GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 103


__ADS_3

Mereka pro terhadap Candra karena pengaruh Candra yang terobsesi menjadi pemimpin utama di perusahaan induk Aditama dan mengiming-imingi banyak keuntungan dan peluang lain untuk mereka.


"Siapa lagi yang kau maksud?" tanya Gunawan yang sedang makan kacang ditemani minuman berwarna merah yang berjajar di atas meja.


Kini mereka sedang berada di sebuah room tempat karaoke di temani oleh beberapa pemandu karaoke yang juga merangkap pekerjaan.


"Rehan Armana Agustino." setelahnya Candra mendenguskan nafas dengan kasar.


"Kesal sekali aku setiap mendengar namanya." ujar Candra yang kini sudah habis beberapa gelas minuman. Minuman berwarna merah itu menjadi pelampiasannya yang kesal kepada kakaknya dan orang-orang yang berpihak pada kakaknya.


"Ck.. ck.. ck.. jelas saja dia tidak gentar. Agustino kan ada dibelakangnya." kata Agung yang dibenarkan oleh semuanya dengan kekehan. Semakin kesal saja Candra mendengarnya.


"Gunawan, aku minta kau awasi dia. Kenapa dia bukannya takut tapi malah tetap diam saja seperti tidak pernah terjadi sesuatu." kata Candra memberikan perintah kepada Gunawan agar menyuruh anak buahnya mengawasi keluarga Rehan Armana.


"Baiklah. Itu pekerjaan mudah." ucap Gunawan.


"Sepertinya penculikan itu bukan ancaman untuknya. Dia masih berani berhadapan dengan ku." kata Candra dengan nada geramnya.


"Kenapa tidak kita selesaikan saja langsung niat mu itu? Kau kan sudah punya kami?" tanya Agung yang penasaran kenapa Candra tidak terang-terangan saja ingin menjadi pemimpin, padahal sekarang posisinya jika saham mereka di gabungkan akan sangat menguntungkan bagi pihak Candra.


Candra meneguk sekali habis minuman pembawa pengar dalam gelasnya sekaligus. Setelahnya ia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara langsung.


"Masih ada ibu, sekalipun aku memiliki 60% saham atas gabungan dari kalian. Beliau tidak akan pernah setuju aku memimpinnya. Dia tahu jika kinerja ku selalu menyangkut pautkan kehidupan pribadi orang lain dalam ancaman ku." jawab Candra jujur.


"Huuhhh.. jika ingat orang tua itu, aku jadi semakin kesal saja. Kenapa dia sangat membedakan kita dan lebih mengutamakan anak pertamanya itu. Memang apa bedanya kami? Jika di perlakukan sama kami pun juga bisa menjadi seperti yang ia inginkan." ucap Candra menyadarkan kepalanya ke sandaran kursi hingga menengadah menatap langit-langit ruangan itu.

__ADS_1


Entah itu ungkapan dari hatinya langsung atau karena dia sudah mabuk sebab pengaruh alkohol yang ia teguk, dia terlihat seperti sedang mengungkapkan apa yang selalu menjadi penyebab sakit hatinya. Dan itu membuat temannya yang lain terkekeh saling pandang.


"Jujur sekali dia." ujar Arga Danu yang paling tahu apa masalahnya Candra ingin sekali menyaingi kakaknya itu.


Tentu saja karena Candra ingin terlihat nyata dan terlihat lebih unggul di depan ibunya. Dia ingin menjadi anak yang bisa ibunya berkata kepada orang-orang bahwa Candra bisa melakukan ini, Candra bisa melakukan itu, Candra ku sangat hebat!


Dia juga ngin menyadarkan ibunya bahwa tak semua anak pertama adalah yang bisa segalanya. Tak semua anak pertama yang harus mendapat sesuatu yang spesial dari semuanya.


Tetap saja kembali kepada pandangan seorang 'orang tua', mereka lah yang lebih mengerti bagaimana anak-anaknya. Sikap, sifat, perilaku, tabiat, pola pikir, dari hal kecil sampai hal yang besar mereka lah yang pastinya sangat tahu. Pun demikian dengan Ratna Aditama, dia tahu sifat setiap anak-anaknya dari Andra, Candra dan Rendra. Meski dulunya dia sangat sibuk dengan pekerjaannya namun pengawasannya dalam tumbuh kembang putra-putranya tak luput dari pengawasannya.


Jika ia lebih memilih Andra sang anak pertama untuk menjadi pemimpin perusahaan selanjutnya, bukan tanpa alasan. Pasti kriteria sebagai pemimpin yang Ratna maksud ada pada putra sulungnya itu. Hingga akhirnya Andra di beri pendidikan khusus untuk di gembleng menjadi calon pemimpin seperti apa yang mendiang suaminya ajarkan.


