
Rain terkekeh kecil tanpa suara. "Jangan merasa bersalah. Aku memang sedang konsultasi. Bukan salah mu juga. Malah baik kamu mengingatkan ku jadinya." Ucap Rain lalu mengusap kepala sang istri.
"Ayo tidur, sudah malam."
"Selamat datang." Luna yang dipercayakan oleh Rain bertugas untuk menyambut Arman dan Velicia tengah bersiap di depan pintu masuk utama menyambut kedatangan besan keluarga Aditama.
"Terima kasih atas sambutannya." Ucap Velicia dengan tersanjung. Pasangan suami istri itu kemudian dituntun menuju ke ruang utama rumah besar yang di sana sudah ada Nyonya Ratna, Sisi, Paman Sam dan Bibi Susan. Sedang Rain dan Coky masih bekerja di kantor perusahaan Aditama dan belum pulang.
"Selamat datang." Sapa nyonya Ratna yang berada di kursi rodanya dengan Bibi Susan yang setia di belakangnya. Setelah mempersilahkan duduk tamunya Nyonya Ratna kemudian menyuruh pelayan untuk menyiapkan jamuan sebelum makan malam dimulai.
"Terima kasih untuk makanannya." Ucap Velicia.
"Kami sangat senang jika masakan yang kami hidangkan dapat diterima." Ucap Nyonya Ratna membalas. Lalu kemudian orang-orang itu kembali berbincang dengan mengakrabkan diri masing-masing.
Sambil menurunkan isi dalam perut Armana dan Velicia diajak berkeliling diperkenalkan nama-nama sudut ruangan dalam rumah besar Aditama. Kini tibalah mereka di depan sebuah kamar yang sebelumnya sudah dijelaskan oleh Luna.
"Apa boleh kami masuk?" Tanya Armana yang antusias karena mereka sedari tadi mengobrol banyak sambil berkeliling dalam rumah besar keluarga Aditama itu.
"Maaf kalau maksud saya kurang sopan karena mungkin ini privasi keluarga kalian. Tapi saya sangat penasaran. Sewaktu dulu mendiang Andra sering bermain ke rumah kami, kami sangat terbuka bahkan dia juga menganggap rumah kami seperti rumahnya karena memang kami menyuruhnya untuk merasa seperti di rumahnya sendiri." Jelas Arman yang mendapat respon lambat untuk jawaban pertanyaannya.
"Iya, kamu benar. Bahkan saking waspadanya Andra tidak pernah membawa orang luar untuk masuk lebih dalam ke dalam rumah ini. Hanya ballroom dan ruangan depan yang sering ia pakai untuk menerima tamu dari luar." Nyonya Ratna membenarkan perkataan Arman.
"Ah kalau begitu maafkan..." Belum selesai Armana menyelesaikan kalimatnya Nyonya Ratna sudah menyela lebih dahulu.
"Masuklah. Sekarang bukan lagi masalah bukan? Kenangan memang untuk dikenang, sedalam dan serapat apapun kita mengubur dan menutupnya pasti tidak akan pernah bisa terlupakan seutuhnya." Kata Nyonya Ratna lalu mengintruksikan kepada Luna agar membuka pintu kamar yang ditempati Andra dahulu. Luna mengangguk dengan kemudian meminta Resti sang kepala pelayan untuk membukakan pintu kamar yang ditempati Andra dulu.
Setelah pintu itu terbuka semua orang terdiam di depan pintu. Belum ada yang berani untuk memajukan langkahnya ke depan untuk masuk ke dalam. Arman berdehem untuk menghilangkan keheningan itu lalu kemudian meminta izin.
"Boleh kah?" Tanya Arman menunjukkan kamar besar itu dengan ibu jarinya. Nyonya Ratna mengangguk sebagai jawaban.
Arman kemudian melangkah masuk ke dalam kamar itu, lalu pandangannya mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Dia takjub dengan tatanan dan konsep ruangan yang disebut kamar itu. Elegan, mewah dan antik.
__ADS_1
Selanjutnya Nyonya Ratna juga ikut masuk ke dalam ruangan kamar milik mendiang putranya itu dengan dada yang berdegup kencang. Masih jelas dalam ingatannya tentang kejadian malam itu yang menimpa mereka.
Terlebih saat ia melihat potret Andra dan Fariska tergantung di dinding kamar itu dengan ukuran besar. Wajah tersenyum mereka seperti membuatnya yakin bahwa mereka masih hidup namun semua hanya dalam sanubarinya. Air matanya meluncur begitu saja tanpa ia sadari.
Ia meminta kepada Susan untuk didorong mendekat ke ranjang dan meminta bantuan untuk di dudukkan di bibir ranjang tersebut. Lembut, empuk dan harum. Kesan yang ia rasakan setelah sekian lama tak menjamah ruangan itu. Meski begitu ia menyuruh pelayan khusus untuk selalu membersihkan ruangan itu. Tidak ia izinkan pelayan lain selain yang ia tunjuk dan ia percaya untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
"Di sana.." ucap Nyonya Ratna menunjuk ke arah sebuah lemari besar berpintu sambil melihat ke arah Arman. Armana yang tahu maksud dari nyonya besar rumah itu lalu berjalan ke arah yang wanita tua itu tunjuk.
