GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 41


__ADS_3

Rain melambaikan tangan memanggil nama Tria untuk menghampiri mejanya. Tria pun datang sambil membawa buku kecil dan pena lalu duduk di kursi depan mereka.


"Saya ingin dibuatkan yang seperti ini untuk bride nya dan yang seperti ini untuk groom nya." Rain menunjukkan gambar tabloid yang terbuka.


"Baiklah Tuan." kata Tria.


"Miss, tolong dibuatkan juga baju yang sesuai untuk pendamping kedua pengantin ya. Untuk keluarga, bridesmaids dan groomsmen nya." kata Sisi menambahkan.


"Baiklah Nona. Akan saya tuliskan terlebih dahulu pesanan atas nama groom dan bride nya?" tanya Tria.


"Ah, atas nama Rain dan Sisi."jawab Sisi.


"Oke. Untuk gaun dan suit ini saya akan rekomendasikan untuk bridesmaids dan groomsmen nya ya." kata Tria membalikkan lembaran tabloid setelah menuliskan nama pemesan dalam buku kecilnya.


"Nah, bagaimana dengan yang ini." Tria menunjukkan gambar tabloid pada Rain dan Sisi.


"Ini terlihat bagus."kata Rain.


"Untuk gaunnya bahan ini dari jacquard premium jadi akan terlihat mengkilap jika terkena cahaya."jelas Tria.


"Untuk groomsmen model baju standar dengan jas tapi bahan kualitas tinggi. Anda tinggal memilih ingin yang dari wol yang bisa menyesuaikan suhu atau wol silk yang juga memberi efek berkilau pada baju."jelas Tria.


"Ah membingungkan juga ternyata. Harusnya aku membawa asisten Coky juga untuk kesini."gumam Rain sambil mengusap keningnya. Sisi tertawa kecil melihat Rain yang kebingungan.


"Tolong untuk gaun bridesmaids nya saya ingin ada perpaduan jacquard dan satin delustered. Dan untuk groomsmen saya pilih yang wol silk saja."kata Sisi.


"Baiklah Nona akan saya catat."


"Dan untuk keluarga, saya ingin gaunnya full jacquard dan jas suitnya wol saja ya."imbuh Sisi.


"Baik Nona. Sudah saya catat semua."kata Tria setelah selesai menulis kriteria yang dimaksud Sisi.


Rain hanya menjadi pendengar dan melihat setiap yang dikatakan oleh Sisi karena dia tidak tahu menahu tentang bahan pakaian. Yang selama ini dia pakai kebanyakan dari hasil pilihan Coky dan setiap dia mengajak Sisi belanja gaun dan dress pun hanya tinggal mengambil tanpa bertanya dan tahu bahannya.


"Nona tidak ingin memakai kain veil?" tanya Tria.


"Ah benar aku lupa. Tolong buatkan yang sebatas punggung saja ya. Yang sederhana saja."kata Sisi.


"Baik Nona." Tria telah selesai menulis pesanan.


"Kalau begitu mari kita lakukan pengukuran dan melihat bahan kainnya." Tria beranjak lalu mengajak Rain dan Sisi menuju ruang pengukuran.


"Nah ini contoh bahan-bahan yang saya maksud tadi."kata Tria sambil berjalan sebelum masuk ke dalam ruang pengukuran.


Sisi meraba dan sedikit mengusap kain-kain yang menjuntai indah.


"Lembutnya."gumamnya.


"Bagaimana? Apa ada yang perlu di rubah atau ditambah untuk bahan kainnya?"tanya Tria.


"Tidak usah. Ini sudah bagus dan.. terlihat indah." Kata Sisi memegang dan memandangi bahan kain yang akan dipakai untuk membuat gaun pengantinnya.


"Baiklah kalau begitu, mari kita masuk untuk melakukan pengukuran."Tria membuka pintu ruangan mempersilakan Rain dan Sisi masuk.


"Welcome my costumer. My king and queen to be. Mari silahkan duduk."sambut seorang lelaki dengan perawakan gemulai menuntun Sisi dan Rain ke sofa yang terletak di depan sebuah meja kerja.


"Mr. Ivy, ini adalah Tuan Rain dan Nona Sisi. Ini daftar pesanan mereka." kata Tria menyerahkan buku catatan kecilnya.


Laki-laki yang disebut dengan Mr. Ivy itupun memasang kacamatanya untuk membaca catatan kecil Tria dan berjalan menuju meja kerjanya untuk melihat gambar di tabloid.


"Ah baiklah baiklah." katanya sambil memegang frame kacamata.


"Perkenalkan saya Ivan Yudistira biasa dipanggil dengan Mr. Ivy, saya designer di sini dan selamat datang di butik saya yang kecil ini."katanya sambil membungkuk memberi salam dan menegakkan badannya lagi dengan tersenyum centil.


"Baiklah, siapa yang akan saya ukur terlebih dahulu? Tuan atau Nona?" tanyanya memegang gagang kacamata sambil menatap kearah Sisi kemudian beralih ke Rain.

__ADS_1


"Astaga.... Jika tau cara membuat baju pemesanan seperti ini lebih baik aku membeli yang sudah jadi saja." Rain mengusap-usap keningnya lagi sambil bergumam dalam hati.