Namun begitu, sikapnya yang seperti itu membuat salah satu dari ketiga putranya mempunyai pandangan berbeda terhadapnya. Candra berpikir bahwa jika sang ibu sangat pilih kasih. Hingga akhirnya dia cemburu dan ingin membuktikan kepada ibunya jika dirinya juga bisa menjadi seorang pemimpin, namun cara yang ia tunjukkan sangat salah di mata sang ibu. Hingga ibunya menilai bahwa Candra kurang kompeten dalam memimpin dan jika menyelesaikan segala sesuatu harus sesuai dengan apa yang ia kehendaki.


"Dia sudah terpengaruh." kata Indra Dirga yang sedari tadi diam dalam pembicaraan mereka. Dia hanya asyik dengan teman wanitanya yang sedang melayaninya saat ini. Dia tahu Candra sudah sangat mabuk karena bisa berkata jujur seperti itu.


"Sial! Malah kau yang sudah tidak waras." umpat Gunawan yang juga sudah tidak bisa menahan hasratnya melihat temannya menggerayangi wanita sewaannya.


Dia yang memang hobi bermain wanita malah lebih dulu membawa perempuan yang berada dalam pangkuannya yang katanya pemandu karaoke itu pergi ke luar dari ruangan karaoke itu untuk di ajaknya ke dalam sebuah kamar yang sudah di sediakan di tempat itu. Begitupun Indra Dirga yang juga sudah di tegur oleh Arga Danu untuk menyusul Gunawan agar menggunakan kamar saja.


Sedang Agung Rama dan Arga Danu masih dalam pembahasan tentang rencana Candra yang ingin ia ketahui. Namun pembicaraan mereka pun mulai tak fokus karena kini Candra sudah dalam pengaruh minuman alkoholnya. Candra yang cara berbicaranya sudah kacau dan setiap sedang berbicara sering terpotong sebentar perkataannya karena ulahnya sendiri yang sering meraup bibir teman wanitanya malam ini.


Bagaimana Candra bisa tahan jika wanita pemandu karaoke itu selalu meraba-raba dadanya yang sudah terbuka tak tertutup lagi dengan kemejanya dan juga mengusap-usap bagian bawahnya meski masih tertutup oleh celananya.


"Sudahlah lebih baik kau ikut mereka saja dari pada pembicaraan ini tidak jelas." kata Agung Rama yang melihat Candra dan teman wanitanya sudah berkabut dalam nafsu.

__ADS_1


"Iya karena jika pulang ke rumah pun percuma. Kau tidak akan mendapatkannya." celetuk Arga Danu setelahnya ia terkekeh dan dilanjutkan oleh Agung Rama kekehannya itu.


Candra yang mendengar itu langsung teringat rumahnya dan wanita yang berada di rumah itu. Wanita yang menjadi nyonya Candra Aditama yang seharusnya melayaninya jika dia ingin. Namun jika ia pulang ia jarang bertemu dan melihat wanita itu dan jikapun bertemu karena tidak sengaja berpas-pasan wanita itu hanya menampakkan wajah dingin penuh kebencian kepadanya. Mengingat itu membuat hati Candra semakin kesal dan penuh emosi saja.


Memangnya mereka pikir Candra itu siapa? Laki-laki baik dan berwibawa yang hanya setia pada satu wanita? Yang benar saja.


Dengan uang dan kuasanya ia bisa mendapatkan wanita manapun tanpa harus menikahinya.


Lalu untuk apa ia mempertahankan Angel untuk berada di dalam rumahnya dan mengikatnya dalam sebuah pernikahan? Kenapa tidak ia lepaskan saja? Toh jika memang ia juga tak membutuhkan Angel.


Apakah karena ia merasa takut terhadap ibunya? mengingat dulu Candra dan Angel menikah karena kesalahannya yang membuat nyonya Ratna Aditama malu pada publik.


"Sudahlah. Lebih baik kalian yang keluar! Aku akan menyelesaikannya disini." ujar Candra pada teman-temannya untuk membawa serta pasangannya keluar dengan nada sedikit berteriak.


Jika sudah begini Arga Danu dan Agung Rama sudah tidak bisa membantahnya, mereka pun keluar bersama pasangannya masing-masing.


Dan malam itu Candra melampiaskan kekesalan dan amarahnya pada perempuan yang bergelayut padanya sedari tadi. Dia membuat perempuan itu menjadi target pelampiasan hasratnya di bawah kungkungannya. Teman wanitanya itu malah sangat senang bisa menjadi tempat pelampiasan sang laki-laki, apalagi jika laki-lakinya seperti Candra, ber-uang dan ber-kelas.


Erangan keras yang keluar dari mulut Candra seolah menjadi sarana ia menyalurkan amarah dan kekesalannya. Sudah berapa kali ia mendapatkan pelepasannya bersama wanita sewaannya itu, sampai dirasa dirinya cukup lelah lalu berhenti. Namun begitu ia tak lupa untuk pulang ke rumahnya malam itu, meski kini waktu sudah menunjukkan pukul tiga malam. Dini hari.


🐾🐾


Β hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.

__ADS_1


enjoy the reading πŸ€— πŸ’


__ADS_2