"Nomor tiga, kelinci." Kata Nyonya Ratna setelah Arman masuk ke dalam walk in closet itu. Arman lalu menghitung pintu lemari yang ada di dalam walk in closet lalu membukanya dan mencari seekor kelinci.
"Ketemu." Katanya dalam hati. Ia kemudian mengotak-atik kelinci tersebut untuk dipencet, diusap dan terakhir ia putar ke samping. Saat diputar ke samping itulah kemudian ada sebuah reaksi. Lemari itu bergerak dengan bergeser ke belakang lalu menyamping. Arman lalu kembali menoleh ke arah Nyonya Ratna yang duduk sambil memperhatikannya.
Nyonya Ratna mengangguk dengan kemudian berkata, "sentuh saja apa yang ingin kau mau."
Wanita itu tahu jika tujuan Arman adalah ingin mengetahui lebih dalam tentang Andra, maka ia mempersilahkan laki-laki yang menjadi mertua cucunya itu untuk lebih masuk ke dalam. Sudah hampir tiga puluh menit Arman berada di dalam ruangan sana yang biasa orang sebut sebagai ruangan pribadi atau kamar rahasia.
Dan saat Arman masih di dalam sana Rain dan Coky telah pulang dari kantor tempatnya bekerja. Rain yang tengah selesai mandi dan berganti baju menjadi heran kenapa tak ada orang disekitar ruangan tengah. Padahal katanya mertuanya akan datang dan menginap di sini namun keadaan seperti biasanya, hening.
Hingga akhirnya diapun menyadari jika ia tidak bertemu dengan Sisi saat dia di kamar tadi. Jika orang-orang sudah tidur berarti Sisi juga sudah tidur namun di kamar tadi ia tidak melihat Sisi sedang berbaring di atas kasur.
Pikirannya kemudian menjadi panik. Dengan segera ia kembali ke kamar untuk mengambil handphonenya. Tujuannya adalah menghubungi Sisi. Hingga akhirnya setelah sambungan teleponnya dijawab Rain lalu memberikan banyak pertanyaan kepada Sisi.
"Kamu di mana?"
"Kenapa tidak ada di kamar?"
"Kamu baik-baik saja kan?"
Ada rasa khawatir dan takut pada dirinya, terlebih rasa takut yang mendominan. Takut saja jika sang ayah mertua membawa Sisi pulang tanpa memberitahu dirinya.
Sisi menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan mendengar kekhawatiran Rain. "Tenanglah. Kami di kamar ayah dan ibu." Jawab Sisi.
__ADS_1
"Ayah?"
"Ibu?"
Tanya Rain tak mengerti maksud jawaban sang istri.
"Datanglah ke bawah." Kata Sisi yang kemudian Rain tahu maksud dari perkataan istrinya itu.
Rain lalu mematikan handphonenya dengan kemudian menghela nafas panjang. Kamar utama, yang letaknya jauh dari kamar-kamar yang lain. Kamar itu dibangun dan dibuat khusus untuk penerus dan pemegang utama rumah besar dan ditempati secara turun-temurun kepada pewarisnya.
Pada nyatanya kamar itu hanyalah kamar yang dipakai untuk menyimpan banyak rahasia. Karena Rain setelah dewasa juga jadi mengerti. Selain kamar utama itu orang tuanya juga memiliki kamar lain yang ukurannya lebih kecil dari kamar utama dan letaknya tak jauh dari kamar-kamar yang lain.
Setelah menghembuskan nafasnya dengan kasar, Rain memantapkan hati untuk mendatangi tempat itu. Setelah sampai di ambang pintu ia terdiam sejenak. Melihat orang-orang juga sudah disana berkerumun menjadi satu. Armana, Velicia, Sisi, Nyonya Ratna, Bibi Susan, Luna dan Coky.
"Ayo kesini." Kata Arman yang kemudian menyadarkan dirinya dari diamnya.
Rain tersadar namun masih terdiam di tempatnya berdiri. Bukannya tak sopan namun ia masih menenangkan dirinya yang jantungnya kini berdegup kencang. Jika ia memaksa masuk takut saja sesuatu yang buruk dalam dirinya akan bangkit dan terjadi hal buruk disana.
πΎπΎ
...----------------...
Info dari author:
readers setia ku terima kasih sudah kasih support dan sajennya untuk othor. mungkin dua bulan ini othor akan jarang update banget karena kesibukan di dunia nyata. tau sendiri kan kalau lagi musim pembentukan pemilu. othornya banyak kerja lapang jadi mohon dimaklum π€π
terima kasih untuk yang selalu setia kasih like komen dan sawernya. othor usakan akan update meski tak tentu jadwal. terima kasih sekali lagi π
hola readers π
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
__ADS_1