia seperti merengkuh anak laki-laki tersayangnya.


Arman mengingat kejadian di dalam ruangan rahasia tadi. Ruangan yang benar-benar hanya dipakai untuk menyimpan sebuah rahasia. Dari awal mula Tuan Aditama dan Nyonya Ratna memulai semuanya dari awal hingga catatan tentang Andra, Candra dan Rendra dari kecil hingga sampai sekarang.


Bahkan Candra yang masuk ke dalam penjara pun tercatat di sana. Juga tentang kecelakaan malam itu yang menimpa Andra dan Fariska, juga tentang Rain yang mengalami koma hingga Rain yang memiliki trauma pasca kejadian itu.


Entah siapa yang mencatat semua itu. Mustahil jika Nyonya Ratna sendiri yang melakukannya mengingat Nyonya Ratna dalam keadaan seperti itu, pikir Arman.


Apa Nyonya Ratna mempunyai orang khusus untuk mencatat setiap kejadian yang terjadi dalam sepak terjang kehidupan keluarganya? Arman bertanya-tanya pada dirinya sendiri selama di dalam ruangan rahasia tadi. Namun kenapa Nyonya Ratna membiarkan orang luar seperti dirinya untuk masuk ke ruangan pribadi yang menyimpan banyak rahasia itu?


Hingga kemudian ia juga menemukan sesuatu yang tadi ia bawa dari rumahnya. Sebuah album foto besar dan tebal dengan sampul yang sama berwarna hijau pupus daun pisang namun sudah terlihat pudar warnanya. Teringat dulu ia meminta Andra untuk menyamakan isi dan sampul pada album foto tersebut yang kini tengah berada di tangan Rain.


Arman mengusap-usap bahu anak laki-lakinya yang statusnya adalah menantunya itu. Padahal hubungan mereka sangat dekat selama ini namun hanya karena kesalahan satu orang membuat hubungan itu jauh dan hampir terputus.


"Jadi ini Sisi?" Tanya Rain untuk mengalihkan rasa malunya karena menangis di tengah orang-orang yang sedang berada di sana. Ia menunjuk sebuah foto seorang bayi yang menggenggam jari tangan seorang bocah laki-laki.

__ADS_1


"Iya." Jawab Arman yang juga ikut mengusap lembaran foto yang terlihat sudah menua gambarnya.


Malam itu mereka di kamar itu hingga hampir tengah malam. Berbincang sambil bercengkrama menceritakan isi masing-masing setiap potret yang terselip di setiap lembar album besar itu.


"Hati-hati ayah, ibu." Kata Rain setelah Arman dan Velicia berpamitan untuk pulang saat pagi-pagi sekali hingga menolak untuk ikut sarapan bersama. Arman berkata akan sarapan di kantor saja. Arman mengejar waktu untuk berangkat ke kantor tepat waktu mengingat jarak tempat kerjanya jauh dari rumah Rain.


Saat di tengah perjalanan ia baru merasakan apa yang Rain rasakan selama tinggal di rumahnya. Padahal Rain menurut saja saat Arman memintanya untuk tinggal di kediamannya dengan alasan yang tak ingin berpisah dengan Sisi.


"Sudah kubilang kan untuk baik-baik padanya." Kata Velicia sang istri sambil tersenyum tertawa kecil seolah sedang mengejeknya.


Arman tak merasa kesal karena teguran istrinya setelah ia menggerutu sepanjang jalan jika ia akan terlambat sampai kantor, ia justru juga ikut tertawa. Mengingat semua kelakuannya terhadap Rain selama ini ia merasa konyol. Seperti anak kecil, kekanakan.


Setelah kunjungan orang tua Sisi ke rumah besar Aditama, hubungan Rain dan Armana berubah seperti semula. Di luar rumah dan saat di perusahaan mereka akan bersikap layaknya partner bisnis yang sedang menjalin kerja sama dengan baik dan saat di rumah Arman akan bersikap biasa seperti hari-harinya dulu sebelum adanya Sisi dan kepindahan Rain disana. Bahkan saat ini Arman sudah bersikap layaknya ayah kepada anaknya saat berhadapan dengan Rain.


🐾🐾


Hola readers πŸ‘‹

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


__ADS_2