GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 22


__ADS_3

"BRAK! PRANG!"


Sisi yang baru saja mematikan teleponnya terkejut mendengarnya.


Ratna dan Susan yang sudah berada di luar pintu kamar Sisi juga terkejut. Sisi lalu membuka pintu ingin tahu apa yang terjadi.


"Nyonya?"dia terhenti karena Ratna berada tepat di depan pintunya.


"Maaf kami belum memberi tahu mu. Kau dengar itu juga kan? Aku harap Nona jangan mendekat." ucap Ratna. Sam yang telah mengunci semua pintu dan jendela villa lalu menghampiri mereka.


"PRANG! PRANG!"terdengar suara pecahan lagi dari dalam kamar Rain.


"Itu suara pecahan kaca nyonya!"teriak Sisi terkejut.


"Iya kami tahu nak. Tapi jangan mendekat."ujar Ratna.


"Tapi bagaimana kalau tuan terluka? Maaf nyonya saya akan coba melihatnya."Sisi melewati mereka. Dia berlari menuju arah kamar Rain yang tak jauh dari kamarnya.


"Dikunci."gumamnya. Sisi mengetuk pintu tapi tak ada respon dari dalam. Dia lalu menggebrak gebrak pintu kamar Rain sambil coba membuka gagang pintu. Tapi tetap saja tak ada respon.


"Nona Sisi hentikan."ujar Sam lirih.


"Iya nak. Ini sudah biasa terjadi. Jadi percuma jika nak Sisi berusaha keras mengetuk pintu."kata nyonya Ratna.


"BRUUGG"


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dengan keras hingga mengagetkan mereka yang diluar.


"Dengar kan? Bagaimana jika Tuan Rain terluka."kata Sisi dengan nada khawatir.

__ADS_1


Ratna, Sam dan Susan hanya bisa diam dan saling menatap. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Dulu saat pertama kali terjadi kejadian seperti ini mereka juga masuk lalu mencoba menolong dan menenangkan Rain namun malah Sam dan Coky terluka. Setelah kejadian itu mereka lalu memanggil dokter ke villa dan dokter menyarankan agar Rain diperiksakan. Dari situ mereka lalu mengetahui bahwa Rain mengalami gangguan stres pasca trauma. Dia akan mengalami hal itu saat malam kejadian kecelakaan yang dia alami dan membuatnya mengingat kejadian waktu itu.


"Paman bibi, bawa nyonya ke kamarnya dan temani saja beliau. Saya akan berusaha masuk kamar Tuan untuk memastikan Tuan tidak terluka."kata Sisi meyakinkan mereka.


Mereka menganguk lalu membawa nyonya Ratna masuk ke kamarnya. "Tolong berhati-hatilah Nona Sisi."ujar Sam. Sisi pun mengangguk.


Setelah memastikan mereka masuk kamar, Sisi lalu keluar melalui jendela. Dicarinya arah jendela menuju kamar Rain. Dia coba mengetuk dan memanggil Rain dari luar jendela tapi tetap tak ada respon. Dia lalu membuka outer baju tidurnya dan menggulungnya membalut tangannya.


Ditinjunya dan dipukulkannya tangannya ke jendela kamar Rain hingga pecah-pecah agar masuk badannya. Curtain yang menutupi jendela pun meliuk-liuk tertiup angin. Dilihatnya dari luar, kamar Rain berantakan penuh barang berserakan dan pecahan botol wine yang membuat lantainya merah.


Sisi masuk ke dalam dan mencoba mendekati Rain yang terduduk di sudut kamar sambil menelungkupkan kepalanya ke dalam lengannya. Jari-jari tangannya terlihat penuh luka dan berdarah.


"Tuan. Anda tidak apa-apa?"tanya Sisi perlahan. Dilihatnya tangan Rain gemetaran. Dia memegang punggungnya pelan. Tapi dengan refleks Rain menangkap tangan Sisi dan mendorongnya hingga badan Sisi terbentur lemari.


"Arghh.."Sisi berteriak kesakitan memagangi bahunya. Rain menghampirinya lalu mencengkeram rahang Sisi.


"Sudah kubilang jangan ada yang masuk!"teriak Rain didepan muka Sisi.


"Tuan.. lepaskan.. kumohon.."ucap Sisi terbata.


