
"Hmm.. pantas saja. Kau seperti anak rumahan." ujar Rendi.
Ya, karena memang Rehan adalah anak rumahan. Setiap dia dekat dengan seorang perempuan atau pergi jalan dengan perempuan itu maka gerakannya tak luput dari anak buah ayahnya yang mengikuti secara diam-diam. Saat kuliah bahkan sudah bekerja pun ayahnya selalu berpesan jika tidak ada niat serius untuk ke jenjang pernikahan tidak usah bermain ke rumah orang tua teman perempuannya.
Mengingat tak ada pengalaman sama sekali tentang bagaimana memulai hubungan untuk ke jenjang pernikahan dia merasa buntu. Apa harus bertanya lagi ke kakak? Dia kan sudah menikah, pikirnya.
"Tapi aku malu." katanya dalam hati.
"Heh, kenapa melamun? Kau seperti sangat kepikiran sekali." perkataan Rendi menyadarkan Rehan.
"Kau bertanya begitu padaku apakah karena sekarang kekasih mu meminta mu untuk menikahinya?" tanya Rendi dengan nada selidik.
"Ha? Aku.. tidak.. bukan begitu." jawab Rehan dengan terbata setelah pertanyaan Rendi menyadarkan dirinya. Rendi tersenyum jahil melihat reaksi Rehan yang seperti itu.
"Hoo.. jangan-jangan kau sudah melakukan sesuatu yang iya-iya ya dengan kekasih mu, jadi dia menuntut mu untuk menikahinya." seringai Rendi dengan jahil.
"Apa? Apa maksudmu? Kenapa kau sampai kepikiran jauh ke sana?" elak Rehan.
"Tapi dengan membaca situasi kemarin, yang kau menitipkan temanmu disini karena di rumah mu ada seorang perempuan sepertinya memang kau melakukan sesuatu ya kawan." Rendi mengusap-usap dagunya dengan mimik wajah mengingat kejadian kemarin.
'Blush'
wajah Rehan tiba-tiba seperti kepanasan. Padahal dugaan yang Rendi sangkakan itu tidak benar namun dia malah merasa tersipu. Setelah dipikir olehnya tingkahnya kemarin memang seperti sedang melindungi seorang kekasih agar tak diganggu oleh orang lain. Dia merasa dirinya sangat konyol, hanya mendengar pernyataan itu saja harus tersipu.
__ADS_1
"Haish.. berteman dengan mu lama-lama otak ku di isi dengan hal yang tidak waras." ujar Rehan lalu beranjak hendak keluar dari apartemen Rendi.
Rendi tertawa gelak dengan reaksi Rehan. "Hei jangan pergi dulu kawan kita belum selesai bicara." canda Rendi menyusul langkah Rehan ke arah pintu keluar.
"Rehan, baru saja aku tadi ingin mencari mu, ternyata kau disini." kata Arbre yang ternyata sudah berada di luar pintu apartemen Rehan dengan handphone yang berada di tangannya.
"Ah iya, saya tadi sedang berkunjung ke rumah teman." ujar Rehan yang sedikit terkejut karena Arbre sudah di depan pintu.
"Oh. Ah iya, aku sudah berbicara dengan putri ku dan pembicaraan kami sudah selesai. Aku mencari mu untuk membicarakannya kepada kalian." kata Arbre.
"Ah baiklah, saya akan segera masuk. Silahkan anda lebih dulu." ujar Rehan kepada Arbre dengan telapak tangan yang terbuka. Arbre pun mengangguk lalu kembali masuk ke dalam apartemen Rehan.
"Sst.. siapa? Calon mertua mu? Setelan baju yang tidak asing." ujar Rendi.
Rehan hanya tersenyum lalu pamit untuk kembali ke apartemennya.
"Velic, ada yang ingin ayah bicarakan dengan mu. Ayo dengarkan.." ujar Arbre.
"Ayah tidak akan bertele-tele, apa kau bersedia jika ayah jodohkan dengan seseorang sekarang?" tanya Arbre.
Velicia yang baru saja duduk langsung terkejut. "Apa maksud ayah?" tanyanya dengan nada sedikit tinggi.
Disaat seperti ini ayahnya membicarakan tentang perjodohan, apa jangan-jangan dia akan di jodohkan dengan Candra, pikir Velicia yang teringat bahwa dulu ayahnya pernah berkata jika Candra menginginkannya.
__ADS_1
Dan juga memungkinkan jika ayahnya kini sedang dalam ancaman Candra karena penyelidikan yang mereka lakukan jika ingin selamat maka Velicia harus menikah dengan Candra, pikirnya lagi.
Benar-benar bia dab dan serakah si Candra itu, dia berfikiran buruk yang sangat jauh dan terus mengumpati Candra dalam hatinya.
"Kau tahu kan jika Candra sedang mengancam ayah dan perusahaan ayah, dan juga dirimu Velic. Ayah ingin lepas dari dari dia baik dalam kerjasama perusahaan ataupun kehidupan pribadi. Untuk itu ayah meminta bantuan seseorang." Arbre memulai pembicaraannya kepada sang anak.
"Ku mohon kau mengerti dan pahami dulu perkataan ayah.." ujar Arbre lalu menjelaskan semua. Dari awal ancaman Candra dan niatnya meminta bantuan kepada Rehan dengan menjodohkannya.
Velicia terdiam dengan wajah datar.
Sejujurnya dia terkejut jika akan dinikahkan dengan Rehan dan lebih terkejut lagi jika Rehan adalah anak dari orang ternama yang dia sendiri juga tahu bahwa perusahaan Danbi corporation adalah perusahaan terbesar di luar negeri sana. Dia masih dalam pikiran tak percaya.
"Bagaimana velic?" Pertanyaan Arbre menyadarkan dirinya, untuk sekarang ini dia harus mengambil keputusan cepat.
Jika dia menolak, seumur hidup ayahnya dan dirinya hanya akan berada pada bayang-bayang Candra. Sudah pasti Candra tak akan melepaskan mereka hanya dengan mereka berhenti mengusut kasus kematian Subaki, pasti Candra juga akan mencari cara lain untuk menjerat mereka dengan perusahaan ayahnya. Pikirnya sangat banyak pertimbangan sekarang.
"Lalu bagaimana dengan ayah, jika perusahaan ayah diberikan kepada Rehan?" tanya Velicia dengan suara rendah seakan menahan diri untuk menangis.
πΎπΎ
...^^^----------------^^^...
hola readers π
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir ke karya saya. Buat kalian yang sempat lihat tulisan saya tinggalkan jejak kalian dengan kasih like, kalau suka tulisan saya favoritkan juga boleh, dikasih hadiah dan vote saya lebih berterimakasih ππ. Isi kolom komentar dengan kritik dan sarannya ya untuk perkembangan dan kemajuan author. Terimakasih ππ.
enjoy the reading π€ π