
"Haah. Kenapa tubuhku panas sekali." gumam Sisi saat tiba di apartemen. Dia merasa badannya menjadi lemah setelah bekerja menjadi asisten berbeda saat masih menjadi seorang pelayan. Dan sekarang dia malah sibuk dengan pekerjaan kantor jadi tidak bisa ke base camp untuk melatih badannya agar tetap kuat. Dia mengganti bajunya lalu bersiap tidur.
"Sisi apa kau bisa mendengar ku? Apa kau baik-baik saja?"Coky mencoba membangunkan Sisi. Dia datang ke apartemen karena saat tiba di kantor Sisi belum datang dan dua sekertaris diluar pun tak ada yang tahu kenapa Sisi belum datang.
"Kau sakit tapi tidak memberitahu siapapun."gerutu Coky sambil mengeluarkan handphone.
Sayup-sayup Sisi mendengar orang sedang berbicara tapi dia tidak tau itu siapa karena pandangannya tak jelas.
"Dimana Sisi?"kata Luna yang datang tergesa.
"Dikamar. Lihatlah."tunjuk Coky.
"40.6β°. panggil dokter segera."perintah Luna.
"Aku sudah memanggilnya."jawab Coky. Tak lama bel pintu berbunyi.
"Itu orangnya."kata Coky lalu membukakan pintu. Dokter segera memeriksa Sisi. Dia lalu memasang infus pada tubuh Sisi dan memberikan beberapa resep obat. Dokter lalu berpamitan untuk pergi.
"Kau juga melihatnya kan?" tanya Coky yang baru datang dari luar untuk menebus obat dan membeli beberapa makanan dan minuman.
"Iya aku lihat."jawab Luna.
"Di rahang bawah dan pergelangan tangan nya. Bagian leher hanya samar. Apa Tuan Rain yang melakukannya?". Asisten Coky beropini.
"Yang aku dengar dari ayah bahwa nyonya mengatakan kalau Sisi terluka tapi tidak menceritakan detail lukanya." imbuhnya.
"Lalu apa tanda merah itu juga termasuk luka yang Tuan Rain buat?"Luna bertanya dengan senyum jahil.
__ADS_1
"Apa kau mau mencoba membuatnya dengan ku?" timpal Coky dengan senyum jahil juga. Luna seketika terdiam lalu memalingkan muka mendengar perkataan Coky.
Coky tertawa kecil melihat reaksinya. "Untuk yang itu adalah urusan bos sendiri. Jika dia tidak bercerita apapun padaku berarti dia akan mengurusnya sendiri." ujar Coky.
"Jika benar bos yang melakukan, berarti daya tariknya sangat kuat."kata Luna sambil membuka camilan yang dibeli Coky.
"Tapi aku malah merasa kasihan padanya."imbuhnya lagi.
Saat mereka sedang dalam diam handphone Coky bergetar.
"Ya tuan?"jawab Coky.
"Apa kau pergi ke bulan? Kembali sekarang!" perintah Rain.
"Baik Tuan. Saya segera datang."jawab Coky.
Rapat dewan direksi dimulai. Rain, Candra, Arman, Rendra dan direktur lainnya menghadiri rapat. Penentuan pemimpin perusahaan ditentukan melalui poling dan penggabungan saham untuk kadindat yang terpilih. Candra dan Rain mereka adalah kadindat yang terpilih. Direksi yang lain ikut menambahkan saham perusahaan kepada keduanya.
Rain menjadi direksi dengan poling tinggi karena kerjasamanya dengan Arman. Keputusan terakhir saham dari Rendra yang akan menjadi penentu CEO selanjutnya. Rendra memberi sahamnya kepada Rain hingga membuat Rain menjadi unggul dari Candra dan posisi CEO dipegang oleh Rain saat ini.
Diruang kerja Rain.
"Kemana dia? Tak ada pemberitahuan tidak masuk kerja. Bahkan tidak ada yang tau kabarnya."Rain menggerutu sendiri sambil merasa gelisah.
"Kemana pula Coky ini. Menjemput satu orang saja hampir dua jam."dia berdiri sambil menahan emosi. Lalu tak lama setelah dia menelepon.
"Maaf Tuan saya baru datang."kata Coky sambil membungkuk.
__ADS_1
"Mana Sisi?"tanya Rain sambil melihat ke belakang.
"Mm.. dia sedang sakit dan sekarang sedang dirawat di apartemennya."jawab Coky sedikit ragu. Rain mengernyitkan dahi sedikit terkejut mendengarnya. Kini hatinya makin penasaran dengan keadaan Sisi tapi dia tak bisa menunjukkan kekhawatiran itu.
"Baiklah. Ayo kita bekerja lagi."ucapnya menyibukkan diri. Coky lalu mengangguk mengikuti perintah.
"Tuan ini berkas yang harus ditandatangani."
Coky memberikan berkas laporan.
"Letakkan." kata Rain. Coky meletakkannya di atas meja lalu pergi keluar. Rain lalu menghembuskan nafas panjang dan memegangi keningnya.
"Bisa gila aku."gumamnya.
"Tuan ini ada yang harus ditandatangani."asisten Coky kembali masuk sambil meletakkan beberapa map berkas.
Rain menghela nafas, "apa masih ada lagi?" tanyanya.
"Ya tuan?"tanya Coky.
"Apa masih ada lagi berkas yang harus ditandatangani?"Rain mengulangi pertanyaannya.
"Ah belum tahu Tuan. Akan saya tanyakan kepada sekertaris."Coky membungkuk lalu pergi. Rain sudah beberapa kali melihat jam tangannya berharap segera selesai tugasnya.
Asisten Coky kembali memasuki ruangan, "Ini yang terakhir Tuan." ucapnya sambil meletakkan dua map berkas. Rain mengangguk dan membiarkan Coky pergi.
Pukul sembilan malam Rain menyelesaikan kerjanya dia lalu memberitahu asisten Coky untuk pulang lebih dulu karena dia akan pulang sendirian. Dia melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke sebuah apartemen yang seharian ini membuat pikirannya penuh kekhawatiran.
__ADS_1
πΎπΎ