Rain tak mendengarkan ucapan Sisi karena sekarang dia seperti bukan dirinya yang biasanya. Sisi menggenggamkan kedua tangannya ke tangan Rain yang mencengkram rahangnya dan berusaha memelintirnya lalu mendorongnya menjauh darinya.


Sisi sangat ketakutan, baru saja dia hampir mati kehabisan nafas. "Benar kata mereka. Seharusnya aku tidak mendekati tuan." katanya dalam hati.


Sisi lalu mundur tapi sialnya dibelakang adalah sudut ruangan yang terhalang dinding dan ranjang tidur. Rain terus saja maju mendekatinya dengan raut yang masih sama. Sisi bergerak kesamping mencoba melewati ranjang agar bisa berlari mencapai jendela tempat dia masuk tadi.


Baru beberapa langkah kakinya sudah dipegang Rain dengan kuat. Sisi pun memberontak dengan sekuat tenaga tapi tenaganya masih kurang kuat untuk melawan Rain.


Rain menindih tubuh Sisi dan mencoba mencekiknya. Dengan spontan Sisi meninju lengan Rain hingga terlepas cekikikan nya. Rain memegang lengannya dan menatap Sisi dengan tajam.

__ADS_1


Sisi lalu menamparnya dengan kuat hingga tangannya terasa kebas. "Tuan sadarlah! Saya Sisi!" teriak Sisi menyadarkan Rain.


"Sisi?"gumam Rain sambil memegang pipinya.


"Ya benar! Saya Sisi asisten Tuan!"teriak Sisi agar Rain cepat tersadar.


Rain mulai linglung dan mencoba mengingat-ingat, "asisten? Sisi?".


"Ah Sisi."Rain mengulurkan tangannya ke muka Sisi. Sisi terpejam ketakutan. Rain meraba wajah Sisi dengan lembut lalu mendekatkan wajahnya.


"Ya. Sisi. gadis cantik yang kubeli."bisik Rain ditelinga Sisi. Sisi masih berjaga-jaga dengan waspada kalau kalau Rain berbuat kasar lagi.


"Wajahmu, suaramu benar-benar menarik."kata Rain berbisik sambil meraba bibir Sisi dan diciumnya dengan lembut bibir Sisi.


Sisi membelalakkan matanya karena terkejut, hatinya berdebar antara was-was dan terkejut. Karena ini pertama kalinya bibirnya bersentuhan dengan bibir orang lain. Rasanya kenyal dan manis. Hatinya berdegup tak karuan. Rain meneruskan ciumannya ke pipi lalu ke leher.


"Ahh. Tuan hentikan. Sakit."kata Sisi yang baru pertama kali merasakan kecupan yang kuat dilehernya. Dia lalu tersadar dan mendorong Rain. Namun dorongannya tak seberapa kuat dari tenaga Rain.


Rain lalu meraih tangan Sisi dan menguncinya diatas kepalanya. Diciumnya lagi bibir Sisi itu lalu berubah menjadi *******. Nafas Sisi tersengal karena belum tahu bagaimana itu cara berciuman.


Rain terus menciumi leher Sisi hingga turun kebagian dadanya. Sisi terkejut merasakan sensasi antara geli dan sakit. Dirasanya aliran darah di seluruh tubuhnya memuncak di poin dimana Rain mengecupnya dengan kuat hingga meninggalkan bekas merah di tubuhnya.


Tangan Rain yang lain mulai aktif pada bagian paha Sisi hingga membuat Sisi memberontak mencoba lepas dari genggaman Rain. Tapi semakin dia berontak semakin sia-sia tenaga yang dia keluarkan karena kekuatan pria yang dimiliki Rain.


Tubuh Sisi mulai melemas karena sentuhan Rain, dia mengalah dalam genggaman Rain. Lagipula dia sudah tak punya tenaga untuk melawan.


"Aarrghhh.."Sisi menahan nyeri dan air mata menitik diujung matanya. Semua pengalaman pertama dalam hidupnya diambil Rain malam itu.


Rain memacu gerakannya tanpa memikirkan Sisi yang merasa kesakitan. Sisi hanya bisa menangis tanpa suara karena bibirnya di kunci oleh bibir Rain. Entah sudah berapa kali Rain mencapai puncaknya namun belum juga berhenti. Lalu digenggamnya kedua tangan Sisi dengan erat dan dikecup dengan kuat bahu Sisi saat mencapai puncak terakhirnya. Rain terjatuh lemas disamping Sisi.

__ADS_1


🐾🐾


__ADS_2