GADIS UMPAN MILIK BOS

GADIS UMPAN MILIK BOS
BAB 125


__ADS_3

"Saya akan ambil pesanan saya sebelum jam empat." Ujar Willy dengan kemudian pamit dari toko bunga tersebut.


Angel sudah khawatir karena ini sudah lebih lima belas menit dari jam tutup tokonya. Pemilik toko bunga itu mempercayakan kunci toko kepada Angel karena Angel mengaku mengenal pemesan bunga yang akan mengambil pesanannya pukul empat dan karena hanya Willy pemesan terakhir yang belum mengambil pesanannya.


Setelah kedatangan Willy yang terlambat itu, disinilah Angel sekarang. Apartemen Willy. Dia bisa sampai di sini karena Willy menawarkan tumpangan untuk mengantarnya sampai rumah. Namun nyatanya dia di bawa lebih dulu ke apartemen milik Willy.


"Ini pemberian dari Tuan Candra." Ujar Willy pada Angel sambil menyodorkan satu gelas air putih. Pernyataannya tak ditanggapi sama sekali oleh Angel karena perempuan itu sekarang ingin memulai hidup baru tanpa ingin tahu lagi tentang Candra.


"Anda pasti lelah setelah bekerja seharian." Ujar Willy lalu meninggalkan Angel ke arah dapur dimana bagian ruangan itu masih bisa Angel lihat.


"Anda tidak masalah kan hanya memakan nasi putih bersama telur dan sosis?" Tanya Willy yang menawarkan makanan pada Angel dan tanpa menunggu jawaban dari Angel ia sudah memasak semuanya.


"Saya punya saus pedas dan saus mayo sebagai pendampingnya." Ujar Willy yang sudah meletakkan satu piring nasi lengkap dengan telur mata sapi dan sosis goreng yang sudah di potong seperti kembang. Ada satu mangkuk kecil bersekat yang diisi dengan saus tomat pedas dan saus mayonaise sebagai pendampingnya. Willy meletakkan dua porsi makanan itu, untuk Angel dan juga untuknya agar Angel tak merasa canggung untuk memakan sendiri di apartemennya.


"Maaf tadi sudah membuat anda menunggu lama. Anda pasti sudah lapar karenanya." Ujar Willy dengan tangan yang mempersilahkan Angel untuk menikmati makanannya.


Sedari tadi Angel hanya diam menanggapi perkataan yang dilontarkan oleh Willy dan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya. Dia seperti terkesiap karena semua berjalan dengan tiba-tiba dan terasa cepat. Namun ia tak ingin menyia-nyiakan makanan yang disuguhkan di hadapannya sekarang.


Jika Willy tadi benar-benar mengantarkannya sampai rumah kontrakannya mungkin sekarang ia belum bisa langsung makan untuk mengisi perutnya yang memang sudah lapar sedari tadi apalagi waktu pulangnya lebih dua puluh menit karena dipakai olehnya untuk menunggu kedatangan Willy ke toko tempatnya bekerja agar mengambil pesanannya.


Belum lagi nanti ia harus berjalan lagi untuk mencari makanan siap saji yang bisa langsung dimakan agar tak menunggu lama.


Di tengah perjalanan menuju kontrakan Angel, Willy menepikan dan memberhentikan mobilnya di depan sebuah pemakaman umum besar yang dikhususkan.


"Anda tidak keberatan kan jika saya mampir sebentar?" Tanya Willy yang lagi-lagi dijawab dengan anggukan oleh Angel.

__ADS_1


Angel tahu betul tempat itu. Dalam hatinya ikut menimang, apakah menunggu saja atau ikut untuk turun.


Setelah mengambil buket bunga dari bagasi mobil di belakang Willy kembali menghampiri Angel yang berada di kursi penumpang bagian depan lalu mengetuk kaca bagian tersebut.


"Jika anda ingin ikut boleh saja." Katanya kemudian berlalu tanpa menunggu jawaban dari Angel.


Menimang lama, setelah mengembuskan napas panjang akhirnya Angel memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Ia berjalan memasuki gerbang area pemakaman khusus yang mewah itu.


Matanya menelisik mencari keberadaan sosok Willy, laki-laki itu terlihat berdiri di antara dua pusara yang entah itu milik siapa Angel tak tahu. Kemudian ia merotasikan pandangannya mencari pusara yang selama ini tak pernah ia kunjungi sama sekali setelah menikah hingga sekarang ia telah berpisah dengan Candra.


Ia memantapkan hati berjalan ke arah pusara orang tuanya.


"Ayah, ibu.. sudah lama sekali ya." Ucap Angel terjeda yang tanpa terasa air matanya mengalir luruh.


Ternyata serindu ini dia kepada orang tuanya, ternyata serapuh ini ia di depan orang tuanya. Andaikan dulu saat masih bersama Candra ia sering mengunjungi makam orang tuanya mungkin ia akan secengeng seperti sekarang dan tak ada keberanian untuk menghadapi Candra.