"Saya dulu saja. Karena sepertinya akan lama untuk pengukuran baju saya." kata Sisi lalu berdiri.


"Ooh baiklah Nona yang cantik. Mari melangkah maju ke depan." tangan Mr. Ivy menyambut Sisi ala pangeran. Dia lalu mulai mengukur lingkaran pada tubuh Sisi yang diperlukan.


"Ms.Tria tolong bantu saya catat ukurannya ya." ucap Mr. Ivy dengan centil.


"Sure Mr. Ivy." jawab Tria lalu memegang kembali buku kecilnya.


"Perut anda sudah mulai terbentuk ya Nona, apa ingin disesuaikan dengan gambar atau perlu saya ubah lagi ?" tanya Mr. Ivy.


"Ah iya benar. Saya tadi juga ingin meminta tolong untuk diberi ukuran lebih bagian perut dan bagian waistline sedikit dinaikkan." ujar Sisi.


"Baiklah Nona." Mr. Ivy memainkan meteran kain miliknya lalu memberi tahu hasil ukurnya kepada Tria.


"Sudah selesai. Silahkan duduk kembali Nona. Hati-hati jangan terlalu banyak berdiri." ucap Mr. Ivy seperti sedang menasehati.


"Sekarang giliran my king to be, silahkan Tuan." kata Mr. Ivy sambil membungkuk. Rain pun maju menghadapnya.


"Dibuka ya jas nya." kata Mr. Ivy dengan nada centilnya lalu kemudian mengukur badan Rain.


"Nah selesai." Mr. Ivy kembali mengenakan jas milik Rain. Rain pun kembali duduk ke tempat semula.


"Oh iya untuk sepatunya apakah akan dibuat di sini juga? Jika iya saya akan mengukurnya sekaligus." tanya Mr. Ivy.


"Astaga.. mengukur lagi." gerutu Rain dalam hati sambil memasang ekspresi wajah tak sedap. Mr. Ivy pun segera tanggap dengan keadaan seperti ini, dia lalu memberikan penawaran yang membuat pelanggannya merasa nyaman.


"Tapi jika anda tidak ingin repot kami juga menyediakan jasa sewa lho." ujarnya dengan menaikkan sedikit alisnya.


"Ah jika ada saya akan beli saja daripada menyewa atau membuat." seru Rain dengan cepat.


"Aah baiklah Tuan... Mari ikut saya untuk melihat koleksi kami. Silahkan pilih yang menurut anda cocok nanti." kata Mr. Ivy menganggukkan kepalanya memberi isyarat kepada Tria untuk menuntun tamunya.


"Mari Tuan, Nona, kami tunjukkan tempatnya."kata Tria berjalan duluan setelah membukakan pintu diikuti dengan Mr. Ivy dibelakang.


"Silahkan anda melihat-lihat dahulu raja dan ratu ku."kata Mr. Ivy dengan nada menyanjung.


"Di lantai 3 ini semua barang adalah baru."ujar Mr.Ivy.


Dia tahu caranya untuk mendapatkan hati pelanggan agar puas atas pelayanannya dan menjamin setiap pelanggan yang membeli produknya akan merasa berkesan.


Sisi terkesima melihat jajaran high heels yang dipajang layaknya barang berharga dalam museum. Karya indah seperti ini lebih menarik perhatiannya dari pada barang branded yang sering Rain belikan dulu saat dia bekerja menjadi asistennya.


"Apa ada heels yang lebih rendah? Ini sepertinya terlalu tinggi untukku. Aku takut nanti terjatuh dan terjadi sesuatu dengan perutku."tanya Sisi pada Tria sambil memegang perut bulat kecilnya.


"Tentu saja ada Nona. Mari sebelah sini."Tria menunjukkan arah dengan tangannya sambil menuntun mereka untuk mengikutinya.


"Astaga..."gumam Sisi dalam hati yang merasa kagum. Dia hanya bisa menutup mulutnya mengekspresikan rasa kagum.


"Ini benar-benar surga untuk perempuan." ucapnya dalam hati lagi.


Rain yang melihat ekspresi Sisi seolah tahu apa maksud dari dalam hatinya itu. Dia yang terkenal memiliki perusahaan besar, penyumbang dana pada setiap rumah sakit kota ini, hingga uang yang tak akan pernah habis meski dia menua sampai bungkuk merasa tersaingi oleh seorang desainer yang karyanya mampu membuat mata Sisi terpukau.


"Saya ingin yang ini." tunjuk Sisi secara langsung tanpa berpikir lagi setelah melihat sepatu tinggi brukat berwarna putih dengan balutan silver bagian alas kaki dan hak nya serta dihiasi dengan payet yang indah. Tria lalu membuka lemari kaca itu dan mengambil sepatu yang dimaksud Sisi.


"Silahkan Nona." kata Tria meletakkan high heels tersebut ke bawah. Seketika Sisi lalu memasukkan kakinya untuk mencobanya.


"Wah, ukurannya pas sekali Nona. Mungkin sepatu ini berjodoh dengan Nona."kata Tria.


