
Pagi harinya.
Rain bangun lebih dulu. Dilihatnya Sisi yang masih terpejam dengan lelap menghadapnya.
"Hanya karena satu malam bersamanya aku merasa dekat dengannya dan ingin terus disampingnya."ucapnya dalam hati.
"Padahal banyak sekali wanita yang bergelayut padaku, menggodaku dan dengan sengaja datang menyerahkan dirinya padaku. Tapi dia justru berbeda. Sikapnya sangat lugas seperti menganggap semua laki-laki dan perempuan sama."Rain masih berkutat dengan hatinya.
"Tuan kan sudah membeli saya." kata itu terngiang di kepalanya.
"Iya aku sudah membelimu. Dan kau hanya milikku."kata hatinya membenarkan egonya.
Dia memainkan rambut Sisi yang masih tertidur dengan diam-diam mencuri cium bibirnya. Sisi masih diam tertidur dengan pulas. Melihat Sisi yang tak bereaksi Rain semakin berani.
Dia mencium leher Sisi dengan kuat dan mencoba membuka tali pita bajunya. Sisi yang merasa sakit dilehernya terbangun. Dilihatnya Rain sudah melepas pita bajunya hingga terbuka bagian atasnya. Dia terkejut lalu bangun dan menutup bajunya dengan tangannya.
"Tuan mau apa?"tanyanya yang masih terkejut.
Rain tersenyum jahil dan membelai wajah Sisi. "Aku mau kamu."ucapnya.
Sisi terkejut mendengar ucapan Rain.
"Tuan kan sudah berjanji tidak akan melakukan apapun semalam."tukas Sisi.
"Aku kan berjanji untuk semalam, sekarang sudah pagi." timpal Rain.
"Seperti katamu. Aku kan sudah membeli mu." imbuh Rain. Sisi tak bisa bergeming lagi mendengar perkataan Rain yang memang benar.
Rain terus memberanikan aksinya. Direngkuhnya bahu Sisi dan diangkatnya dagu lancipnya, dengan lembut diciumnya bibir Sisi. Sisi menerima ciuman Rain.
"Kau harus sering belajar melakukannya." bisik Rain pada Sisi yang merasa ciuman Sisi masih kaku. Sisi tersipu mendengar perkataan Rain. Dia merasa aneh, hanya karena sentuhan bibir Rain yang terasa manis dia tidak menolaknya. Kemana dirinya yang dengan kuat menolak Rain malam itu.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya."bisik Rain sembari menyingkap baju tidur Sisi.
Sisi merasa ragu dan bingung, "Tuan.. tolong pelan. Saya masih merasa sakit."ungkapnya.
Rain tersenyum tertawa kecil mendengar perkataan Sisi. Dia lalu mencium tulang selangka Sisi yang masih ada ukiran tanda merah darinya. Ciumannya lalu turun ke bawah hingga Sisi merasa seluruh aliran darah menuju pada setiap titik di mana Rain mengecupkan bibirnya.
Sisi menahan suaranya agar tak keluar. Rain benar melakukannya dengan pelan dan dengan sabar Sisi mengimbanginya hingga mereka mencapai puncaknya masing-masing. Nafas mereka sama-sama tersengal karena menahan suara agar tak keluar. Rain lalu mendekap Sisi dan mengecup bahunya layaknya seorang pasangan yang sedang dimabuk asmara.
...* * *...
Hari berikutnya. Di kantor.
"Presdir. Asisten Coky sudah menunggu di dalam."kata Silvi yang melihat Bosnya baru saja datang. Sisi yang mendampinginya lalu duduk di kursi samping sekertaris seperti biasanya.
"Asisten Sisi anda terlihat pucat. Apa anda sakit?" tanya Evi melihat wajah Sisi yang sudah putih itu menjadi sayu.
"Iya asisten Sisi. Apa karena kunjungan ke luar kota anda kelelahan?"timbrung Silvi.
"Iya mungkin aku kelelahan."kata Sisi membenarkan omongan mereka.
Sementara di dalam ruangan.
Dengan wajah sumringah Rain menghampiri meja kerjanya.
"Apa kau sudah sembuh asisten Coky?"tanya Rain.
"Bagaimana dengan kakimu sekarang? Aku kan belum memberimu ijin masuk kerja."ujar Rain.
Coky menatap wajah Bosnya dengan heran. Mana mungkin tuannya membiarkannya berbaring lebih lama. Dan apa-apaan muka yang bercahaya itu? Coky bergumam dalam hati.
"Apa sekarang kau jadi tidak bisa mendengar setelah kakimu tertembak?"pertanyaan Rain menyadarkan Coky.
__ADS_1
"Maaf Tuan."Coky membungkuk. "Kaki saya sudah sembuh dan sekarang sudah tidak nyeri lagi."jawab Coky.
"Baiklah. Kalau begitu aku sekarang bisa memberimu tugas. Atur tempat meeting di luar kantor dan copy berkas ini untuk tujuh orang." kata Rain sambil memberikan amplop coklat berisi berkas. Dia berencana untuk mengganti para direksi perusahaan dengan orang kepercayaannya.
"Baik. Saya permisi Tuan."dia membungkuk lalu undur diri.
"Sisi, ayo ikut aku." ajak Coky pada Sisi yang sedang diluar. Sisi pun mengikuti asisten Coky.
"Bantu aku menyiapkan tempat untuk meeting tertutup diluar kantor." ucap Coky sambil berjalan menuju parkiran mobil.
"Apa kau masih sakit?"tanya Coky pada Sisi yang duduk di sampingnya.
"Kenapa?"tanya Sisi.
"Kau terlihat pucat dan memakai baju sangat tertutup."kata Coky.
"Aku baik-baik saja. Aku masih bisa menahannya."ucap Sisi.
"Paman Sam. Dia adalah ayahku. Nyonya Ratna juga sudah menceritakannya padaku. Beliau bilang kalau kalian sudah pulang kemarin jadi dengan segera aku masuk kerja pagi ini."jelas Coky singkat. Sisi sedikit terkejut mendengar bahwa paman Sam adalah ayah Coky berarti bibi Susan adalah ibunya, pikirnya.
"Kita sudah sampai. Ingat, ini adalah rapat rahasia. Ingat-ingat wajah setiap orang yang hadir. Tuan sepertinya ingin segera menjatuhkan pamannya itu."kata Coky memperingati Sisi.
"Baik. Aku mengerti."jawab Sisi.
Hari dimulainya rapat.
"Selamat datang dan selamat bergabung untuk yang hadir pada hari ini. Terimakasih karena telah setia dan mau mendukung saya, membantu dan menemani saya, untuk kedepannya saya mohon kerjasamanya lagi. Semoga kerjasama ini berjalan dengan baik sesuai yang kita harapkan."kata Rain sambil membungkukkan badan.
Mereka lalu duduk dan membahas materi meeting. Mereka yang hadir dalam rapat adalah para direksi yang akan menjadi penyokong Rain melawan Candra atas rekomendasi yang sudah diatur oleh Arman.
πΎπΎ
__ADS_1