
"Ughh."Rain terbangun memegangi kepalanya.
"Dimana ini?"gumamnya yang mencium aroma wangi khas perempuan. Matanya yang masih terpejam berat dibukanya perlahan.
"Kamar siapa ini?"gumamnya sambil mencoba berjalan dengan masih sempoyongan. Dia membuka pintu dan keluar dari kamar. Dia berjalan melihat sekeliling, didapatinya asisten perempuannya sedang tidur di atas sofa bed.
"Haargh Sisi."dia memukul-mukul kepalanya. Dengan masih setengah sadar dia menghampiri Sisi dan duduk bersandar di sofa bed. Kepalanya masih sangat pusing. Ditatapnya wajah Sisi yang sedang tertidur pulas. Tanpa sadar dia menyentuh bibirnya dan mengusap-usapnya. Terasa lembut dan kenyal. Dia mulai meraba pipi gadis itu dan tangannya mulai turun ke leher. Desiran darah dalam tubuhnya mulai dirasakan kembali.
"Heehh.."Sisi menampik tangan Rain yang berada di lehernya. Dia memalingkan tubuhnya kesamping.
Rain yang terkejut memundurkan posisi duduknya. Dilihatnya dengan jelas bagian dada atas Sisi dari baju tidurnya yang longgar. Rain merona, "apa-apaan gadis ini. Kenapa tidak waspada sama sekali." gumamnya.
"Hei cepat bangun!"Rain menggoyangkan badan Sisi kasar.
Sisi yang terkejut bangun seketika. Dia lalu menatap Bosnya. "Ah Tuan Rain sudah bangun."Sisi lalu beranjak berdiri.
"Hemm. Aku sedikit pusing, aku akan ke kantor agak siang."kata Rain. Sisi yang masih setengah tersadar mengangguk.
"Kenapa kau membawa ku kesini?"tanya Rain lalu merebahkan badannya di sofa bed bekas Sisi tidur.
"Ah karena semalam tuan mabuk berat dan hampir pagi kita baru pulang. Jika membawa pulang ke kediaman Aditama akan sampai pagi hari. Karena saya juga sudah terlalu lelah jadi saya membawa Tuan kesini. Maaf atas kelancangan saya."jelas Sisi.
"Apa tuan ingin diantar pulang sekarang?"Sisi bertanya kembali.
"Sudahlah. Aku ingin tidur lagi. Beritahu asisten Coky jika aku akan siang ke kantor." Rain membenamkan diri kedalam selimut.
"Baik Tuan."Sisi membungkuk.
"Dimana dia?"tanya asisten Coky yang baru saja sampai ke apartemen Sisi.
"Disana."tunjuk Sisi pada Rain yang masih tertidur pulas.
"Kenapa tidak membangunkan nya? Ini sudah lebih dari siang."
__ADS_1
"Aku mana berani."
"Tuan bangunlah! Ini hampir sore!"Coky berteriak sambil mengguncang tubuh Rain. "Tuan. Tolong bangunlah!"teriak Coky sekali lagi.
"Berisik sekali! Ada apa?"Rain bangun dari tidur.
"Ini hampir sore. Anda belum juga bangun. Anda tidak akan ke kantor?"tanya asisten Coky tegas.
"Haaahhh" Rain mengacak-acak rambutnya.
"Siapkan aku baju."katanya pada asisten Coky.
"Aku pinjam kamar mandi mu."katanya pada Sisi.
"Baik Tuan."jawab mereka bersamaan. Rain menatap mereka lalu pergi ke kamar Sisi untuk mandi.
"Sisi beri dia barangnya."perintah Rain saat di dalam mobil. Sisi lalu menyerahkan kotak flashdisk pada Coky.
"Atur rencana yang matang. Pastikan dia habis."kata Rain dengan dingin.
"Baik Tuan."jawab Coky. Dia lalu melajukan mobilnya dengan cepat ke kantor.
"Luna posisi?"asisten Coky berkomunikasi dengan earpiece.
"Clear"jawab Luna.
"Sisi?"
"Aku lihat banyak pergerakan 'bat' di belakang rumah menuju sebuah gedung?.. entahlah bangunan seperti bunker."kata Sisi.
"Oke. Kita bergerak."kata asisten Coky.
"Dua penjaga pintu."kata asisten Coky.
__ADS_1
"Dalam hitungan tiga."kata Luna.
"Tiga!"kata Sisi lalu menembak dengan selaras panjang untuk sniper bersamaan dengan Luna. Target jatuh tanpa suara.
Asisten Coky, Luna dan Sisi mendekati bangunan tersebut. Di carinya celah untuk bisa memasukkan kamera kecil. Sisi yang berada di atap menemukan exhaust fan dan memberi isyarat ke Coky.
Coky lalu memasukkan kamera pengintai seukuran biji kancing yang bisa bergerak. Dilihatnya dari layar laptop siapa saja yang sedang berada dalam ruangan tersebut. "Candra, Arga Danu, dan tangan kanan mereka."ucap Coky.
Setelah berapa lama Candra dan dua anak buahnya keluar. Mereka terkejut dua penjaga di depan pintu tewas. Lalu beberapa 'bat' berkeliling untuk mencari pelaku dan sebagian mengawal Candra keluar dari rumah Arga.
Luna turun memacing para 'bat' agar menjauh dari ruangan supaya Sisi dan Coky bisa masuk. Sisi menggunakan laser panasnya untuk membuat lubang dari atap. Dia dan Coky lalu turun menggunakan lanyard seketika mereka menembaki para 'bat' yang ada di dalam hingga tewas. Arga yang kebingungan karena para anak buahnya telah tumbang dan dia jauh dari pintu mengangkat tangannya tanda menyerah.
Asisten Coky menggelengkan kepala memberi isyarat kepada Sisi untuk memeriksa Arga.
"Clear" kata Sisi sambil mengunci tangan Arga dan menodongnya dengan pistol. Coky dengan cepat mencari sesuatu dan barang yang dirasanya penting.
"Maday. A lots 'bat'!" terdengar Luna memberi peringatan melalui earpiece.
"Done."kata asisten Coky yang selesai mengambil beberapa barang. Coky mengangkat Arga keluar ruangan dan memperlakukannya seperti sandra. Pistol Sisi dan Coky ada di sebelah kanan dan kiri kepala Arga.
"Jatuhkan! Atau dia mati!"ancam Sisi yang melihat Luna kewalahan menghadapi 'bat' diluar.
"Dor" suara tembakan mengenai dada Arga Danu. Salah seorang 'bat' menembakkan peluru padanya. Sisi dan Coky terkejut.
"Dia sudah tak ada gunanya!"ucap 'bat' tersebut.
"Suar!" asisten Coky meminta bantuan pada Rain karena mereka kalah jumlah. Tapi belum juga ada balasan.
"Luna run out!"perintah asisten Coky sambil menjatuhkan Arga lalu menembaki 'bat' begitu pula Sisi melakukan hal yang sama.
🐾🐾
__ADS_1