"Mari kita lihat di cermin." Tria menuntun Sisi menuju ke sebuah cermin tinggi di ujung jajaran etalase. Di angkatnya kakinya dan melihat keindahan sepatu yang terpantul dari cermin tersebut.


"Tolong yang ini saja untuk sepatu saya."kata Sisi.


"Baiklah Nona. Akan saya simpan untuk Nona."kata Tria.

__ADS_1


"Ah apa itu?" tanya Sisi yang matanya tercuri pandang oleh kilauan dari cermin.


Dia melihat ke sudut cermin yang memantulkan cahaya dari chandelier yang tergantung di atas. Padahal tempat sepatu bagian wanita dimana ia berdiri sekarang hanya ada lampu panjang yang terang. Tria lalu ikut mengintip pantulan dari cermin yang di maksud oleh Sisi.


"Ooh.. itu bagian tiara Nona. Saya minta maaf telah ceroboh lupa untuk menanyakan tiara seperti apa yang ingin Nona gunakan." ucap Tria.


Sisi tak menghiraukan permintaan maaf Tria atas kecerobohannya, lagi-lagi matanya terpesona akan hal yang baru untuknya.


"Tolong antar saya kesana." pintanya. Tria mengangguk lalu menuntun Sisi menuju tempat penyimpanan tiara.


"Astagaaa... Ini seperti surga." Ucapnya yang kini keluar langsung dari mulutnya.


Dia terkagum dengan keindahan tiara berbagai macam bentuk, ukuran dan hiasan. Dia meraba kaca etalase dari ujung kanan hingga ujung kiri.


"Benar-benar menyilaukan." gumamnya dalam hati. Kilauan permata dan berlian yang terpancar dari pantulan cahaya chandelier membuatnya terpana.


"Ms.Tria, saya ingin coba yang ini." katanya sambil menunjuk pada sebuah tiara bermata ungu yang di kelilingi oleh permata putih.



Tria pun mengangguk dan mengambil tiara tersebut lalu secara perlahan dan hati-hati meletakkan di atas kepala Sisi.


"Mari Nona." ajak Tria menuju ke sebuah cermin yang besar dan tinggi.


Kali ini cermin itu membentuk sudut 90⁰ guna agar pelanggan bisa melihat sisi depan dan belakang saat mencoba tiara disana. Sisi yang sedang memakai tiara dan heels yang dia coba tadi berkaca di depan cermin tersebut.


Hatinya berdebar-debar, dia membayangkan hari dimana dia memakai semua ini nanti bersanding dengan Rain dan dilihat oleh orang banyak. Matanya sedikit berkaca membayangkan semua itu. Tak pernah terbayangkan semua ini sebelumnya jika dia akan menjadi anak dari orang ternama dan sekarang akan dinikahi oleh orang ternama pula. Dia merasa sangat beruntung dan sangat bahagia.


"Ms.Tria, tolong saya ingin yang ini untuk pernikahan saya nanti."ujar Sisi.


"Baik Nona." jawab Tria sambil menganggukkan kepala.


"Anda benar-benar sangat cantik saat memakainya Nona. Apalagi jika nanti sudah dipadukan dengan gaun yang anda pesan."kata Tria memuji.


"Iya. Aku juga merasa begitu." kata Sisi tersenyum yang merasa dirinya sudah menjadi setengah ratu.


"Tolong.."kata Sisi sambil sedikit menurunkan badannya. Dia juga ada rasa takut jika nanti tiara itu jatuh maka dia tidak akan bisa memakainya lagi.


"Baiklah. Sudah Nona." kata Tria mengambil tiara itu lalu meletakkan kembali ke tempatnya. Sisi masih saja melihat-lihat etalase tiara tersebut.


"Apa Nona masih ingin melihat-lihat lagi? Mungkin anda merubah pikiran untuk mengganti yang sebelumnya?" tanya Tria yang merasa jika pelanggannya masih butuh waktu untuk memilih.


"Ah tidak. Saya hanya kagum Ms.Tria." ucap Sisi.


"Ah iya, di mana Rain?" tanya Sisi yang baru saja menyadari tidak mendengar suara Rain dari tadi.


"Tuan Rain sedang diajak oleh Mr. Ivy untuk melihat sepatu yang akan ia kenakan nanti Nona." jawab Tria.


Sisi tak sadar kapan dia mulai terpisah dengan Rain saat melihat-lihat sepatu tadi. Pandangannya terlalu fokus pada kilauan keindahan yang di pajang di lantai ini hingga membuatnya terhanyut.


"Ayo kita kembali Ms.Tria dan simpan sepatu ini untuk saya ya."ujar Sisi.


"Baik Nona." kata Tria lalu menuntun Sisi kembali menuju tempat sepatu pilihannya tadi. Dia lalu mengantar Sisi ke tempat sepatu laki-laki dimana Rain berada.


🐾🐾


▢️ Bonus visual untuk veil Sisi



author sedang melakukan riset jadi sekalian nyari visual untuk hari bahagia mereka 😊.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


hola readers πŸ‘‹

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


enjoy the reading πŸ€— πŸ’


__ADS_2