Dari tempatnya berada, Willy menatap dari jauh punggung mantan nyonyanya yang terlihat membungkuk. Ia sudah tahu pasti apa yang sedang terjadi. Tangannya mengambil bunga anyelir dan bunga tulip putih masing-masing dua tangkai dari buket yang sudah ia letakkan di atas pusara di hadapannya dan membawanya melangkah menuju ke tempat Angel berada.


Tanpa suara ia meletakkan bunga itu masing-masing satu tangkai di atas dua pusara yang tengah ditengahi oleh Angel. Willy melihat jika tubuh Angel masih bergetar dan suara isakan terdengar dari tubuh wanita yang sedang bersimpuh di antara kedua pusara tersebut. Ia melepas jas formalnya lalu menangkupkan pada belakang tubuh wanita di hadapannya yang terlihat sangat lemah sekarang.


"Sudah hampir petang. Jika anda masih lama akan sampai malam nanti sampai ke rumah anda." Ucap Willy tanpa ingin mengangkat tubuh mantan majikannya itu.


Ia takut akan mengganggu Angel untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya dan memilih untuk berjalan lebih dulu.


Menunggu di dalam mobil dengan setia sudah menjadi kebiasaannya dari dulu saat bekerja untuk Angel kala itu, maka ia pun memilih hal yang sama. Sepuluh menit kemudian Angel datang dan masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Willy dari dalam.

__ADS_1


Mobil itu kemudian melaju meninggalkan area pemakaman menuju jalan kontrakan rumah Angel. Setelah terdiam lama selama perjalanan Angel merasa heran kenapa tiba-tiba saja ia sekarang sudah memasuki gang kecil ke arah kontrakannya padahal dirinya merasa belum pernah memberitahukan alamat tempat tinggalnya kepada Willy.


Gang jalan itu memang kecil namun bisa untuk masuk satu mobil dengan satu arah. Setelah parkir agak jauh dari rumah kontrakan Angel, Willy mengantar Angel sampai ke kontrakannya.


"Terima kasih." Ucap Angel.


"Terima kasih untuk semuanya." Ucapnya sekali lagi tanpa menyebutkan satu-satu apa yang sudah Willy berikan untuknya hari ini. Makan di apartemen, mengantarnya ke makam, dan jaket yang tersampir di badannya yang kini sudah ia kembalikan lagi pada Willy.


"Aku hanya punya teh. Ingin minum bersama?" Tanya Angel yang sudah membuka pintu kontrakannya dan meletakkan tas kecilnya di salah satu kursi tamu yang tersedia di sana.


Sangat sederhana dan lumayan kecil. Tapi jika untuk hidup sendirian memang terkesan luas. Itulah pandangan yang Willy dapat setelah menelisik beberapa sudut rumah kontrakan yang Angel tinggali sekarang.


Kenapa perempuan itu tidak menempati rumah bekas mendiang orang tuanya atau membeli rumah dengan uang yang ia miliki setelah pemberian gono-gini dari Candra? Willy bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Terima kasih." Ucap Willy saat Angel meletakkan secangkir teh untuknya yang ditanggapi dengan senyuman dan anggukan oleh Angel.


"Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya mohon maaf. Kenapa anda lebih memilih untuk tinggal di sini? Padahal rumah mendiang orang tua anda sudah dikembalikan semua juga termasuk mansion milik Tuan Candra sudah diberikan kepada anda." Willy penasaran apa yang membuat wanita ini terlihat ingin menyusahkan dirinya sendiri.


Terdiam sejenak setelah ikut mencecap teh yang masih panas di dalam cangkirnya Angel lalu bersuara, "entahlah. Aku ingin tempat yang jauh dari sekeliling orang-orang yang aku kenal dulu. Aku ingin lepas dari semua yang dulunya berkaitan dengan keluarga ku dan 'orang itu'. Aku ingin menyembuhkan lukaku dan traumaku dengan caraku sendiri Will." Angel menjawab tanpa menatap lawan bicaranya. Willy mengangguk-angguk mengerti, memahami keinginan mantan nyonyanya itu.


Setelah duduk terdiam hampir lama sambil menyesap tehnya yang akhirnya tandas meski tanpa camilan pendamping untuk menghargai sang pemilik rumah, Willy kemudian berpamitan untuk pulang.


"Baiklah, terima kasih untuk tehnya. Maaf jika dari tadi saya banyak menyita waktu Anda. Selamat beristirahat." Kata Willy yang sudah mengangkat tubuhnya untuk beranjak. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam lebih sembilan menit.


🐾🐾

__ADS_1


Hola readers πŸ‘‹


Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih πŸ˜πŸ’ž. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih πŸ˜˜πŸ’ž.


__ADS_2