
"Mau di bantu?" tanya Velicia yang sudah selesai dengan pekerjaannya dan mengelap tangannya.
"Boleh. Tunggu sebentar, aku ingin menghabiskan minuman ini." kata Rehan yang masih menikmati jahe hangatnya.
Mereka kini tengah sibuk di ruang kerja Rehan. Merapikan file, menyusun berkas, meletakkan beberapa buku tebal dengan ukuran besar milik Rehan.
"Armana Corp.?" tanya Velicia sambil bergumam. Tangannya menyentuh sebuah desain nama yang tergeletak di atas meja kerja Rehan.
Rehan menghampiri, tangan kirinya juga ikut menyentuh desain nama yang terbuat dari papan kayu tersebut.
"Iya. Hari Senin proses akuisisinya, aku ingin menggantinya dengan nama ini. Aku sudah bicara dengan ayahmu, dan beliau juga menyetujuinya." ucap Rehan.
"Setelahnya akan ada peresmian untuk nama ini, lalu setelahnya lagi acara party pembukaan perusahaan baru, maksudnya dengan nama baru. Untuk menarik para investor dan vendor, karena aku juga akan mengajak kak Belle untuk bekerja sama dengan perusahaan kita." jelas Rehan.
"Kau pasti akan sangat sibuk sekali." ujar Velicia menanggapi.
"Kau juga akan ikut sibuk setelah ini. Setelah open party, di pesta-pesta selanjutnya kau pun juga akan ikut untuk mendampingi ku. Karena saat pesta pembukaan nanti, disana aku akan memperkenalkan mu kalau kau adalah istri ku." ujar Rehan.
Rona merah menguasai pipi Velicia, diperkenalkan sebagai istri kepada para rekan kerja suaminya, siapa yang tak ingin dan bangga.
Rehan meraih rambut Velicia yang terurai ke depan dan menyelipkannya di belakang telinga. Perlahan tangan nya mengusap puncak kepala sang istri.
Seolah tahu kode yang diberikan sang suami, Velicia lalu mendekatkan wajahnya pada Rehan. Dengan senang hati Rehan pun menyambutnya.
Bibir mereka kini sudah menyatu, saling menyeessap dan mellummat, bersilat lidah hingga meninggalkan bekas saliva disana. Jantung mereka berdetak mengikuti irama nafas yang naik turun.
__ADS_1
Di jedanya ciuman mereka untuk mengisi oksigen, Rehan mengangkat tubuh Velicia lalu membuatnya duduk di atas meja. Ditatapnya mata sang istri dengan damba lalu melanjutkan ciuman mereka kembali.
Tangan kirinya menelusup ke belakang tubuh sang istri melewati outer piyama tidurnya. Di usap-usapnya lembut punggung sang istri hingga menimbulkan sensasi yang menjalar ke seluruh tubuh istrinya.
Velicia yang merasa senssitiff tubuhnya meremang, ia mengeluarkan suara lenguhan lemah yang mirip dengan dessahhan. Bibir Rehan kini menuruni leher jenjang Velicia dengan memberikan kecupan-kecupan kecil hingga berakhir di tulang selangka sang istri, disana dia menyesap dengan kuat hingga meninggalkan bekas merah.
Velicia yang seperti sudah terbakar merremass kuat rambut Rehan seraya menggigit bibir bawahnya. Tangan kanan Rehan menyibak outer gaun tidur Velicia bagian bahu kiri, kini ia beralih menyeessap bahu kiri sang istri dengan sedikit gigitan kecil.
"Aaghhh.." lenguhan tertahan lolos dari bibir Velicia disertai rematan pada pundak Rehan.
Hal itu membuat Rehan menghentikan aktifitasnya, pun seketika ia terngiang kata dari kakaknya, "jika sudah melakukannya sekali, kau akan merasa candu dan tidak bisa berhenti."
Ia ingin melakukan lebih dari ini, kenapa tidak? Karena ini sudah menjadi haknya, namun selama ini dia menahannya karena masih banyaknya pekerjaan yang tidak bisa ia tunda. Apalagi jika benar seperti yang dikatakan oleh kakaknya dan rekan-rekan kerjanya jika hubungan suami istri itu sangat candu.
"Kau benar, istri ku juga pure gadis. Saat malam pertama aku tak cukup hanya satu kali, sudah selesai tiga kali subuhnya aku minta lagi sampai lima kali. Untung kami sedang cuti menikah, aku sampai kasihan karena istri ku tidak bisa jalan setelahnya. Aku merutuki diriku yang seperti binatang ini." ucap teman satunya lagi.
"Glek." Rehan menelan ludahnya dengan kasar.
Dia sedikit juga merasa takut, jika sudah melakukannya dengan Velicia dan jika benar rasanya bikin candu. Entahlah, dia lebih tak bisa membayangkan dirinya jika lebih buas dari temannya itu.
Lagi-lagi Velicia dibuat kecewa dengan aksi Rehan yang menggantung, sudah berada di titik panasnya Rehan malah menghentikan aktivitasnya.
Menurutnya siapa juga yang tak hanya bisa kecewa, Rehan sendiri saja juga merasa kesal meski dia yang menghentikan aktivitasnya lebih dulu. Sudah berada di on fire namun harus berhenti karena ketakutannya jika dia benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. Rehan kemudian merapikan gaun tidur Velicia lalu mengecup puncak kepala sang istri.
"Sudah dulu, ayo kita lanjutkan merapikannya agar cepat selesai." ucapnya lalu mengelus lembut rambut sang istri.
__ADS_1
"Emm.." Velicia menjawab dengan mengangguk. Kemudian ia turun dari meja dan kembali meraih buku-buku tebal untuk disusun di rak buku.
"Han.. ini tombol apa ya?" tanya Velicia yang tengah menyusun buku-buku milik Rehan di sebuah rak buku. Dia mengusap tombol yang hampir rata dengan dinding tersebut.
Rehan yang sedang menyusun beberapa berkas di rak lain kemudian berjalan menghampirinya, lalu dia juga ikut meraba tombol tersebut kemudian ditekannya secara perlahan.
"Grrek" suara terdengar setelahnya. Tak lama rak pun bergetar sedikit lalu bergeser layaknya sebuah pintu. Muncullah kini di hadapannya sebuah ruangan namun gelap.
Rehan melangkah duluan, dia meraba-raba dinding sisi pintu mencari tombol saklar. Tidak mungkin kan ruangan itu gelap sepenuhnya.
"Tak" bunyi setelah dia menemukan tombol saklar. Lalu terang lah seluruh ruangan tersebut.
"Astagaa.." ucap Velicia sambil menutup mulutnya dengan jari tangannya.
Rehan tersenyum menyungging bibirnya sebelah, "treasure" ucapnya memutar setengah badannya menatap ke arah Velicia.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π
__ADS_1